The Leader’s Code

No comment 487 views

Bagi kita, memilih seorang pemimpin bukan urusan sederhana. Semua tindakan kita, akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat. Yang memilih & yang tak memilih tetap akan diminta pertanggungjawabannya nanti. Yang tak memilih mungkin akan ditanya, kenapa ia tak berusaha memilih pemimpin yang baik? kenapa ia membiarkan pemimpin zhalim memimpin negerinya? Yang memilih mungkin akan ditanya apa parameternya memilih pemimpin? Siapa yang jadi teladannya? dan kemungkinan-kemungkinan lainnya…

 

Bagi saya, pemimpin yang layak memimpin Indonesia, haruslah seseorang yang memiliki PERSONAL COMPETENCE yang sangat baik. Jika parameternya adalah personal competence, maka saya tak punya teladan selain nabi Muhammad SAW, sebagai seorang pemimpin terbaik yang pernah hidup di alam semesta ini.

 

Jika melihat dari kompetensi personal Rasulullah sebagai seorang pemimpin negara, setidaknya ada 3 kompetensi dasar yang wajib dimiliki seorang pemimpin :

 

 

1. Facilitating People.

 

Seorang leader wajib punya kompetensi untuk memfasilitasi orang-orang yang dipimpinnya.

Jika baca sejarah kehidupan Rasulullah & para sahabatnya, kita bisa saksikan, bahwa mereka adalah para pemimpin yang mampu menjadi problem solver dari apapun masalah orang-orang yang dipimpinnya.

 

Bahkan, klita bisa menjumpai para sahabat yang curhat pada Rasululah tentang kondisi rumah tangganya, “Ya Rasulullah, suamiku begini.. begitu..”

 

Kemampuan facilitating people ini yang menurut saya adalah kemampuan paling dasar untuk bersikap ADIL. “I’diluu huwa aqrabu littaqwa..”. Yang paling adil adalah yang paling dekat pada ketaqwaan. Karena dalam memfasilitasi orang, seringkali seorang fasilitator akan dituntut memilih mana yang benar, mana yang salah dalam sebuah conflict management.

 

Facilitating itu bagi saya juga bermakna serving, melayani. Bahwa pemimpin harus paham benar posisinya. Ia sesungguhnya adalah pelayan. Dan selayaknya pelayan, tugasnya adalah memberikan pelayanan terbaiknya.

 

Indikatornya sederhana… orang yang baik kemampuan facilitating nya itu akan disenangi banyak orang, sehingga orang selalu menantikan kehadirannya. Jadi, indikator pemimpin yang memiliki kompetensi facilitating people adalah ; berapa banyak orang yang merindukan hadirnya sang pemimpin?

 

Persis saat Umar bin Khattab ingin mengantarkan makanan pada seorang nenek tua, lalu sang nenek berkata, “tak perlu, sudah ada yang menjamin kebutuhanku setiap hari…”  Umar tahu, bahwa Abu Bakar yang saat itu menjabat sebagai pemimpin lah yang selama ini memberikan sang nenek kebutuhan hariannya.

 

 

 

 

 

2. Public Speaking. 

 

Rasulullah adalah pemimpin dengan kemampuan retorika & orasi terbaik sepanjang masa. Berapa lama para pemimpin dunia ini bisa berorasi, berpidato? adakah yang pernah berpidato seharian tanpa membuat pendengarnya bosan atau ketiduran?

 

Rasulullah pernah khutbah dari sejak habis Subuh sampai Zuhur, break shalat Zuhur, bersambung setelah Zuhur sampai Ashr, break shalat Ashr, bersambung lagi hingga menjelang Magrib. Dan tak ada satupun pendengarnya yang mengantuk, mengobrol, atau beranjak dari tempat duduknya. Adakah yang sehebat itu?

 

Tentu bukan sekadar hebat-hebatan semata. Kompetensi ini jadi penting dimiliki seorang pemimpin, karena seorang pemimpin wajib mampu menyampaikan sesuatu pada orang-orang yang dipimpinnya dengan bahasa yang lugas, sederhana, dan tentunya efektif. Indikatornya adalah pengaruh untuk menggerakkan.

 

Dalam teknisnya, kemampuan public speaking inilah yang memungkinkan seorang pemimpin mampu mendelegasikan tugas, driving performance atau menggerakkan orang yang dipimpinnya agar bisa memiliki kinerja yang diinginkan.

 

Artinya, untuk urusan teknis, bisa jadi tak harus sang pemimpin yang langsung turun tangan. Jikapun ia turun tangan, maka itu lebih karena rasa tanggung jawabnya untuk melihat sendiri seperti apa kondisinya. Umar bin Khattab memanggul sendiri karung penuh berisi gandum untuk rakyatnya. Dan beliau melakukannya di tengah gelap malam. Tentu saja tanpa liputan media.

 

 

 

 

 

3. High Integrity

 

Jika bicara integritas, salah satu yang akan kita bicarakan adalah bagaimana seorang pemimpin mendapat kepercayaan & merawat kepercayaan dari orang-orang yang dipimpinnya.

Jika begitu, seperti sebuah status di facebook yang pernah saya posting beberapa hari yang lalu, kita bisa membuat 3 indikator penting bagaimana seorang pemimpin membangun integritasnya :

 

a) Hanya berkata yang BENAR saja. Jauh dari kata-kata dusta. Dia tak pernah mengatakan sesuatu yg tak pernah dilakukannya. He walk what he talk. He talk what he walk.

 

b) Jika BERJANJI ia MENEPATI apa yang telah ia janjikan. Ia takkan pernah janjikan sesuatu yang tak bisa ia tepati.

 

c) Jika diberi AMANAH, JABATAN, KEPERCAYAAN, ia bertanggung jawab sepenuhnya. Bekerja sebaik-baiknya. MENUNTASKAN apa yang jadi amanah baginya. Berpikir bahwa amanah akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat.

 

 

 

 

 

Nah, itu calon pemimpin yang akan saya pilih untuk Indonesia.

Ikut ?

 

 

Merdeka!

 

@JendralGagah

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply