Muhammad Al Fatih & Mission Impossible

No comment 1427 views

Hari itu, ditengah panas padang pasir yang luar biasa membakar, Rasulullah SAW bersama para sahabatnya sedang menyiapkan hajatan besar.

Hajatan itu bernama perang Ahzaab. Sebuah perang yang diabadikan dalam Al Qur’an menjadi nama surat ; Al Ahzaab. Dikenal juga dengan perang Khandaq. Kenapa disebut Khandaq? Karena di perang ini menggunakan parit sebagai salah satu strategi perang. Sebuah usulan brilian dari Salman Al Farisi.

 

 

 

 

 

Dalam kondisi perut lapar yang melilit, tenggorokan kering kerontang..

Seorang sahabat bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, mana yang akan ditaklukkan lebih dulu. Roma ataukah Konstantinopel?”

 

Pertanyaan ini mungkin terdengar biasa saja, jika saat itu Rasulullah & para sahabat sedang dalam kondisi tenang. Mungkin sedang duduk santai menikmati teh hangat & pisang goreng, sambil menunggu Magrib.

Tapi tidak begitu. Kodisinya itu seperti telur berada di ujung jarum pentul. Mereka bahkan nggak pernah tahu, besok masih bisa bernafas atau nggak. Suasana saat itu benar-benar mencekam. Menurut anda, apa yang akan anda RASAKAN, bila besok, anda dan 2 orang teman anda, akan diserang 10 preman beringas?

 

Begitulah kira-kira yang dihadapi oleh Rasulullah & para sahabat saat itu. Mereka sedang menghadapi kondisi yang sangat sulit. Belum selesai urusan perut melilit yang masih harus diganjal batu agar perut bisa sedikit mengurangi nyanyian keroncongnya, esok hari mereka harus bersiap menghadapi pasukan musuh berjumlah 10.000 orang. 3 kali kipat dari jumlah mereka yang hanya 3000 orang. Mission Impossible, dimulai sejak detik ini..

 

Tapi simaklah betapa gagahnya jawaban Rasulullah, Latuftahannal qusthanthiiniyyatu. Falani’mal amiiru amiiruhaa. Walani’mal jaysyu dzaalikal jaysyu.“ 

“Konstantinopel akan dibebaskan. Pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin. Pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad)

 

 

 

Betapa jawaban itu memberi energi luar biasa besar bagi para sahabat yang sedang menghadapi tekanan begitu berat. Jawaban ini yang menjadi penyegar bagi para sahabat.

Hanya mereka yang beriman yang sanggup berpikir bahwa itu adalah sebuah VISI yang sangat jernih. Bila visi itu berasal dari Rasulullah, maka pastilah visi itu menjadi kenyataan.

Sebaliknya, saya bisa membayangkan, betapa orang-orang munafik itu mengolok-olok Rasulullah & para sahabat saat mendengar jawaban Rasulullah itu. “Pemimpin sama pasukan sama sablengnya!” mungkin itu komentar mereka saat itu.

 

Dan nampaknya terbukti, jawaban Rasulullah itu begitu berpengaruh pada semangat perang para sahabat. Bahwa Ahzaab, akan menjadi saksi kemenangan gemilang mereka. Hari itu, kaum muslimin menang telak!

Dan, sejak saat itu pula, para sahabat & orang-orang beriman  berlomba-lomba mewujudkan perkataan manusia paling mulia itu.. “pemimpin yang terbaik…atau prajurit yang terbaik”

 

Bersambung ke..

Muhammad Al Fatih & part II

 

 

Salam..

Ingin ngobrol dengan saya di twitter? Sila berkunjung ke @JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 

Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution.

Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply