Fans

No comment 512 views
Fans,5 / 5 ( 1votes )

>>>Seperti yg kita semua tahu, tak ada kebaikan pada sesuatu yg “terlalu”. Termasuk menyangkut urusan ngefans! deal?

>>>Tak ada yg salah dgn kekaguman pada seseorang. Hanya jika kekaguman itu mampu lahirkan jernihnya akal utk saring keburukan-kebaikan.

>>>Kita belajar dari para sahabat Rasulullah utk mampu lahirkan kekaguman yg menjaga jernihnya akal.

>>>Bagi sahabat2 Rasulullah, kekaguman pada manusia lainnya itu,hanya bila manusia itu mampu menginspirasi utk lesatkan amalan. Done!

>>>Kekaguman diantara mereka, ialah kekaguman dalam bingkai ibadah yg terkompetisi. Ya,sederhana. Selain itu, tak ada kekaguman lain.

>>>Kita belajar dari kekaguman Umar bin Khattab pada Abu Bakar ra. Jarang sepertinya yg menyadari kekaguman ini.

>>>Umar, selalu berhasrat mengungguli amal Abu Bakar. Karena beberapa kali,ia selalu kecolongan keduluan Abu Bakar.

>>>“Sudah ada yg menjamin kehidupanku..” Kata seorang nenek tua saat Umar menawarkan bantuan. Abu Bakarlah orang yg menjaminnya.

>>>Hingga suatu hari Umar menyadari, ia takkan pernah mampu menandingi amal Abu Bakar

>>>Utsman bin Affan, sahabat Rasulullah, sang jutawan yg pemalu itu,pun menaruh kekaguman pada sahabatnya; Abdurrahman bin Auf.

>>>Abdurrahman bin Auf,salah seorang konglomerat di zamannya itu punya agenda rutin; membagi hartanya pada para warga

>>>Sekali “hajatan” biasanya ia menghabiskan sekitar 40.000dinar. Sekitar 42,5Milyar lah. Disini,Utsman pernah kedapatan ikut antri!

>>>“Hai Utsman, kenapa kau masih ikut ngantri? Bukannya kau sudah kaya raya?” Tanya seseorang pada Utsman

>>>Harta Abdurrahman bin Auf itu, harta yg dibarokahi Allah” jawab Ustman. Hingga ia rela ikut antri

>>>Begitu cara mereka saling mengagumi. Selalu ada dalam bingkai kebaikan. Selalu saja ada urusannya dgn ibadah

>>>Tak ada kekaguman lain yg tak ada urusannya dgn ibadah & kebaikan. Sehingga,seluruh kekaguman selalu hasilkan jernih pikiran.

>>>Dan,begitulah memang Rasulullah, sang guru yg mendidik mereka utk selalu mengagumi seseorang dengan proporsional.

>>>Bahkan, cara Rasulullah mengajari para sahabat mengagumi beliau pun jelas sekali. Proporsional.

>>>Rasulullah tak pernah mengajarkan agar para sahabat mengagumi beliau secara berlebihan hingga hilangkan jernihnya akal.

>>>Hingga kekaguman pada Rasulullah pun hasilkan ketaatan yg jernih. Bukan membabi buta tanpa alasan logis

>>>Ketaatan mutlak yg tanpa bantahan bagi para sahabat ialah semua urusan ibadah&aqidah yg diajarkan Rasulullah. Sam’an wa tha’atan.

>>>Perhatikan.. jawaban mereka selalu berbunyi semacam ini, “Allah & RasulNYA lebih mengetahui..” Sebuah jawaban kepasrahan.

>>>Pernyataan yg penuh kepasrahan para sahabat itu sungguh menunjukkan kesiapan jalankan perintah tanpa bantahan sama sekali.

>>>Dalam urusan ibadah, Rasulullah selalu berkata, “aku yg paling baik ibadahnya”, tapi urusan dunia tak pernah sekalipun.

>>>Bahkan Rasulullah berkata, “kalian yg lebih tahu urusan dunia kalian..” Bijak sekali Rasulullah itu ya.

>>>Rasulullah dgn senang hati menerima masukan Salman Al Farisi, “saranku,kita berkemah disana saja,lebih dekat dgn sumber air”

>>>Apakah Salman yg tak menerima perintah Rasulullah “kita berkemah disini” ialah sebuah indikasi tidak taat?

>>> Tentu tidak. Kesetiaan Salman,kekaguman & kecintaannya pada Rasulullah tak perlu diragukan.Rasulullah sangat dikaguminya

>>>Itu mengapa, Salman bertanya lebih dulu, “Ya Rasululllah,apakah itu wahyu, atau hanya pendapat engkau saja?

>>>.Ketika Rasulullah menjawab, “ini hanya pendapatku..” Barulah Salman memberikan saran briliannya utk berkemah di dekat sumber air.

>>>Saran Salman sama sekali tak merusak kekaguman & kecintaan beliau pada Rasulullah.Prosedur yg telah dilakukan Salman tepat sekali.

>>>Bila saja Rasulullah menjawab “Jibril baru saja menyampaikan wahyu ini”, tentu jawaban Salman,”sami’na wa atha’na ya Rasulullah!”

>>>.Begitulah manusia-manusia mulia itu mengelola kekaguman mereka pada manusia lainnya.

>>>Begitu manusia-manusia mulia itu mengelola #MentalBlock nya. Tak semua urusan gunakan mentalblock & tak semua tanpa mentalblock.

