The Logical Decision Capres

No comment 455 views

Sebelumnya, izinkan saya membuat beberapa aturan di tulisan ini :

1. Saya berusaha keras membuat tulisan ini se-netral mungkin.

Kalaupun anda merasa bahwa tulisan ini mengarah pada salah satu capres, mungkin itu hanya perasaan anda saja.

Cobalah pejamkan mata sejenak, lalu katakan pada pikiran anda, “oke, mari kita pakai logika!”

2. Tulisan ini dibuat se-netral mungkin, agar siapapun, pendukung capres manapun bisa membaca dengan logikanya,

sehingga bisa menghasilkan keputusan yang juga sesuai dengan logikanya.

3. Saya mohon dimaafkan karena tak membolehkan siapapun berkomentar dengan kampanye mendukung capres tertentu.

Menggunakan simbol atau slogan tertentu yang mengarah pada capres tertentu. Tentu untuk menghindari munculnya emosi dalam bentuk apapun.

 4. Berhubung saya seorang muslim, maka mohon dimaafkan jika saya menyampaikan tulisan ini dalam perspektif seorang muslim. Jika anda non-muslim, anda boleh mengambil jika ada yang anda anggap bermanfaat.

Setuju? Kalau setuju, mari kita mulai… 🙂

Pernahkah mendengar, atau membaca sebuah guyonan di jagad dunia maya yang bunyinya kira-kira begini:

“Jangan nasehati orang yang sedang jatuh cinta & pendukung capres, karena akan buang-buang tenaga saja” 

Guyonan ini tepat.

Kenapa saya bilang tepat? Karena memang begitulah kenyataannya.

Orang yang sedang jatuh cinta, dan para pendukung capres memang akan sulit sekali menerima saran dari luar dirinya.

Pertanyaannya tentu, mengapa begitu?

Begini ceritanya…

Dalam keilmuan human mind technology yang saya geluti, pikiran manusia memiliki semacam filter yang disebut reticular activating system atau dikenal juga dengan critical area (area kritis). Sesuai namanya, salah satu fungsi area kritis ini adalah mengkritisi informasi apapun yang berasal dari luar dirinya maupun dari dalam dirinya. Sehingga secara default, keputusan yang diambil adalah keputusan yang jernih. Karena semua informasi itu telah melalui proses identifikasi, analisis, komparasi hingga akhirnya diputuskan.

Tapi, secara fitrah atau defaultnya, area kritis ini akan menjadi non-aktif, jika mulai ada intensitas emosi yang meningkat dalam diri seseorang. Semakin tinggi intensitas emosinya, semakin menurun tingkat keaktifan area kritisnya. Sehingga, hasil akhirnya adalah ; seseorang akan sangat mudahmenerima semua informasi dari faktor x yang menyebabkan emosinya meningkat, dan sekaligus menjadi sangat sulit menerima informasi selain dari faktor x tadi.

Jika sudah begini kondisinya, maka keputusan-keputusan yang diambil akan disebut emotional decision. Karena keputusannya diambil secara emosional tanpa melalui proses identifikasi, analisis dan komparasi data yang jernih oleh pikiran. Keputusan-keputusan seperti ini tentu punya potensi penyesalan yang tinggi yang biasanya hadir belakangan. Ini berlaku dalam semua aspek kehidupan. Termasuk dalam urusan memilih presiden.

Yang kita inginkan tentu sebaliknya. Kita menginginkan sebuah keputusan yang diambil setelah melalui proses identifikasi, analisis dan komparasi data yang panjang. Sehingga kita sampai pada kesimpulan yang benar-benar jernih. Sehingga kita tak akan merasa salah pilih nantinya. Keputusan inilah yang kita sebut dengan logical decision. Sebuah keputusan logis yang lahir dari hasil pemikiran yang juga logis (logical thinking).

Anda yang muslim, tentu sangat paham bahwa di dalam Islam, semua hal yang dilakukan harus menggunakan akal sehat. Sehingga ada begitu banyak ayat yang berbunyi, “Afalaa ta’qiluun?” atau yang sejenisnya. Maknanya sama, “apakah kalian tak menggunakan akal?” 

Akal dan emosi adalah dua kutub magnet yang saling tolak. Meski mereka berada di sistem kerja yang sama. Mereka takkan mungkin bisa berjalan bersama. Jika yang satu mendominasi, yang satu lagi akan menghilang.

Dan jatuh cinta, atau mendukung capres, adalah aktifitas-aktifitas yang mampu dengan mudah menaikkan intensitas emosi & menghilangkan kecerdasan logika manusia!

Maka, dalam urusan pemilihan capres Indonesia, setidaknya ada beberapa hal yang menurut saya perlu kita lakukan :

1. Berhenti sejenak mengagumi sosok capresnya ! 

Anda yang terlanjur mencintai dan mengagumi salah satu capres secara berlebihan, berhentilah dulu. Nanti kalau dia sudah terpilih, anda boleh mengaguminya lagi. Dalam Islam, kita dilarang mengagumi manusia secara berlebihan. Bahkan jika seseorang itu nabi sekalipun. Karena nabi tetaplah manusia yang berpotensi salah. Meski para nabi tentu saja langsung ditegur oleh Allah SWT ketika melakukan kesalahan. Ingat sebab turunnya surat ‘Abasa ya?  Itu mengapa Rasulullah Muhammad SAW, manusia paling mulia itu pun diperintahkan Allah SWT untuk mengatakan, “Qul innamaa anaa basyarum mitslukum yuuha..” Katakanlah hai Muhammad: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu..”  (Al Kahf : 10)

Itu juga sebab Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata lantang saat Rasulullah wafat, ” Barangsiapa menyembah Muhammad, ketahuilah Muhammad telah meninggal. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka Allah itu kekal!”

Mengagumi capres jagoan anda tentu takkan bisa dihindari. Tapi anda perlu tahu, kekaguman anda pada sang capres akan berpotensi membuat keputusan anda menjadi emosional. Karena anda akan menolak semua informasi yang datang, yang bertentangan dengan keinginan anda tentang capres anda.

Maka, sekarang, belajarlah seperti petugas pom bensin yang berkata, “dimulai dari nol ya!” pada diri anda. Mulailah me-NOL-kan perasaan anda pada capres dukungan anda. Setelah yakin sudah nol, maka anda boleh lakukan langkah selanjutnya.

2. Trekking data Setelah perasaan atau emosi anda nol pada para capres. Mulailah serius mencari data-data yang berhubungan dengan para capres. Ada beberapa tips logis dari saya untuk mencari data. Mungkin anda bisa menambahkan sendiri.

– Usahakan mencari sumber referensi berupa video. Video akan lebih bisa “bicara” daripada berita dengan tulisan. Selain itu, menurut saya video adalah media yang paling sulit untuk di edit. Kalaupun di edit, tidak akan mengubah rekaman aslinya. Sehingga keaslian dan validitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Kalaupun mau mencari data dari portal berita, pastikan mencari dari sumber yang sangat banyak. Amati detil seberapa netral media tersebut.

– Usahakan mencari data dari berita yang sudah sangat lama. Bongkar itu yutup.kom, cari video jadul tentang track record para capres. Perhatikan sepak terjangnya dalam membela bangsa & negara. Perhatikan mana yang paling mencintai bangsa & negara, dan mana yang hanya mengejar kekuasaan. Jika sumber beritanya tulisan, cari sumber berita yang sudah sangat lama. Pastikan saat berita itu muncul, mereka belum kepikiran menjadi capres. Ini akan sangat objektif.

Intinya, pastikan kita mendapat data yang menunjukkan capres yang punya kompetensi maksimal untuk memimpin Indonesia. Ada 250 juta manusia di Indonesia. Indonesia butuh presiden berkualitas tinggi. Bukan presiden abal-abal! Jika kecerdasan logika anda bagus, maka anda pasti bisa membedakan mana calon presiden yang berkualitas tinggi, dan mana yang abal-abal!

3. Gunakan hitungan-hitungan logis

Misalnya saat debat capres kemarin soal renegosiasi kontrak. Kedua pasangan capres mengungkapkan ide-ide bagus & sangat berbobot. Dari jawaban mereka itu kita bisa hitung-hitungan.

Contoh : keberhasilan pemerintah SBY dalam renegosiasi kontrak gas tangguh ( http://finance.detik.com/read/2014/06/30/142321/2623219/1034/ ).

Kata teman saya yang jago hitung-hitungan, seandainya pemerintah bisa cerdas melakukan renegosiasi, potensi pemasukan untuk APBN bisa mencapai 20.000 Triliun. Beda tipis dari APBN Amerika yang sekitar 28ribu Triliun ( http://www.kaskus.co.id/thread/51625ebd1ed7199569000000/10-apbn-terbesar-di-dunia ) FYI, data dari Kaskus ini tahun 2013, jadi aman dari unsur politis 🙂

Dengan nilai APBN sebesar itu, bisa dipastikan Indonesia jadi jauh lebih maju dari Jepang!

Nggak mungkin lagi ada anak sekolah menyeberang jembatan yang nyaris roboh!

Nggak mungkin lagi ada anak-anak putus sekolah karena tak ada biaya.

Tugas kita mendeteksi capres mana yang punya program kerja yang memperbesar kemungkinan berhasilnya Indonesia punya APBN sebesar itu!

Mana program capres yang bisa menemukan kesalahan pemerintahan sebelumnya. Apa yang salah? Ada apa dengan APBN selama ini? Kemana APBN selama ini? dan seterusnya.

Nah, hitung-hitungan semacam inilah yang perlu kita lakukan!

Logical decision itu sederhana. Cukup melakukan aksi-aksi tertentu yang mengeliminasi emosi dari diri kita. Maka kita akan dapatkan data yang benar-benar valid! Memang perlu repot-repot sedikit lah. Paling tidak repotnya sebentar. Daripada salah pilih pemimpin karena nggak mau repot, eh malah repotnya 5 tahun.

Ayo memilih presiden dengan logika!

Ayo memilih dengan akal sehat!

Salam Jernih! 

@JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply