Why Focus?

No comment 588 views
Why Focus?,5 / 5 ( 1votes )

Alkisah zaman dulu ada seorang pedagang yang baru berlabuh di sebuah kota. Dia berdagang dengan semangat. Dengan semangat & ilmu berdagangnya, dia mampu dengan cepat memperoleh keuntungan besar.

Melihat perkembangannya itu, ada seorang pendekar sakti di kota itu yang ingin mencicipi keuntungan dari sang pedagang. Si pendekar ini pun mendatangi sang pedagang untuk meminta pajak. 

Kalau si pedagang tak mau memberikan pajak, dia tak boleh berdagang lagi disana. 

Tapi si pedagang mencoba bernegosiasi pada si pendekar. Obrol punya obrol, si pendekar berkata begini, “Kau boleh berdagang disini sesukamu. Aku tak akan meminta pajak. Syaratnya, kau harus mengalahkan aku bertarung. Aku tunggu 1 bulan lagi di atas bukit itu.” kata si pendekar.

Tanpa banyak pikir, sang pedagang langsung menerima tantangan itu. 

 

Si pedagang tentu galau. 

Dia cuma seorang pedagang. Kalau ilmu berdagang bolehlah diadu. Tapi ilmu silat, mana ia mampu. 

Hari demi hari berlalu. Sang pedagang masih galau memikirkan apa yang harus ia lakukan. 

 

Di tengah kegalauannya, ia melihat burung pelatuk yang sedang mematuk pohon kayu. Burung pelatuk itu bertubuh kecil. Tapi ternyata ia mampu melubangi pohon kayu yang sangat keras. Ia memperhatikan polanya. Si burung pelatuk hanya mematuk ke satu titik, dan mematuknya berulang-ulang dalam waktu yang sangat lama. Dan hasilnya, berlubanglah pohon kayu itu.

 

Ia menemukan sebuah ide. Mulai hari itu, ia melatih sebuah pukulan. Ia membayangkan paruh burung pelatuk itu adalah tangannya. Ia memukul ke sebuah titik imajiner, lantas mengulang-ulanginya.

 

Ia berlatih sangat serius. Hari demi hari ia terus melatih pukulannya. Ia menghabiskan 8 jam dalam sehari untuk berlatih pukulan itu. Hingga tak terasa, 1 bulan berlalu. Ia harus menghadapi si pendekar, memenuhi tantangan.

Dimulailah pertarungan itu. 

 

Si pendekar mulai menyerang bertubi-tubi. Si pedagang hanya bisa menghindar. Beberapa kali pukulan & tendangan si pendekar mendarat di tubuhnya. Alih-alih ada kesempatan memukul. Si pedagang berusaha mencari celah untuk bisa menyerang. Hingga akhirnya..

 

Bukkk!”

“Brakk!” 

Sebuah pukulan sang pedagang mendarat telak di ulu hati si pendekar. Si pendekar jatuh, dan pingsan seketika. Si pedagang berhasil mengalahkan sang pendekar hanya dengan 1 pukulan !

Sejak saat itu, sang pedagang dikenal sebagai pendekar, karena ia berhasil mengalahkan seorang pendekar besar. Perdagangannya pun semakin luas. 

-tamat-

 

Ada sebuah pertanyaan penting disini.

Apa yang bisa kita maknai dari kisah diatas? 

Mungkin ada yang kesulitan, dimana letak bahasan fokus-nya?

 

Atau mungkin ada yang berpikir, bahwa letak bahasan fokusnya adalah saat si pedagang berlatih memukul ke sebuah titik imajiner.

Salahkah? Tentu tidak. Bagian memukul titik imajiner itu memang bahasan tentang fokus juga, hanya saja bukan yang paling penting. Bahasan fokus yang paling pentingnya adalah saat si pedagang melatih pukulannya. Itu dua hal yang beda. Melatih pukulan memang tak spesifik, tapi disitulah poin pentingnya. 

 

Bahasan fokus yang paling penting adalah kalimat ini ; “Hari demi hari ia terus melatih pukulannya. Ia menghabiskan 8 jam dalam sehari untuk berlatih pukulan itu”

 

Jadi kita buat saja rumus yang paling “berbahaya” dari sebuah fokus. Tentu saja rumus ini tak mungkin kita temui di buku fisika atau matematika manapun di planet ini. Karena rumus ini cuma rumus sok tau saja.

 

rumusnya begini : R = F x R x D

: Result. Hasil yang akan diperoleh

: Focus. Seperti yang kita ceritakan di atas. Adalah memberikan perhatian lebih pada suatu suatu hal. Hanya pada hal itu, tak ada yang lain. 

R : Repetition. Adalah pengulangan yang dilakukan terhadap sesuatu yang menjadi fokus.

D : Duration. Berapa lama pengulangan itu dilakukan. Seberapa sering intensitasnya. 

Hasil yang akan didapat, akan menyesuaikan dengan seberapa besar fokus diberikan pada suatu aktifitas. Lalu seberapa banyak pengulangan yang dilakukan. Hasilnya juga akan sangat dipengaruhi oleh seberapa lama aktifitas itu mendapat pengulangan. Semakin lama pengulangan itu dilakukan, semakin sering, semakin signifikan hasil yang didapatkan. 

 

Itu sebab ada teori  “10.000 hours rule” yang terkenal lewat kisah Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul “The Outliers”. Untuk menjadi seorang ahli, konon katanya, seseorang perlu memfokuskan diri dalam satu aktifitas, lalu mengulanginya dalam jumlah banyak dan waktu yang panjang. 

 

Ujungnya adalah sebuah istilah di dalam bahasan “competence levels” yang disebut“Unconscious Competence”. Sebuah keahlian yang tak perlu lagi dipikirkan untuk dilakukan. Energi yang semakin besar, sensitifitas yang sangat tinggi.

 

Nah, siap?

@JendralGagah

 

 

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply