5 Attitudes Of Selling

No comment 1284 views

Penjualan, bagi sebagian orang mungkin hal sepele. Tak butuh ilmu. Apa susahnya sih jualan? Tinggal pajang dagangan..” Begitu mungkin komentar orang tentang penjualan. Benar, menjual memang tak sulit. Dari dulu pun begitu-begitu saja. Tapi tanpa kompetensi, pencapaian kita pun akan begitu-begitu saja. Tanpa ada perkembangan yang signifikan. Tapi, menurut saya bukan sekadar kompetensi yang penting. Ada yang jauh lebih penting dari kompetensi ; Attitude. Ya, Sikap.

Bagi saya, attitude jauh lebih penting dari sekadar kompetensi. Karena bisa jadi, ia tak dibentuk sehari-dua hari. Apa saja attitude yang dibutuhkan oleh seorang penjual? here we go..

Selling

  • Integrity Makes You Survive

Bagi saya integritas adalah pakaiannya seorang penjual yang menutup “aurat”. Integritasnya baik, auratnya terjaga. Sebaliknya, integritasnya buruk, auratnya terbuka. Ketika seorang penjual mampu menjaga integritasnya, secara otomatis ia mampu menjaga kepercayaan orang-orang yang berurusan dengannya.

Itu kenapa, banyak pengusaha hebat yang berkata, bahwa modal sesungguhnya itu bukanlah uang. Melainkan integritas. Ketika kita punya integritas, bisa jadi kita tak perlu mengeluarkan uang untuk barang yang mau dijual. Kenapa? Karena para pemilik barang yang yang akan berbondong-bondong mendatangi kita.

Saya teringat kisah perdagangan Rasulullah Muhammad SAW. Ketika memulai karir bisnisnya, beliau memulai dari nol. Muhammad SAW bukanlah orang kaya yang punya modal besar untuk jualan. Karir bisnis Muhammad SAW dimulai dari menjadi seorang sales, penjual. Beliau mendapat kepercayaan dari para pemilik barang untuk menjual barang milik mereka. Salah satu pemilik barangnya adalah Khadijah binti Khuwailid, yang kemudian menjadi istri Muhammad SAW. Integritas Muhammad SAW dalam menjual lah yang membuat Khadijah “jatuh hati”.

Bagi teman-teman yang fokus jualan online & tak punya modal besar, ini nampaknya jadi sesuatu yang KUDU bin WAJIB dijaga. Jualan online adalah jualan di “alam ghaib”. Pembeli tak bisa bertatap muka dengan kita. Begitupun supplier. Cuma satu yang bisa menyelamatkan kita dari gulung kasur; menjaga integritas. Ya, cuma itu!

Engkau yang belum menikah, siapa tau sejarah nabi Muhammad terulang pada dirimu. Ada supplier barang yang jatuh hati pada integritasmu.. #eh

  • Flexibility Makes You Unstoppable

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa menjadi penjual adalah keterpaksaan. Pilihan terakhir. Ketika tak ada lagi profesi yang bisa menghidupi. Untuk saya tidak. Selling is my life. Saya memutuskan untuk menjadi penjual tepat setelah saya keluar dari SMA.

Saya tipe orang yang tak sanggup hidup dengan rutinitas. Mandi pagi, sarapan, pergi ke kantor, makan siang, pulang kantor, besoknya begitu lagi selama puluhan tahun hingga masa pensiun tiba.

Pikiran saya, bukan pikiran yang runut. Habis A harus B lalu C dan kemudian D.

Itu kenapa, saya memilih menjadi penjual untuk menghidupi diri & keluarga saya. Karena hanya dengan menjadi penjual saya bisa lakukan apapun yang saya inginkan. Saya bisa menjemput rezeki Allah dengan cara apapun. Strategi apapun. Suka-suka saya.

Nah, itu membuat saya mesti punya satu sikap yang nampaknya jadi nafasnya seorang penjual. Yap, sikap itu bernama ; flexibility.

Fleksibel adalah sikap berpikir & bertindak seorang penjual. Jika punya satu goal, maka seorang penjual mesti punya semboyan, “Banyak jalan menuju Mekkah

Maka, tak ada kata “mentok” dalam kamus seorang penjual. You know “mentok” ? Yes..buntu. Nggak ada ide. Bingung! Stag! Nggak…nggak boleh ada kata-kata itu dalam kepala seorang penjual. Karena seorang penjual, wajib punya “helicopter view” yang membuatnya bisa berpikir sangat cepat untuk menghasilkan ribuan cara & strategi lain. Jika satu cara gagal, coba cara lain. Gagal lagi, coba yang lain lagi.

Ini yang membuat saya sangat mencintai penjualan. Karena semakin banyak kita menjual, semakin banyak menciptakan strategi-strategi brilian, semakin jauh kita dari kepikunan..hahay!

  • Be Passionate On Your Product 

Kemarin saya dapat telpon dari calon peserta kelas privat Mind Technology Mastery di Indonesia Timur. Dia tanya, “Saya mau jualan pak. Jualan apa bagusnya ya?” 

Pertanyaan ini klasik sekali. Jualan apa yang bagus? Prinsipnya, semua jualan itu bagus. Bahkan salah seorang teman saya rela keluar dari pekerjaannya di perusahaan otomotif terkenal hanya demi jualan sampah plastik!

Ya dia rela keluar kerja hanya demi jualan sampah plastik.

Ini bukan tentang apa yang kita jual.

Ini tentang bagaimana peRASAan kita saat menjual.

Makanya saat kawan di Timur tadi bertanya tentang jualan apa bagusnya, saya langsung jawab, “Punya hobi apa?”

Menjual sesuatu yang berkaitan dengan hobi kita akan sangat membantu kelancaran jualan kita. Kok bisa?

Ya, karena perasaan kita akan selalu senang saat menjualnya.

Saat perasaan kita senang, rezeki insyaAllah lancar jaya.

Ah ya, jualan sesuatu yang berhubungan dengan hobi, insyaAllah membuat kita tak mudah tergoda dengan jualan orang lain. Karena melihat orang jualan henpon dan berpikir bahwa keuntungannya besar, lalu jadi ikut-ikutan jualan henpon.

Berlindunglah kepada Allah dari godaan jualan orang lain yang menggiurkan. Be passionate on your product!

Nikmati saja jualan kita. Makin dinikmati, makin fokus, kita akan makin menemukan celah-celah yang membuat kita semakin sakti dalam menjual produk itu.

  • Give More Will Not Make You Bankrupt

Izinkan saya bercerita sedikit tentang cara ayah & ibu saya jualan. Sebagian teman-teman mungkin sudah tau, kalau orangtua saya di Medan mengelola sebuah toko besi kecil-kecilan. Tapi yang membuat saya terkagum-kagum, ayah & ibu saya bisa berhasil membuat para pelanggannya menjadi pelanggan yang amat sangat setia sekali.

Anda pasti jarang sekali melihat pelanggan membantu penjual meladeni pembeli lain, kan?

Nah, kapan ada waktu, mainlah ke toko besi orangtua saya itu di Medan. Kita akan melihat ada pembeli yang melayani pembeli lain. Menanyakan keperluannya, mengambilkan, membungkus, sampai memberikan uang kembaliannya.

Atau, pembeli yang mengambil sendiri keperluannya, memotong kabel & kawat sendiri, menggergaji pipa sendiri, karena melihat ibu saya yang agak kerepotan berjalan. Maklum sudah tua.

Atau, tak sedikit pembeli bicara begini, “Saya melewati 3 toko besi pak sebelum kesini…” 

Apa yang membuat para pelanggan itu jadi begitu setia?

Jawabnya ternyata sederhana ; Ayah & ibu saya, selalu memperlakukan pembeli dengan perhatian LEBIH. Tak sedikit pembeli yang tadinya cuma mau beli sesuatu, malah jadi duduk, minum teh sambil ngobrol ngalor ngidul dengan ayah saya.

Sering sekali ibu saya saat mengambil paku yang dipesan pembeli sambil berkata, “Saya tambahkan ya pak pakunya..

Ayah & Ibu saya itu selalu memberi lebih pada para pelanggannya. Itu ternyata yang membuat para pelanggan jadi setia. Kata ibu saya, “Ngasi lebih itu nggak akan bikin kita miskin kok…malah makin bertambah!” 

  • The Value Is Not The Product

Pada dasarnya, saya termasuk orang yang nggak terlalu percaya bahwa “Menjual produk itu harus punya pasar dulu” . Meski tentu saja, saya tak menyalahkan bahwa, mengetahui siapa pasar produk kita, memang akan membuat jualan lebih cepat. Jelas karena orang yang mau beli sudah ada.

Well, atas dasar poin ke-2 diatas, bahwa seorang penjual adalah penakluk tantangan sejati. Jadi saya punya tantangan bagi sesiapa yang mengaku sebagai penjual ; “Beranikah menciptakan pasar untuk produk yang kita jual?”

Saya yakin jawabannya berani. Persoalannya, bagaimana caranya?

Oke, biar lebih mudah, saya akan berikan contoh..

Silakan buka link ini : https://www.facebook.com/pages/Terapi-Madu/543195902448993

Refill Madu

Page FB “Terapi Madu” itu, dikelola oleh sahabat saya; Bag Kinantan, yang juga salah seorang alumni kelas privat Mind Technology Mastery. Pada dasarnya page itu adalah page jualan madu. Tapi kalau mau dibedah, sebenarnya dia tak sekadar jualan madu. Kalau sekadar jualan madu, maka dia akan bersaing dengan ribuan pedagang madu lainnya. Maka Page “Terapi Madu” itu mencoba menciptakan ceruk pasar sendiri. Dia mencoba mengedukasi calon konsumen, agar paham semua hal tentang madu, sampai akhirnya mencoba mengarahkan agar menjadikan madu yang dijualnya sebagai media terapi. Lalu selanjutnya, refill madu, sebagai badan usahanya, akan menyediakan tim untuk membantu konsumen mencapai tujuannya.

Calon konsumen yang punya masalah dengan obesitas misalnya. Konon dengan terapi madu bisa menyeimbangkan berat badan. Karena salah satu fungsi madu adalah “fat burner“. Nah, konsumen akan dipandu, diamati & dievaluasi perkembangannya secara berkala. Sampai mendapatkan hasil yang diinginkan.

Inilah yang saya sebut dengan value. Nilai.

Merepotkan? Ya jelas. Sesuai dengan hasilnya. Kalau sekadar jualan madu, ada ribuan orang yang jualan madu. Kalau tak mau repot, jualan saja di emperan masjid seperti pedagang lainnya. Tapi kita takkan pernah punya value !

Value yang akan membantu kita menciptakan ceruk pasar yang amat sangat potensial. Coba tebak… kalau 100 orang berhasil sehat & semakin bugar dengan terapi madu, 100 orang ini akan bercerita ke berapa ribu orang?

 

Nah, selamat Jualan!

@JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.