Sell Value, Not Product

No comment 1638 views

Masih banyak sekali teman-teman yang mengeluhkan bahwa dagangannya kalah bertarung dengan para kompetitor. Rata-rata mengeluhkan, “Bang, gimana ya, kalau ada kompetitor yang banting-bantingan harga?”

Begini, ada beberapa hal yang paling penting yang nampaknya perlu kita perhatikan supaya nggak stress dan bisa menikmati bisnis kita dengan nyaman :

1. Fokus pada bisnis kita.
Yang membuat kita kerepotan dan akhirnya pusing sendiri adalah terlalu sibuk memikirkan semua yang dilakukan oleh para kompetitor. Jadi, berhentilah berfokus pada pola permainan yang diciptakan oleh kompetitor. Fokus saja pada strategi permainan kita agak kita tak terjebak dalam pertarungan melelahkan dengan kompetitor.

.

2. Berkolaborasi dengan kompetitor
Kita perlu pahami, bahwa bertarung dengan kompetitor itu melelahkan. Meski mungkin kita bisa menang, tapi tetap saja yang namanya pertarungan, yang menang akan menyakiti yang kalah. Padahal, bisnis kita tentu kita niatkan agar menjadi kendaraan kita menuju surga. Lantas, mungkinkah bisnis kita menjadi wadah keberkahan, ketika ada orang yang terzhalimi?

Jadi, berkolaborasi saja. Sesekali, rekomendasikan kepada pelanggan kita untuk membeli produk dari kompetitor. “Mbak, saya punya teman yang menjual produk yang mirip dengan ini. Mungkin bisa coba produk beliau. Bisa jadi lebih bagus dari punya saya.” 

Mungkin akan ada yang protes, “Wah bang, orderan saya masih sedikit, kalau pembeli diarahkan ke kompetitor, saya rugi dong!” Ya, logikanya begitu. Tapi aturan main rezeki yang berlaku di alam semesta ini justru sebaliknya. Ketika kita mempermudah rezeki orang lain, maka sesungguhnya kita sedang memperlancar rezeki kita sendiri. 

Saya ngomong begini karena sudah saya buktikan, semakin banyak saya membantu orang memperlancar rezekinya, eh kok malah rezeki saya yang mengalir semakin deras.

.

3. Jual value kita, bukan produk kita. 
Yang menjadi keluhan itu kalau kompetitor menjual produk dengan harga yang jauh lebih murah dari harga kita, kan? Lah, itu hak dia mau pasang harga berapapun. Selama tidak ada kesepakatan penyeragaman harga di komunitas tertentu, maka setiap orang bebas menjual sebuah produk dengan harga berapapun.Apakah harus ikut-ikutan menurunkan harga juga?Ah, saya tak tertarik dengan perang harga. Seperti yang saya katakan di atas, pertarungan atau perang itu menyakitkan. Selalu ada yang tersakiti.

Kalau kita terjebak dengan perang harga, maka kita akan terus ngedumel karena produk kemungkinan besar kita akan kehilangan banyak profit. Iya kalau setelah ikutan banting harga orderannya meledak-ledak. Kalau tetap sepi gimana? Siap-siap gulung tikar! Jadi, daripada sibuk banting-bantingan harga, lebih baik fokus pada value yang kita bisa berikan ke pelanggan. Apa manfaat yang akan dirasakan pelanggan saat berinteraksi dengan kita? Apa sih yang membuat pelanggan mau dekat-dekat dengan kita? Apa yang membuat orang mau menghubungi kita lagi? Nah, jawab saja pertanyaan-pertanyaan itu.

Saya sudah pernah cerita tentang toko besi milik ayah saya di Medan lewat sebuah tulisan di ebook Amazing Selling, yang bisa diunduh disini.  Bagaimana toko besi itu bisa bersaing tetap ramai pengunjung, meski ada banyak toko besi di sekitarnya dengan harga yang lebih murah.

Belajarlah dari produk yang namanya lukisan.

Pernahkah lihat para pelukis banting-bantingan harga lukisannya? Nggak. Para pelukis itu sangat menghargai produknya. Mereka sangat percaya diri dengan kualitas lukisannya. Sehingga, mereka nggak peduli dengan harga lukisan dari pelukis lain. Karena sesungguhnya mereka memang tak sekadar menjual lukisan. Mereka menjual nilai. Mereka menjual kepuasan.

Lukisan-Affandi-Kebun-Cengkeh-1981

Source : http://beritaseni.com/

Mereka hanya akan menjual produk mereka ke orang yang bisa menghargai tinggi produknya. Para pelukis hanya menjual lukisannya ke orang yang memang sangat tertarik dengan lukisannya.

Nah, kalau kita memang yakin dengan kualitas produk kita, belajarlah untuk memiliki sikap mental seperti para pelukis itu. Kita hanya akan menjual produk kita, ke orang yang memang sangat tertarik dengan produk kita.

 

Selamat menjual dengan kecerdasan di atas rata-rata!
Ki Jendral Nasution

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 

Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution.

Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply