Do What You Love !

No comment 569 views

Blog-Strategy-Monetize

 

Dahulu kala, ada seorang klien yang datang menemui saya. Sebut saja namanya Kasrun. Kasrun seorang dokter yang sedang sekolah lagi untuk menjadi seorang spesialis di bidangnya. Tapi, ada kegalauan luar biasa di dalam diri Kasrun. Andai baik-baik saja, tentu ia tak akan datang ke saya. Ada kegalauan besar di dalam dirinya, antara meneruskan program dokter spesialisnya itu, atau cukup menjadi dokter umum saja. Ia sangat tak menikmati proses menjadi dokter spesialisnya.

Saya tak perlu sebutkan alasannya tak menikmati prosesnya. Yang jelas, hanya disebut nama rumah sakit tempatnya bertugas pun, perutnya sudah mules! Silakan dibayangkan seperti apa tekanan yang dihadapinya.

Singkat cerita, waktu itu saya hanya katakan begini pada Kasrun, “Pilihannya hanya ada 2 Dok. Nikmati prosesnya, atau tinggalkan!”

Di waktu yang lain, saya mendapatkan curhat dari klien lainnya, “Pak, saya seorang pegawai di sebuah instansi pemerintahan. Tapi saya tak nyaman dengan pekerjaan saya. Saya ingin keluar, tapi bingung…” 

Bahkan pak RT di dekat rumah saya pun, pernah berkeluh kesah, ” Saya sebenarnya sudah jenuh bekerja di kantor yang sekarang. Ingin keluar, tapi khawatir. Anak-anak butuh biaya besar.” Asli ini true story! Kalau tak percaya, nanti saya kenalkan ke pak RT!

 

Kasus yang mirip seperti ini, saya yakin ada buaaanyak sekali yang berkeliaran diantara teman-teman kita, tetangga, atau keluarga kita. Ada banyak orang yang saat ini, sedang mengerjakan pekerjaan yang tak benar-benar mereka inginkan. Enak? Ya jelas nggak lah! Ibarat anda tak suka makan jengkol, tapi anda terpaksa makan jengkol seminggu penuh. Seperti apa rasanya? Yang jadi masalah, bukan karena tak ada makanan lainnya. Tapi karena entah dari mana anda punya keyakinan yang amat sangat kuat, bahwa makan jengkol bisa bikin hidup anda bahagia dan kaya raya. Aneh kan?

Kalau boleh saya menduga, biasanya alasan terkuatnya adalah, “Saya terdesak kebutuhan hidup.”,  “Saya harus menghidupi keluarga.” dan lain sebagainya.

Meskipun, mereka yang memiliki alasan seperti yang diatas, bagi saya masih lebih baik jika dibanding mereka yang sebenarnya punya keahlian, tapi bingung mau melakukan apa. Atau, mereka yang sudah sekolah tinggi-tinggi tapi pekerjaannya hanya melamar pekerjaan.

 

Ada 2 hal yang ingin saya katakan untuk anda atau siapapun yang terus mengerjakan sebuah pekerjaan, yang anda terpaksa mengerjakannya :

1.  Mungkin anda khawatir tak dapat pekerjaan baru yang penghasilannya lebih besar ? (padahal penghasilan yang sekarang juga nggak besar-besar amat :p ), jika begitu, maka saya khawatir ada yang salah dengan keimanan kita tentang rezeki Allah. Kenapa tak berani mencoba pekerjaan lainnya? Khawatir Allah tak berikan rezeki?

2. Jika kita tak berani mencoba pekerjaan baru yang mungkin lebih nyaman dengan penghasilan yang lebih besar, karena berpikir bahwa mencari uang itu SULIT, mungkin ada yang salah dengan MONETIZING INTELLIGENCE kita. Ada yang salah dengan dengan kecerdasan kita dalam mengkonversi keahlian kita menjadi sumber uang.

 

Mengerjakan pekerjaan yang tak disenangi itu punya bahaya yang mirip dengan bahaya main catur di rel kereta api. Cepat atau lambat, akan membahayakan hidup kita !

Hidup cuma sekali kawan. Jangan mengorbankan KEBAHAGIAAN hidup dengan mengerjakan sesuatu yang tak kita cintai. Ingat kisah Siti Nurbaya & Datuk Maringgi? Seperti itu pula lah seharusnya kisah cinta kita & pekerjaan kita. Jika Siti Nurbaya saja tak pernah mau dijodohkan dengan Datuk Maringgi, maka seharusnya kita pun tak pernah mau dijodohkan dengan pekerjaan yang tak kita cintai.

 

“I’m a Consultant Detective. The ONLY ONE in the world. No other job fits on me, So I INVENTED the job!” -Sherlock Holmes-

 

Salam waras!

Silakan ngobrol dengan saya di twitter @JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 

Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution.

Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply