Tidur & Produktifitas

No comment 574 views

power-nap_2693217bSebagian orang, mungkin menganggap sepele urusan tidur. Mereka menganggap, tidur itu tak perlu pola. Bagi saya, tidur wajib punya pola. Karena manusia sudah di desain sedemikian rupa oleh Allah SWT agar punya jam tidur yang tetap. Agar menjadikan tidur sebagai sumber energi terbesarnya.

“Dan karena rahmatNya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karuniaNya (pada siang hari), agar kamu bersyukur padaNYA “. [Al Qashas : 73].

 

Mari sedikit membedah, ada apa dengan tidur..

Sebagai seorang pelatih, saya banyak sekali berhubungan dengan orang-orang baru yang tak saya kenal sebelumnya. Jika interaksinya sekilas sih tak ada yang bisa diceritakan. Tapi jika sudah berlanjut interaksinya, bila berlanjut perbincangannya, sudah saling bertatap muka, baru ada sesuatu yang bisa diceritakan.

Saat berbincang dengan seseorang, saya selalu perhatikan wajahnya. Dan biasanya yang pertama kali saya perhatikan adalah warna wajahnya. Apakah merah, putih, atau biru..eh..nggak ding..maksudnya putih pucat. Jika wajahnya terlihat pucat, saya selalu iseng bertanya, “hobi bergadang ya mas?” 

Orang yang sering bergadang, berpotensi kekurangan sel darah merah. Itu kenapa saat kita bergadang, biasanya jadi lesu & tak bergairah. Karena pada dasarnya sel darah merah ini berfungsi untuk mendistribusikan oksigen ke otak. Nah, itu sebabnya yang sering bergadang akan nampak “tak 100%”, terutama dalam hal berkonsentrasi.

 

Itu kenapa saya bisa bilang, orang yang paling baik penguasaan dirinya, bisa diamati dari pola tidurnya. 

Apakah tidur harus lama? sama sekali tidak. Konon kabarnya, pak BJ.Habibie hanya tidur 2-3 jam sehari semalam. Apakah cukup? tentu saja. Karena tidur bukan soal lama. Tapi soal kualitas. Jika bicara kualitas maka kita bicara soal waktu tidur. 

Izinkan saya mengajak kita mengamati bagaimana pola tidur seseorang yang paling baik pola hidupnya, paling sehat, paling berpengaruh yang pernah hidup di jagat raya ini. Ya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. 

 

Rasulullah SAW biasa tidur setelah selesai shalat Isya. Dan bangun sepertiga malam. Kita anggap setelah Isya itu sekitar jam 21, atau paling malam jam 22. Lalu bangun sekitar jam 2 dini hari. Dari kisah perjalanan kehidupan Rasulullah, kita tahu beliau memanfaatkan jam bangun tidurnya untuk shalat malam hingga Subuh.

Secara medis, jam tidur semacam ini sangat ideal. Karena menurut penelitian, sel darah merah diproduksi oleh tubuh pada saat seseorang tidur, pada sekitar jam 21 – 00 dini hari. Artinya, yang tidur sebelum jam 00 & bangun setelah jam 00, sudah aman. Sel darah merah sudah terbentuk sempurna.

Tapi pola tidur macam ini tentu akan memberatkan bagi yang tak terbiasa. Belum lagi, Rasulullah melarang untuk tidak tidur setelah shubuh. Bahkan beliau berdoa, “Ya, Allah! Berkahilah umatku pada pagi harinya”. Dan yang tidur setelah Subuh, mohon maaf tak akan kebagian.

 

Nah, pasti muncul pertanyaan, apakah tak akan mengantuk dan mengganggu aktifitas?

Mari lanjutkan bagaimana Rasulullah melakukan aktifitas hariannya.

Setelah Subuh, beliau berzikir hingga masuk waktu Dhuha. Sekitar jam 7-8 pagi (tergantung daerah tentunya). Setelah itu beliau menunaikan shalat Dhuha. Di waktu dhuha ini, sebenarnya kita diajak me-refresh tubuh lagi dengan wudhu & shalat.

Kita tahu, saat seseorang mandi atau sekadar menyiramkan air ke anggota tubuh, terutama wajah, bisa menyegarkan. Dalam bahasan teknologi pikiran manusia, sensasi menyegarkan ini, timbul karena penurunan brainwave (gelombang otak). Sebelumnya berada di Bheta, lalu turun ke Alpha. Kondisi penurunan gelombang otak ini, seolah dijaga ketika seseorang menyambungnya dengan shalat. kondisi penurunan gelombang otak ini, secara alami akan meningkatkan konsentrasi. Di gelombang otak alpha, seseorang bisa dengan mudah punya akses ke “data storage” pikiran manusia.

Nah, jadi bisa dibilang, shalat dhuha itu adalah aktifitas pemanasan, agar tubuh dikondisikan untuk “siap tempur” melakukan segala aktifitas.

Setelah itu, menjelang waktu Zuhr, Rasulullah terbiasa melakukan Qailulah.

“Qailulah-lah kalian, karena setan tidak pernah melakukan qailulah ” ( HR Al-Thabrani )

Apa itu? Sebagian besar orang mengartikannya dengan tidur siang. Tapi bagi saya, qailulah bukan tidur.

Saat nonton film, kita mungkin pernah mendengar kalimat, “I wanna take a nap”. Apa itu “nap”? Dalam bahasa Inggris,  kita mengenal ada kata “Nap” dan ada kata “Sleep“. Keduanya memang bermakna “tidur” . Tapi “Nap” sebenarnya bukan tidur selayaknya orang tidur di malam hari. “Nap” itu tidur sangat sebentar.

Nah, bagi saya qailulah itu = nap.

Bagaimana teknisnya?

Teknisnya kira-kira persis seperti yang dipraktekkan oleh Thomas Alpha Edison, sang penemu bola lampu itu. Saat tengah hari, Edison selalu istirahat dengan mencari posisi yang nyaman agar tubuhnya bisa setengah berbaring. Bukan 100% berbaring. Edison menaruh sebuah batu di salah satu pahanya. Dan meletakkan sebuah kaleng kosong di lantai, persis di bawah pahanya. Lalu Edison mulai “take a nap”. Sekitar 10 menit kemudian, saat seluruh tubuh Edison sudah lunglay tak berdaya, batu di paha Edison itu jatuh membentur kaleng di lantai. “Prangg!” 

Edison bangun. Tidur siangnya selesai. Konon katanya, Edison selalu menemukan solusi dari setiap permasalahan seputar penemuannya, setelah “take a nap”. 

Begitu pula yang saya bayangkan dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya. Beliau selalu Qailulah menjelang Zuhur. Sebentar saja. Istilah nenek saya, “tidur ayam” karena sebenarnya, kita tak benar-benar tidur.

 

Rasulullah, tak pernah melakukan sebuah aktifitas, kecuali itu pasti punya manfaat luar biasa. Mari kita bedah..

 

brain-wave-patternsQailulah, seperti yang dilakukan Edison diatas, sebenarnya punya fungsi yang mirip dengan fungsi wudhu & shalat dhuha. Ya, menurunkan gelombang otak. Hanya saja, qailulah punya efek lebih dahsyat. Saat seseorang melakukan qailulah, sesungguhnya dia sedang menurunkan gelombang otaknya dari Bheta ke Theta. Theta adalah gelombang otak diatas Delta (tidur lelap). Theta punya hak akses jauh lebih besar ke data storage pikiran. Sehingga wajar kalau tadi Edison mampu memecahkan persoalannya setelah ia “qailulah” . Karena ada begitu banyak ide yang berloncatan saat seseorang bisa mengakses data storage pikirannya.

 

wideweb 470x318,0

Qailulah ternyata juga sudah diterapkan di berbagai perusahaan Jepang & Amerika. Sebut saja Nike, Goole, British Airways dan lain-lain. Mereka melihat dan membandingkan karyawan yang melakukan“nap” lebih fokus, lebih segar dan punya daya tahan tubuh jauh lebih baik.

David Dinges, seorang peneliti dari University of Pennsylvania School of Medicine pada tahun 80-an, membuat penelitian tentang “quick nap” ini. Dia 

bilang, “quick nap” mampu meningkatkan kinerja motorik, meningkatkan kapasitas memori, mempengaruhi efektifitas pengambilan keputusan, dan lain lain.

 

Nah, mulai sekarang, jangan main-main dengan tidur. Tidur yang salah memang menurunkan produktifitas, tapi sebaliknya.. tidur yang benar, akan melesatkan produktifitas hidup kita.

 

Selamat tidur!

@JendralGagah

 

 

 

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.