>>>Maka,begitupun kita seharusnya bersikap. Bila ada kekaguman pada manusia, hendaknya tak hilangkan kejernihan akal.

>>> Dari sini kita bisa melihat jernih apa yg terjadi dgn kaum syi’ah yg diamuk massa di salah satu daerah di Indonesia itu,kan?

>>>Kekaguman kaum Syi’ah pada Ali bin Abi Thalib ra bagi saya aneh bin ajaib. Prinsip kita, kekaguman itu tak berbenturan dgn akidah

>>>Sedangkan kekaguman kaum syi’ah pada Ali, malah merusak akidah mereka. Karena tega melaknat para sahabat Rasulullah lainnya.

>>> Ini melanggar prinsip kekaguman.Apakah Ali ra membenci sahabat lain seperti Umar, Utsman & Abu Bakar?Demi Allah TIDAK sama sekali!

>>>Masih ingat kisah Ali yg mundur utk melamar Fathimah binti Rasulullah karena keduluan Abu Bakar & Umar?

>>>Ya,Ali mundur karena kekaguman beliau pada kedua sahabat Rasulullah itu. Ali merasa tak pantas disejajarkan dgn Abu Bakar& Umar

>>>Ali begitu mengagumi pembelaan, pengorbanan,keimanan kedua sahabat Rasulullah itu. Padahal, Umar masuk Islam 3tahun setelah Ali.

>>>Hingga Ali berlapang hati mendahulukan kedua sahabatnya itu utk melamar Fathimah

>>>Tapi,jodoh memang tak kemana. Fathimah tak mnunggu Umar & Abu Bakar.Fathimah menunggu Ali datang utk melamarnya pada Rasulullah 🙂

>>>Jadi, kekaguman kaum Syi’ah ini mengada-ada. Ali tak pernah membenci khulafaur rasyidin lainnya. Mereka yg mendramatisirnya.

>>>Begini ya, jika ayah, ibu, kakak,keluargamu dihujat,dihina oleh orang, apa yg kau lakukan? Salahkah bila kau mengamuk?

>>>Itulah yg mungkin terjadi di Indonesia kemarin. Kaum Syi’ah itu bukan sekadar menghina para sahabat. Mereka bahkan tega melaknat!

>>> Kecintaan kita sbg seorang muslim pada Rasulullah seharusnya memang berbanding lurus dgn kecintaan pada para sahabat beliau.

>>>Apa yg kau lakukan bila ada orang yg menghujat Rasulullah didepan matamu? Keterlaluan kalau kau tak menghajarnya!

>>>.Begitupun seharusnya bila ada yg menghujat bahkan melaknat para sahabat Rasulullah!

>>>Apa kau pikir menghujat sahabat Rasulullah tak menyakiti perasaan Rasulullah? Apa kau pikir itu tak membuat beliau menangis?

>>>Kau tentu ingat yg dikatakan Rasulullah pada Khalid, saat Rasulullah mendengar khalid bin Walid mencela Abdurrahman bin Auf?

>>>Tahan dirimu hai Khalid! Jangan kau cela sahabat-sahabatku! Demi Allah,bila kau miliki emas sebesar gunung Uhud, lalu..kau infakkan semuanya di jalan Allah. Demi Allah takkan sanggup menyamai segenggam/ setengah genggam kurma yg mereka infakkan!”

>>>Keras sekali Rasulullah menegur Khalid saat itu. Padahal celaan Khalid hanya kepada Abdurrahman bin Auf..

>>>Bagaimana pula reaksi Rasulullah jika Khalid mencela satu diantara; Umar, Utsman,Abu Bakar atau Ali ? Entah seperti apa marahnya!

>>>Level senioritas Abdurrahman bin Auf dibawah Umar,Abu Bakar, Utsman & Ali. Begitu hebatnya pembelaan Rasulullah pada Abdurrahman

>>>Menurutmu, apa reaksi Rasulullah nanti di akhirat saat bertemu kaum Syi’ah yg terang-terangan melaknat Umar,Utsman & Abu Bakar?

>>>Jika penasaran, berselancarlah sejenak di yutup. Para ulama syi’ah dgn mudah mengatakan, “Umar la’natullah ‘alaih”!

>>>Itu mengapa,sy pribadi menganggap syi’ah bukanlah Islam. Mereka SEKTE! Sejenis ahmadiyah,dan kawan-kawan sejenisnya.

>>> Lalu mengapa masih diizinkan di Indonesia & boleh berhaji? Karena mereka punya KTP yg bertuliskan agama : ISLAM

>>>Kembali ke topik. Kekaguman syi’ah pada Ali berlebihan. Itu membuat mereka menciptakan #mentalblock besar utk terima kebenaran.

>>>Maka, kita berlindung pada Allah dari mengagumi seseorang secara berlebihan. Kekaguman yg mampu hilangkan kejernihan akal.

>>>Walladziina aamanu asyaddu hubba lillaah..” Orang-orang yg beriman itu, kecintaannya amat sangat pada Allah. Hanya pada Allah.

>>>Maka,meletakkan kecintaan kepada manusia, sepatutnya lah tak keluar dari koridor perintah Allah SWT

>>>Biasa sajalah mengagumi & mencintai manusia, karena saat berlebihan, ia akan menciderai kecintaanmu pada Allah.

>>>Semoga Allah SWT menjaga kita dari kekaguman yg tak pada tempatnya & melewati batas kewajaran. Aamiin. :))

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.