Belajar Romantis

No comment 767 views

Dahulu, saya berpikir bahwa romantisme itu selalu tentang syair lagu cinta, puisi cinta yang menggetarkan dada, dan segala bentuk ungkapan cinta secara verbal lainnya.

Tentu tak sepenuhnya salah.

Namun, izinkan saya mengajak agar kita belajar menjadi romantis dari sosok manusia pemilik akhlaq nan sempurna yang pernah hidup di muka bumi ini, Rasulullah SAW. Bahwa Rasulullah, pun menunjukkan romantisme pada istrinya dengan ungkapan non verbal.

Mari simak beberapa fragmen dalam kehidupan Rasulullah SAW bersama istrinya..

 

romantic

 

  • Tak hadir jika tak berdua dengan ‘Aisyah

Suatu hari seorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, kami mengadakan jamuan makan. Jika berkenan, hadirlah makan bersama kami..”  kata sahabat itu.

lantas Rasulullah bertanya, “Apakah ‘Aisyah diundang juga?” begitu kira-kira tanya Rasulullah.

” Tidak ya Rasulullah, hanya para lelaki saja..”

” oh, kalau begitu semoga jamuan kalian berkah..” jawab Rasulullah tersenyum. Beliau menolak undangannya. Sahabat yang mengundang Rasulullah kemudian pulang. Beberapa saat kemudian, ia datang lagi menemui Rasulullah.

“Ya Rasulullah, kami sangat menunggu engkau. Alangkah indahnya jika engkau mau makan bersama kami.” katanya kepada Rasulullah. Rasulullah bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.

“Apakah ‘Aisyah juga diundang?” 

” jamuan ini hanya untuk kita yang lelaki saja ya Rasulullah..” 

” oh kalau begitu semoga jamuan kalian berkah & penuh kebaikan” jawab Rasulullah. Lantas sahabat ini pergi lagi. Dan tak lama, seperti sebelumnya ia kembali lagi. Karena mungkin ditanya oleh teman-temannya yang lain, “Mana Rasulullah, kok nggak diajak?” 

Untuk yang kali ketiga, sahabat itu masih mengatakan yang sama seperti sebelumnya, ” Ya Rasulullah, kami ingin sekali engkau hadir dan makan bersama kami..” 

Dan Rasulullah pun masih menanyakan pertanyaan yang sama, “Apakah ‘Aisyah diundang juga?” 

Mungkin sahabat ini berpikir, “kalau tak bersama ‘Aisyah, pasti Rasulullah nggak mau pergi..” akhirnya sahabat itu menjawab. “iya Rasulullah. Engkau boleh mengajak siapapun yang engkau kehendaki.” 

Lantas Rasulullah memanggil ‘Aisyah dan pergi bersama ke jamuan makan itu.

 

  • Mandi Bersama

Tak banyak yang bisa dituliskan pada bagian ini. Hanya ingin menuliskan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha

“Aku pernah mandi dari jinabat bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan satu tempat air, tangan kami selalu bergantian mengambil air.” (HR Mutafaqun ‘alaih).

Nah, yang sudah menikah, tentu bisa membayangkan suasana romantisnya, kan?

 

  • Menyisir Rambut

Ali bin Abi Thalib dan Anas bin Malik, menggambarkan ciri – ciri fisik Rasulullah SAW seperti ini :
“Rasulullah saw bertubuh sedang,  kulitnya cerah, tidak putih sekali namun tidak pula hitam benar. Rambutnya dapat dikatakan lurus dan agak berombak.”  

Menurut Bara’ bin Azib, katanya “Aku tidak pernah melihat rambut melampaui ujung telinga seorang pun yang lebih bagus dari (rambut) Rasulullah.” Dalam suatu riwayat lain, “Rambut Rasulullah sampai mengenai kedua bahunya.” (Hr. Muslim: 2337)

Jika rambut beliau panjang sampai melewati telinga menyentuh bahu, saya membayangkan mungkin panjangnya sekitar 20-30 cm. Rambut sepanjang itu, kalau tak disisir akan sangat berantakan. Sedangkan Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat menjaga penampilannya.

Disinilah peran sang istri. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha lah yang biasa menyisir rambut Rasulullah SAW. Bahkan ketika ‘Aisyah sedang dalam kondisi haid.

Dari Urwah : ” ‘Aisyah telah menceriterakan kepadaku bahwa dia pernah menyisir rambut Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika dia sedang haid, padahal ketika itu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang i’tikaf di masjid; beliau mendekatkan kepalanya kepadanya (‘Aisyah) dan dia (‘Aisyah) ada di dalam kamarnya, lalu ia menyisir beliau SAW.”

Kalau saya, karena rambut saya pendek dan tak perlu disisir, sebagai gantinya istri saya punya hobi mencari ketombe yang datang tak diundang.

 

  • Bepergian Bersama

Oh ya, romantisme Rasulullah tentu tak hanya kepada ‘Aisyah saja. Rasulullah selalu menunjukkan romantismenya kepada semua istrinya.

Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari)

By the way, saya kok membayangkan, adegan Rasulullah memberikan lututnya untuk Shafiyyah ini, mirip seperti membukakan pintu mobil ya? Betapa gagahnya seorang lelaki yang membukakan pintu mobil untuk wanitanya, dan yang memberikan lututnya agar istrinya mudah naik ke mobilnya, eh untanya.

 

  • Minum Dari Tempat Yang Sama

Rasulullah biasa makan & minum sepiring & secangkir berdua dengan ‘Aisyah. Untuk yang ini, saya juga sering sebenarnya makan sepiring & secangkir berdua dengan istri. Apalagi kalau di restoran mahal, kan lumayan jadi lebih hemat. #eh

Dari Aisyah Ra, ia berkata: “Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haid, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.” (HR Abdurrozaq dan Said bin Manshur, dan riwayat lain yang senada dari Muslim.)

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum di gelas yang digunakan ‘Aisyah. Beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit ‘Aisyah.(HR Muslim No. 300)

 

Kisah-kisah diatas, mungkin sering kita baca & dengar dari kajian-kajian. Semoga tulisan sederhana ini bisa mengingatkan kita lagi. Bahwa tak ada alasan untuk tak menjadi suami romantis. Karena romantis, bukan sebuah bakat dari lahir. Romantisme itu seperti matematika yang bisa dilatih. Dan pun tak harus menjadi pujanggan nan lihai merangkai kekata.

Sebab lelaki sejati itu adalah yang paling baik & paling romantis kepada istrinya.

ituh!

 

salam

Ingin berbincang dengan saya di twitter? Sila berkunjung ke twitter @Jendralgagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 

Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution.

Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply