Utang Itu Membunuhmu

No comment 2221 views

Pernah dengar kalimat, “Merokok itu membunuhmu” ? Saya yakin pasti pernah.
Tapi, pernahkah dengar kalimat, “Utang itu membunuhmu” ? Saya yakin nggak pernah.
Karena kalimat itu memang baru saja saya bikin sebelum membuat tulisan ini.

Kenapa saya katakan “Utang itu membunuhmu” ?

 

Begini teman-teman..
Bagi orang normal, utang itu adalah sebuah beban yang sangat menyiksa. Kenapa? Karena ada sebuah perasaan tak tenang setiap kali mengingatnya. Jantung berdebar kencang saat terlintas soal utang itu. Bagi orang normal memang seperti itu. Dan semakin lama utang itu bercokol, semakin besar juga potensi merusaknya. Seseorang yang punya utang, bisa terkena psikosomatis. Penyakit fisik yang ditimbulkan dari pikiran.

 

Ada yang menurut saya lebih mengerikan daripada itu.
Saya khawatir, semakin lama seseorang itu berkutat dengan utangnya, rezekinya semakin menjauh. Kenapa? Karena ketika seseorang punya utang, biasanya fokus utamanya adalah utangnya. Sehingga, seseorang akan kesulitan membuat target capaian rezeki yang lebih tinggi.

Apalagi kalau utangnya adalah utang berbunga, yang membuat seseorang masuk ke “lingkaran setan”. Menghasilkan uang untuk melunasi bunga utang. Hasilkan uang untuk lunasi bunga utang. Begitu seterusnya entah sampai kapan.

Saya pernah ada di “lingkaran setan” itu. Konon katanya menyelesaikan masalah tanpa masalah. Tapi berhubungan dengan lembaga itu, membuat hidup saya justru makin bermasalah. Uang yang saya hasilkan terus saja saya pakai untuk membayar bunga dari pinjaman saya di lembaga “tanpa masalah” itu.

 

Alhamdulillah, Allah mengizinkan saya keluar dari lingkaran itu. Saat itu saya hanya berdoa kepada Allah agar mengeluarkan saya dari lingkaran itu. Setelah keluar dari lingkaran setan itu, saya bertekad tak akan pernah lagi berurusan dengan lembaga “tanpa masalah” itu. Bayangkan andai saya adalah orang yang bekerja dengan penghasilan tetap. Katakanlah misalnya gaji saya Rp.4juta sebulan. Untuk kebutuhan hidup, sudah habis Rp.3,7 juta. Sisa Rp.300ribu untuk bayar cicilan pinjaman. Tapi uang itu hanya cukup untuk bayar bunganya saja. Tak cukup untuk bayar cicilan pokoknya.

Bulan depan begitu lagi. Hanya sisa Rp.300ribu untuk bayar bunga pinjaman. Bulan depannya begitu lagi…bulan depannya begitu lagi…bulan depannya begitu lagi. Seterusnya seperti itu entah sampai kapan. Kondisi ini akan membuat tekanan psikis yang sangat berat. Tekanan psikis yang berat, dalam waktu yang sangat lama, akan sangat efektif menurunkan imunitas tubuh. Dan ada banyak penyakit yang bisa muncul saat imunitas tubuhya menurun.

 

Jadi, untuk teman-teman yang masih memiliki utang, saya doakan segera keluar dari lilitan utangnya. Bertekadlah untuk bekerja lebih gigih untuk keluar dari lingkaran setan itu, dan bertekadlah untuk tak berurusan lagi dengan utang. Ada 3 syarat penting agar segera keluar dari kondisi utang yang menyesakkan dada :

 

1. Berdoa kepada Allah subhanaHu wa ta’ala. Mintalah ampun kepadaNYA, dan mohon kepadaNYA agar kita bisa segera keluar dari kondisi tak menyenangkan itu.

 

2. Pastikan kita punya keran rezeki yang unpredictable. Agar kita punya rezeki yang bisa datang dari arah yang tak terduga.  Agar kita tak terjebak dengan pola rezeki yang “segitu-gitu aja”. Mau kerja jungkir balik siang malam ya penghasilannya segitu-gitu aja.

 

3. Teman-teman menjemput rezekinya dengan berbisnis, bikin target penghasilan tertentu yang jauh melampaui cicilan utangnya. Jangan fokus pada angka utangnya. Fokus pada target penghasilannya. Lalu bikin strategi-strategi penjualan yang memungkinkan kita mendapatkan target penghasilan yang kita inginkan itu. Ketika desain strateginya baik, insyaAllah hasilnya akan menyesuaikan.

 

Selamat mencoba.

Jangan lagi ada utang di antara kita

Ki Jendral Nasution

 

Konsep utang piutang dalam Islam

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 

Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution.

Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply