Tongseng Pelangi

No comment 3148 views

Saat saya membuat tulisan ini, saya sedang berada di sebuah kota kecil. Terpencil. Kota kecil ini biasanya dijadikan jalur perjalanan lintas Sumatera-Jawa. Sekitar 3 jam dari Bandar Lampung.

Kota kecil ini begitu gersang, lumayan panas, sepi, sama sekali tak menarik. Hanya ada satu mall disini. Hmmm…sorry, nampaknya terlalu besar jika disebut mall. Super market lebih tepat sepertinya.

Diatas jam 20, orang sudah enggan keluar rumah. Apalagi jika harus keluar dengan sepeda motor. Terlalu membahayakan keselamatan. Di kota kecil ini, masih berkeliaran dengan bebas para begal buas yang tak segan membunuh korban dan merampas sepeda motornya. Kota ini bernama Kotabumi, Lampung sebelah Utara.

Ada 2 hal yang menarik disini, sehingga saya masih tertarik untuk datang ; Tukang pijet langganan, dan tongseng pelangi. Andai tak ada dua hal itu, mungkin saya malas datang ke kota kecil ini.

Apa yang menarik dari tongseng pelangi?

Tenang, tak perlu membayangkan tongseng dengan warna-warni khas pelangi. Bukan karena warnanya ia disebut pelangi. Warnanya biasa saja kok. Disebut tongseng pelangi, karena warung tongseng ini ada di Jalan Pelangi.

Yang menarik dari tongseng ini adalah rasa, dan juga porsinya. Daging kambing yang berpotongan besar-besar & kuah yang sangat banyak.

tongseng

 

Di dalam kuahnya bergentayangan cabe kutu. Cabe rawit hijau yang sangat kecil ukurannya. Tapi pedasnya 2x lipat cabe rawit biasa. Seporsi tongseng ini, cukup untuk 3-4 orang. Harganya cuma Rp.25ribu.

Sesampai di Kotabumi beberapa waktu lalu, obrolan tentang tongseng dengan ibu mertua saya pun dimulai. “Yang masak sudah meninggal…” kata ibu  mertua saya.

“Wah gawat!” Batin saya. Setahu saya, memasak adalah salah satu pekerjaan yang ada di muka bumi, yang paling sulit ditiru hasilnya. Meski seseorang sudah memiliki resep sebuah masakan dengan sangat detil, bisa jadi rasanya akan sangat berbeda dengan masakan yang dimasak oleh koki aslinya. Artinya, kalau si koki tongseng itu sudah meninggal, rasa tongseng itu berpotensi besar untuk berubah dari aslinya.

Akhirnya, kemarin saya beli itu tongseng kambing!

Saya deg-degan saat akan mencoba rasanya. Sebelum beli tongseng itu, saya sudah menyiapkan mental, menurunkan ekspektasi saya terhadap rasa si tongseng kambing itu. Saya sudah berpikir bahwa rasanya PASTI akan jauh dari biasanya. Tak apalah, yang penting lidah saya tak penasaran lagi.

Jeng..jeeengg.. perlahan sendok mendekati mulut saya. Dan….Sluurpp!

Ah, ternyata rasanya TAK BERUBAH sodara-sodara!

Uwooooww..girang sekali saya. Dan siang itu, dua piring nasi + tongseng terpaksa saya hajar habis. Tak peduli pedasnya cabe rawit kutu yang berkali-kali membombardir mulut saya. Sambil makan, ada satu hal yang saya pikirkan. Pemilik sekaligus koki tongseng yang telah meninggal itu, sudah berhasil mewariskan bisnis untuk keluarganya. Salah satu indikator baiknya sebuah bisnis adalah, ia punya sistem yang bisa diwariskan. Terutama produk yang mereka jagokan itu ; tongseng.

Saya curiga bahwa si pemilik memang sudah menyiapkan kemungkinan terburuknya. Bahwa jika suatu saat dia tiada, warung tongseng itu harus tetap bisa beroperasi. Syaratnya tentu, warung tongseng itu harus punya standar kelezatan masakan yang sama.

Warung tongseng pelangi ini mengajarkan kita untuk kembali membenahi sistem bisnis kita. Yang sudah mulai jualan, segera naik level. Jualannya harus segera jadi bisnis. Yang namanya bisnis, harus bisa ditinggal. Termasuk ditinggal mati #eh. Tapi ini serius, andai kita meninggal, salah satu warisan berharga bagi anak-anak kita adalah bisnis yang sudah bisa jalan sendiri.

Sudah dulu ya, saya jadi lapar lagi…

Selamat makan, eh..selamat membuat sistem bisnis.

 

Ngobrol juga dengan saya di Twitter @Jendralgagah dan Facebook Jendral Nasution

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 

Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution.

Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply