5 Mitos Penjualan

No comment 1079 views

 

Penjualan, bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang menakutkan. Dulu, orang yang berjualan, malah akan diidentikkan sebagai orang yang nggak punya pendidikan. Tapi sekarang? jualan justru jadi semacam tren baru. Coba perhatikan friends list akun FB anda, atau following & followers para penghuni twitterland, saya bisa pastikan ada banyak orang yang jualan. Yang nggak jualan justru nampaknya akan segera ketinggalan zaman.

 

Dibawah ini saya tuliskan 5 buah mitos dari sekian banyak mitos tentang penjualan. Here we go…

 

1. Untuk memulai menjual, harus punya modal besar. 

” Saya belum punya modal…”

” Nanti deh, saya ngumpulin modal dulu baru mulai jualan..”

Dan begitu banyak pernyataan tentang modal. Kebanyakan orang berpikir, mereka tak akan bisa jualan tanpa modal uang. Sehingga, orang yang mau mulai usaha, yang pertama kali dipikirkannya adalah modal..modal dan modal, sehingga sibuk mencari investor sambil nyanyi..

kemanaaa..kemanaa..kemanaaa…

Boro-boro usahanya mulai, yang ada waktu habis tanpa pernah mulai jualan.

Bagi saya, modal hanya diperlukan untuk mengembangkan usaha. Bukan untuk memulai. Itu yang saya alami.

 

2. Untuk bisa jago menjual, harus berasal dari keluarga penjual.

“Saya nggak punya bakat jualan, orangtua saya kan PNS..”

“Apa mungkin saya bisa jualan? dari kakek saya nggak ada darah pedagang..”

Pernyataan semacam ini pun biasa jadi penghambat seseorang untuk mulai jualan. Atau mereka yang sudah mulai jualan, tapi memutuskan pensiun dini karena sering ditolak. Alasannya ya itu, nggak ada darah pedagang jadi nggak bisa jualan.

Anda boleh survey, tanyakan pada semua pedagang sukses di sekitar anda, berapa banyak yang orangtuanya adalah pedagang? 

Saya berani pastikan nggak akan lebih dari 10%.

 

3. Harga produk terlalu tinggi tidak mungkin dijual

” Wah mbak, harga jaketnya mahal ya..kayaknya nggak akan ada yang beli deh kalau harganya segitu”

“kayanya kalau harganya segitu di kota saya kurang laku..”

Itu kalimat yang sering dikatakan orang pada istri saya saat mau jadi reseller dagangan istri saya.

Pertanyaannya sederhana, memangnya sudah pernah menawarkan ke setiap orang di kotanya, lalu mereka semua bilang mahal? Belum kan? Kebanyakan penjual sibuk mengukur harga barang dengan isi dompetnya. Akhirnya mereka pusing sendiri memikirkan siapa yang mau beli. Jualan kagak, yang ada stress. :))

Satu hal yang perlu diingat : Setiap harga itu punya pasarnya. Berapapun harga yang kita bandrol, asal sesuai antara kualitas & target pasarnya, saya jamin LAKU. Barang yang anda jual dengan murah bisa lebih laku? Kata siapa? Barang murah, kalau anda coba jual ke orang yang mementingkan harga mahal, saya jamin nggak laku. Kenapa? Karena dia alergi pakai barang murah 😀

 

4. Harus belajar di jurusan sesuai

“Kuliah saya kan jurusan sastra, mana bisa saya jualan..”

” Saya ini anak teknik, nggak mungkin saya bisa jualan..”

Anda perlu tahu, bahwa profesi sales atau penjual, adalah profesi paling tua di muka bumi ini. Karena bagi saya, menjual itu adalah fitrah manusia. Artinya, apapun latar belakang pendidikan anda, anda wajib punya kemampuan menjual untuk bisa hidup. Bahkan para karyawan yang terlihat nggak pernah menjual pun sebenarnya sedang menjual. Menjual kompetensinya, menjual waktu & tenaganya, lalu dibayar setiap bulan. Bedanya, karyawan nggak bisa suka-suka menentukan harga jualnya 😀

 

5. Harus pintar ngomong

” Jualan itu kan harus bisa ngomong, agar bisa meyakinkan orang..”

” saya suka nggak pede kalau harus ngomong saat jualan..”

Ceritanya, ada seorang penjual asuransi yang namanya Udin. Udin punya prestasi penjualan yang sangat menakjubkan. Dalam sebulan dia bisa dapat 20 orang nasabah baru. Yang membuat orang penasaran, bagaimana cara Udin menjual? Udin itu bicara saja gagap.

Ada seorang teman Udin yang penasaran dengan strategi Udin. Suatu hari dia mengikuti Udin saat melakukan presentasi ke calon nasabah. Setelah Udin selesai presentasi, wajah Udin berseri-seri karena penjualannya closing. Ia dapat nasabah baru. Temannya yang mengikuti ini, mendatangi orang yang baru saja jadi nasabah Udin tadi. Dia bertanya, 

” pak tadi gimana, jadi daftar di asuransi mas Udin?”

” oiya, jadi..”

” Apa yang membuat bapak mau gabung pak?”

” Saya capek dengerin mas Udin ngomong. Kelamaan. Daripada buang waktu, saya langsung bilang gabung sajalah..”

Temannya Udin menepuk keningnya.

 

Nah, jelas ya? Tak harus pintar ngomong untuk bisa jualan qiqiqiqiq..

Nah, masih bingung juga mau mulai jualan?

 

Salam Banjir

@JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.