We Create Our Focus

No comment 1921 views

Ada banyak teman-teman marketer di tim UKHTI WARRIOR yang saling curhat di grup,

“Sudah banyak yang nanya-nanya, tapi setelah dikasi tau harganya, lalu mereka menghilang.”, atau pada bilang, “wah mahal banget mbak..”

 

Dalam penjualan, adalah sesuatu yang amat sangat biasa ketika ada pembeli yang tak sepakat dengan harga yang dibandrol oleh penjual. Adalah sesuatu yang amat sangat biasa pula ketika seorang pembeli membatalkan niatnya membeli, entah dengan alasan atau hanya mengucapkan “terima kasih ya infonya”, atau bahkan menguap begitu saja, bagaikan setetes air yang jatuh ke aspal jalanan di siang bolong.

 

Persoalannya, apakah kita mau dipusingkan oleh para calon customer yang batal membeli produk kita? Manfaatnya apa? Apakah dengan kita ngomel-ngomel, ngedumel, mengeluh, kesal, lantas para calon customer yang bilang, “wah mahal banget mbak..”  itu akan kembali lagi dan langsung membeli? Nggak kan?

 

So, kita tentu punya target penjualan. Dan banyak mengeluh, ngedumel, kesal ke para calon customer tadi, takkan berguna untuk mencapai target penjualan itu. Ada ribuan, ratusan ribu, bahkan ada jutaan calon customer baru di luar sana yang sedang menunggu iklan kita.

 

Seperti yang sering saya jelaskan di kelas offline ilmu ghaib itu, untuk mencapai sebuah target, kita perlu punya fokus utama pada strategi. Jadi, begitu fokus kita teralihkan pada perasaan nggak nyaman terhadap calon customer yang batal membeli, maka otomatis, itu akan merusak misi mencapai target kita.

 

Menjauhlah dari hal-hal yang akan menggagalkan misi kita.

 

Lagipula, kata siapa calon customer yang mengatakan, “Wah mahal banget mbak..” itu, benar-benar nggak akan membeli produk kita? Kita memahami bahwa manusia tak mungkin tiba-tiba ketika memutuskan untuk membeli sebuah produk. Itu yang selanjutnya saya sebut dengan 6 Steps Selling Effect. Mereka mungkin sedang mempelajari kita, melacak track record kita, membangun trust kepada diri kita, merayu suaminya agar mau membelikannya, bahkan mungkin mereka sedang menabung dulu untuk membeli produk kita.

 

Semuanya mungkin.

 

Jadi, berapa banyak pun calon customer yang mengatakan, “Wah mahal banget mbak..”, kita harus sadari bahwa mereka semua masih punya potensi untuk membeli produk kita. Entah besok, entah minggu depan, entah 6 bulan kemudian, mungkin mereka akan bertanya kembali, “mbak, masih jual produk yang kemarin itu ?”

 

Nah, selanjutnya terserah kita, mau fokus pada apa?

 

Salam.
Ki Jendral Nasution

 

Poster UW

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.