Memperbesar Pipa Kesaktian

No comment 1183 views

Saya praktisi bela diri. Praktisi silat. Meski baru anak ingusan di dunia persilatan. Saya bawa filosofi di dunia persilatan, di dunia bela diri, menjadi filosofi dalam keilmuan Covert Selling. Salah satunya adalah filosofi tentang kesaktian.

Begini ceritanya…

 

source : penulispro.com

source : penulispro.com

Alkisah ada seorang pemuda bernama Kasrun. Kasrun ini baru 3 bulan belajar silat. Katakanlah silat aliran Cikapundung. Suatu hari Kasrun berkelahi dengan preman di terminal Cicaheum. Bag bug plak plok, singkat cerita Kasrun kalah dalam pertarungan di terminal itu!

Dengan kesal Kasrun datang ke gurunya, lalu protes. “Ternyata silat Cikapundung nggak ada apa-apanya!” Ketus Kasrun.

Dengan tersenyum, sang guru bertanya, “Ada apa Kasrun?”

“Saya baru berkelahi dengan seorang preman di terminal.  Dan saya kalah telak!” jawab Kasrun masih kesal.

 

 

“Oh begitu. Mau kah kamu kembali ke terminal, dan membawa preman yang mengalahkanmu kesini?” Tanya gurunya. Awalnya Kasrun enggan, tapi setelah lama berpikir, akhirnya Kasrun berangkat ke terminal. Menemui preman yang mengalahkannya itu. Entah apa yang dikatakan Kasrun kepada preman itu, hingga sang preman mau datang ke rumah sang guru.

 

Setelah sampai di rumah Ki Naga Geni, guru Kasrun, sang preman bertanya, “Ada apa saya diminta datang kesini?”

“Begini kang preman, kemarin murid saya ini bertarung dengan anda dan kalah. Lalu dia berkata bahwa silat Cikapundung tak ada apa-apanya. Nah, saya mengundang anda kemari, memohon dengan segala hormat untuk bertarung kembali. Dengan murid saya yang lain. Anda bersedia? ” Tanya Ki Naga Geni.

 

“Baik saya siap” jawab sang preman.

Ki Naga Geni lalu memanggil seorang muridnya yang lain. Namanya Udin. Udin bisa dibilang kakak seperguruan Kasrun. Udin sudah 2 tahun latihan silat kepada Ki Naga Geni.

“Baik. Aturan pertandingannya sederhana. Kang preman boleh melakukan apapun untuk menjatuhkan Udin. Sekali saja Udin jatuh, maka kang preman keluar sebagai pemenang. Sebaliknya kalau kang preman yang jatuh, maka Udin yang menang. Siap? Pertarungan dimulai!” Kata Ki Naga Geni.

Sang preman mulai menyerang Udin dengan gerakan-gerakan yang lincah. Pukulan dan tendangan dilancarkan ke kepala dan tubuh Udin. Tapi tak ada satupun pukulan yang mengenai Udin. Tangan dan kakinya bagai menyapu angin saja. Padahal Udin pun tak menghindar terlalu heboh. Setelah berkali kali menendang dan memukul tak ada yang mengenai sasaran, sang preman mulai kewalahan. Dia ngos-ngosan. Melihat lawannya mulai kepayahan, Udin merangsek maju, bergerak ke arah kanan secepat kilat. Wusshh! Tangan Udin nyantol di leher sang preman. Udin menarik leher sang preman dengan tarikan spiral. Memutar. Dan dalam 1 detik, sang preman terjengkang. Pantatnya menghantam lantai. Matanya membelalak. Seketika ia sulit bernafas. Mungkin shock berat.

“Yak, Udin yang menang.” seru Ki Naga Geni.

Sang preman masih tampak shock. Dia tak mengerti bagaimana tiba-tiba dia bisa terbanting. Dia memang merasa ada yang memegang lehernya. Tapi tak menyadari kenapa bisa terhempas kuat begitu. Tanpa diduga, sang preman menyatakan ketertarikannya belajar silat Cikapundung. Dan pensiun dari dinas premanisme.

 

“Bagaimana Kasrun? Ternyata benar, silat Cikapundung memang tidak ada apa-apanya ya..” sindir Ki Naga Geni menepuk pundak Kasrun sambil tertawa renyah.

“Maafkan saya Ki. Saya baru menyadari kesalahan saya. Kesaktian saya lah yang belum ada apa-apanya. Seharusnya saya tidak menyalahkan silat Cikapundung ketika saya kalah bertarung. Saya kalah karena saya masih sangat baru di dunia persilatan. Saya belum punya kesaktian apapun.” Jawab Kasrun menunduk.

“ Tak masalah. Itu jadi pembelajaran. Yang penting engkau sudah menyadari bahwa semua ilmu beladiri di dunia ini bagus. Tak adayang jelek. Kalau praktisi bela diri A dan praktisi bela diri B bertarung, lalu praktisi beladiri B kalah, bukan berarti beladiri B jelek. Tak boleh ada generalisasi begitu. Bisa jadi praktisi beladiri A memang sudah sangat sakti. Sudah punya jam bertarung yang tinggi. Sedangkan praktisi beladiri B mungkin jarang latihan. Malas-malasan. Atau mungkin baru saja belajar beladiri B sehingga dia memang belum memahami prinsip beladiri B. Jika praktisi bela diri A bertarung dengan praktisi bela diri B yang lain, yang lebih senior, yang lebih rajin latihan, yang lebih sakti, pasti praktisi beladiri A yang kalah.” Jelas Ki Naga Geni.

Sejak Itu Kasrun berlatih sangat keras. Dan kelak ia dikenal sebagai pendekar berjulukan Ki Kasrun Pamungkas. Seorang pendekar sakti tak terkalahkan yang sangat rendah hati.

 

Nah begitulah kira-kira. Dalam dunia penjualan, angka rezeki kita sangat bergantung dari kapasitas kompetensi alias kesaktian kita menjual. Begitu Sunnatullahnya. Setiap rezeki itu punya keran. Setiap keran punya pipa yang mengalirkan rezekinya. Kapasitas kesaktian menjual adalah pipa-pipa rezeki kita. Jika pipanya besar, maka rezeki yang dialirkan akan menyesuaikan. Karena pada dasarnya rezeki punya sumber yang tak terbatas. Bagaimana bisa terbatas, wong rezeki datangnya dari Sang Maha Pemberi rezeki.  Sebaliknya, jika pipanya kecil, tentu rezeki yang keluar dari keran pun akan kecil.

 

Belajar ilmu penjualan apapun, tapi hanya setengah-setengah, lalu menganggap sudah menguasai semua ilmunya, dan ketika penjualannya jelek menganggap ilmu yang dipelajarinya tak bermanfaat, sungguh tidak bijak. Kalau mau adil, silakan bikin riset, berapa banyak yang belajar ilmu itu? Kalau 100 % orang yang belajar ilmu penjualan itu, mempraktikannya, namun tidak ada seorangpun yang berhasil menjual, maka silakan anggap ilmu penjualan itu tak bermanfaat.

Tapi, sebaliknya, jika banyak yang berhasil menjual, omzetnya melesat dengan ilmu penjualan itu, maka orang yang tak berhasil menjual tak bisa memberi klaim bahwa ilmu itu tak efektif.
Belajarlah dari Kasrun. Mungkin kita yang masih kurang latihan.

 

Selamat berlatih lebih serius ya, agar pipanya semakin besar 😉

Ki Jendral

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.