Balada Jilbab Halal & Prinsip Covert Selling

No comment 2217 views

Alkisah, di negeri Wakakak, hidup banyak sekali brand bisnis. Negeri yang penuh persaingan bisnis di dalamnya. Di negeri itu semua brand bisnis bersaing dengan sangat seru. Ada yang bermain bersih, dan tentu juga ada yang bermain tak bersih.

Negeri Wakakak itu adalah negeri yang penduduk muslimnya terbesar di seantero jagad raya. Sehingga, tak sedikit para pemilik brand bisnis melirik pasar umat Muslim. Mereka yang terjun di pasar Muslim ini, berlomba-lomba mendapatkan perhatian pasarnya.

Sehingga tentu saja ada banyak strategi yang mereka lakukan untuk menarik perhatian pasarnya. Salah satu yang paling seru adalah tema “sertifikasi halal” dari majelis ulama di negeri itu. Biasanya yang begitu gencar mengejar sertifikasi halal dari majelis ulama itu adalah para pemilik bisnis makanan. Karena para pemilik brand makanan itu, tahu persis bahwa penduduk Muslim di negeri Wakakak sangat sadar pentingnya mengonsumsi makanan halal. Artinya, sebagian besar penduduk Muslim negeri itu hanya akan membeli dan mengonsumsi makanan yang telah mencantumkan logo halal dari majelis ulama di kemasannya.

source : islam.ru

source : islam.ru

Tapi ada yang sangat menarik perhatian belakangan ini di negeri Wakakak. Sebuah brand fashion yang cukup terkenal, sebut saja Zombro, konon telah mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikasi halal dari majelis ulama. Kenapa? Mungkin pertimbangannya adalah umat Muslim seharusnya juga memerhatikan kehalalan pakaian yang dipakainya. Dengan kata lain, pakaian yang dipakainya harus terjamin bebas dari zat yang berasal dari hewan yang diharamkan.

“Untuk produk halal bahan pembuatan emulsifiernya menggunakan tumbuhan sedangkan untuk yang tidak halal emulsifiernya menggunakan gelatin babi.” begitu kata juru bicara brand fashion itu.

Cerita ini spontan mendapat tanggapan beragam dari banyak orang. Karena tentu saja ada yang pro, dan ada yang kontra dengan iklan produk bersertifikasi halal itu.

 

***

Okeh, saya tak ingin mengomentari perbedaan pendapatnya. Karena tentu saja akan selalu ada perbedaan pendapat. Belum lagi kalau masuk ke ranah fiqh. Pasti akan lebih seru lagi perbedaan pendapatnya.

Saya hanya hendak menyoroti kisah di atas dari kaca mata penjualan, lalu nanti kita akan coba tarik benang hijaunya dengan sebuah prinsip dari Covert Selling yang biasa saya ajarkan.

Okeh, begini ceritanya pemirsa…

Yang dilakukan oleh brand Zombro dengan mengeluarkan sertifikasi halal atas produknya adalah sebuah langkah yang berani. Kalau tak ingin disebut nekad. Kenapa? Jelas karena terbukti baru saja mengumumkan sertifikasi halal produknya itu, sudah ramai reaksi pro-kontra dari banyak orang.

 

Hipotesis sok tau saya, yang dilakukan Zombro adalah sebuah upaya edukasi agar masyarakat negeri Wakakak semakin aware dengan pakaian yang dikenakannya. Bahwa bahan sebuah produk pakaian, berpotensi mengandung zat yang tak halal. Tapi tentu saja, setiap tindakan punya konsekuensi logis. Salah satu konsekuensi logis dari edukasi ini, menurut saya adalah berkurangnya kompetitor. Tentu saja saya tak paham apakah Zombro menyadari hal ini atau tidak.

Seperti produk makanan, kita tahu bahwa saat ini semakin banyak masyarakat yang sangat menghindari produk yang tak mencantumkan logo halal. Mungkin kesana arahnya. Agar nantinya semakin banyak orang yang menghindari produk fashion yang bahannya tak memiliki sertifikasi halal dari majelis ulama.

 

“Tapi kan orang jadi marah dengan brand Zombro dan nggak mau memakainya?” ucap seorang teman. Menurut saya itu reaksi emosional. Prediksi asal-asalan saya, dalam 1 -2 tahun ke depan, ketika semua orang sangat aware untuk menggunakan produk yang memiliki sertifikasi halal, maka sebagian besar brand fashion akan berlomba-lomba untuk memiliki sertifikasi halal pada produknya. Ini akan jadi semacam efek bola salju. Semakin banyak orang yang aware dengan bahan fashion halal, maka semakin banyak pula produsen fashion mengejar sertifikasi halal. Persis seperti yang terjadi pada produk makanan.

Saat sebagian besar produsen fashion berlomba mengejar sertifikasi halal, maka Zombro akan sambil tersenyum sumringah mencantumkan tagline, “Pelopor Fashion Halal!” di setiap iklannya.

 

Di dalam Covert Selling, ada sebuah prinsip yang saya sebut, “Change The Frame, Change The Game”. Cara terbaik mengendalikan permainan, adalah dengan mengubah bingkai berpikir orang-orang yang ikut bermain di permainan itu. Begitupun pasar. Cara paling efektif menguasai dan mengendalikan pasar, adalah dengan mengubah cara pandang pasar terhadap sebuah produk. Dalam hal ini, tentu saja cara pandang terhadap kehalalan sebuah produk.

Seperti yang sudah saya katakan di atas, langkah ini bukan tanpa risiko. Tentu akan ada saja risikonya. Salah satu risikonya, adalah dengan banyaknya orang yang kontra. Tapi justru dengan begitu, Zombro akan semakin mudah mengenali siapa pasarnya. Memang begitu cara kerja Customer Segmentation, kan? Semakin jelas siapa pasar kita, semakin mudah kita melempar produk ke pasar itu. Semakin ceruk pasarnya, semakin mudah pasar menyerap produknya.

 

By the way… ini cuma ocehan sok tahu saya. Tak usah dipercaya. Peduli amat lah orang punya strategi apa. Mereka punya hak menciptakan strategi apapun yang mereka inginkan. Yang penting kita juga punya strategi yang kita yakini efektifitasnya.

Wokeh, begitu saja pemirsa ocehan tak penting saya ini. Yang perlu diingat, strategi yang paling efektif itu adalah strategi yang bisa membuat sebanyak mungkin orang untuk baper. Semakin banyak orang baper, semakin berhasil strategi itu.  wakakakakak!

Salam baper!

Jendral Nasution

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 

Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution.

Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply