Pilih Kasih Tentang Rukun Islam

No comment 160 views
 Masih agak nyambung dengan postingan sebelumnya tentang uang dan wealth mindset.
 
Saya ingin bahas sedikit tentang RUKUN ISLAM. Rukun itu adalah sesuatu yang wajib dijalankan. Dia jadi semacam pilar. Tanpa menjalankan rukun, maka tak sah amal seseorang. Misal : Rukun umrah itu ada 4, ihram, thawaf, sa’i dan tahalul. Satu saja tak dilaksanakan maka tak akan diterima ibadahnya. Karena itu mutlak.
 
Nah, mari kita bahas Rukun Islam.
 
Salah satu hadits tentang rukun Islam, adalah yang diriwayatkan oleh ibnu Umar ini :
 
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
 
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan”.
[HR Bukhari, no. 8].
 
Lalu kita kenal dengan Rukun Islam ; Syahadat, shalat, zakat, haji dan puasa ramadhan. Dan kita tau bahwa ini menjadi menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menunaikannya.
 
Tapi, jujur ya…saya merasa ada ketidakadilan dalam penunaian kelima rukun itu. Ya, saya merasa ada semacam “pilih kasih” dari kita selama ini. Coba amati, semua rukun itu sangat diperhatikan dan sangat dipaksakan untuk ditunaikan. Kecuali ZAKAT dan HAJI.
 
Let’s see.. syahadat jelaslah menjadi pintu masuk menjadi muslimnya seseorang. Tanpa bersyahadat, seseorang tak akan pernah menjadi muslim. Bahkan setelah menjadi muslim, kita wajib mengulang-ulang syahadatnya 5 kali setiap hari. Karena sangat mungkin ada hal-hal yang berpotensi merusak syahadat kita.
 
Shalat tentu sangat ditekankan. Sejak kecil kita sangat dituntut untuk bisa shalat tepat waktu. Shalat menjadi standar baiknya keIslaman seseorang. “Shalatnya rajin kok” kata calon mertua saat mempertimbangkan calon menantunya. Tak mungkin ditinggalkan. Bahkan kita sangat memaksakan untuk bisa shalat apapun kondisinya. Sudah hampir mati sekalipun kita tetap dituntut untuk shalat, meski hanya dengan isyarat mata. Kita tetap memaksakan untuk bisa melakukannya.
 
Puasa ramadhan, pun menjadi patokan baiknya keIslaman seseorang. Orang yang nggak pernah shalatpun, memaksakan untuk bisa puasa Ramadhan. Jadi semacam aib jika seseorang ketahuan makan minum saat Ramadhan tiba. Padahal bisa saja memang orang itu memenuhi alasan syar’i untuk nggak puasa ; musafir, sedang sakit, ibu hamil/menyusui dan lainnya.
 
Tapi perhatikan seperti apa ceritanya saat seseorang nggak berZAKAT dan nggak berHAJI ? Biasa-biasa saja tuh. Nggak seperti orang yang nggak shalat dan nggak puasa.
Berapa banyak muslim yang MEMAKSAKAN dirinya untuk bisa berzakat dan berhaji, seperti ia memaksakan dirinya untuk shalat dan puasa?
 
Benar memang bahwa tingkat kesulitannya berbeda. Poin pentingnya adalah seberapa kuat upaya untuk bisa menunaikannya? Yang ada, malah semacam pembenaran, “Ah, zakat dan haji itu hanya untuk orang yang mampu!”
Itu makanya kita selalu menulis “Naik haji bagi yang mampu”, di setiap lembar jawaban kalau ada pertanyaan, “Sebutkan rukun Islam yang kelima!” 
Hey! Di hadits rukun Islam itu, nggak ada kalimat zakat dan haji hanya bagi yang mampu. Posisinya sama seperti shalat dan puasa. Meski tentu saja, jika sudah diupayakan sekuat tenaga tapi tetap tak mampu juga sampai ajal menjemputnya, maka lepas sudah kewajibannya. Lha ini, jangankan mengupayakannya mati-matian sampai benar-benar mati. Ada banyak orang yang bahkan menginginkannya pun mungkin tak pernah.
 
Zakat dan haji, adalah ibadah yang secara khusus membutuhkan uang. Okelah, untuk haji bisa saja ada keajaiban ada orang kaya raya yang berbaik hati memberangkatkan kita berhaji. Tapi berapa persen kemungkinan keajaiban itu terjadi dalam seumur hidup kita? Yakin mau mengharapkan keajaiban itu? jika jawabannya nggak, berarti perlu secara serius memikirkannya.
 
Apalagi zakat, yang tak mungkin bisa menggunakan uang orang lain. Kalau tak punya uang, ya sudah tak mungkin bisa berzakat. Dan kita berlindung padaNYA dari menjadi orang yang menerima zakat oleh sebab kemiskinan.
 
Nyadar nggak sih, ada yang salah dengan pendidikan keIslaman kita selama ini? Pendidikan Islam yang cuma sibuk membahas cara syahadat, cara shalat, cara puasa. cara zakat, dan cara haji. Tapi nggak pernah ada bahasan cara AGAR BISA berZAKAT, dan cara AGAR BISA berHAJI.
 
Nggak pernah kita diajari bagaimana menjadi orang yang wajib berzakat dan terus menambah angka zakatnya, nggak pernah diajari bagaimana bisa berhaji di usia kurang dari 40 tahun. Maka tak heran sebagian besar jamaah haji adalah para sesepuh yang usianya sudah diatas 60 tahun! Itupun syukur umurnya nyampe 60 tahun.
 
Ah sudah panjang ceritanya rupanya..
 
Intinya, semoga pendidikan keIslaman ke anak-anak kita, tak seperti pendidikan keIslaman yang kita terima. Pikirkan bagaimana agar anak-anak kita sudah menjadi pemberi zakat di usia sangat muda, anak-anak kita harus bisa berhaji dengan uangnya sendiri di usia kurang dari 30 tahun.
Pikirkan bagaimana mereka bisa menunaikan arkanul Islamnya secara sempurna.
 
Itu kalau saya sih ya, entah kalau kamu…
 

Regards

 

Ki Jendral
 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 

Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution.

Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply