Seperangkat Roti Keju

No comment 689 views

Udin adalah seorang pemuda tampan & pekerja keras. Di usianya yang masih 24 tahun, ia sudah memiliki penghasilan yang lumayan besar dari usahanya berjualan roti. Setiap hari Udin bisa menjual sekitar 200-300 roti. Ia mengambil keuntungan dari satu roti = Rp.500, artinya Udin bisa mengumpulkan rezeki sekitar Rp.100.000 s/d Rp.150.000 setiap harinya. Berarti dalam sebulan Udin bisa mengumpulkan Rp.3juta s/d Rp.4,5juta.

 

roti keju

 

Dengan penghasilan begitu, Udin berencana untuk segera menikah. Ia ingin segera membangun rumah tangga, mumpung usia masih muda katanya.

 

Udin berencana menikahi seorang teman sekolahnya dulu. Butet namanya. Seorang gadis berdarah batak anak pak Lurah di kampung sebelah. Ia mengutarakan niatnya pada Butet. Jika Butet mau, Udin akan segera menikahinya. Mereka sudah lama saling mengenal. Tentu tak perlu proses perkenalan lama lagi.

“Aku ingin menikahimu…kalau kau bersedia, aku akan segera melamarmu” kata Udin dengan gagah.

Butet bersedia.  Tapi ada satu masalah. Orang tua Butet nampaknya tak setuju jika Butet dengan Udin. Alasannya, orangtuanya khawatir dengan masa depan Butet jika mereka menikah. Udin hanya penjual roti. Meski penghasilannya lumayan, tapi Udin tak memiliki penghasilan yang tetap.

 

 

” Kau boleh menikah sama si Udin, kalau si Udin sudah jadi PNS!” kata pak Guntur Siregar. Bapaknya Butet.

Udin sudah lama menyadari hal ini. Ia sudah menduga, kemungkinan penolakannya pastilah karena pekerjaan Udin hanya penjual roti. Udin tahu persis, orangtua Butet tak mengizinkan dirinya menikahi Butet karena khawatir akan masa depan anaknya. Wajar sekali. Namanya juga orangtua, tentu tak sembarangan melepaskan anaknya pada orang lain. Apalagi yang menurut mereka penghasilannya tak jelas.

Udin bukan tipe lelaki lembek yang mau menyerah begitu saja. Ia tetap menjalin komunikasi dengan pak Guntur. Ini semacam tantangan baru baginya. Bukannya mundur, Udin malah mulai menawarkan rotinya pada seluruh pegawai kelurahan untuk berlangganan rotinya. Khusus untuk pegawai kelurahan, harganya dibuatnya murah. Udin tak mengambil untung. Lebih khusus lagi untuk pak lurahnya. Ia berikan gratis.

 

Dengan begitu, Udin semakin sering berinteraksi dengan pak lurah. Mereka semakin sering berkomunikasi. Pada dasarnya, pak Guntur senang dengan karakter Udin yang ramah & santun. Suatu hari pak Guntur bertanya serius pada Udin, “Gimana Din, kamu sudah tes CPNS? begitu kamu sudah lulus PNS, kamu boleh menikahi anakku” 

“iya pak, begitu ada kesempatan saya akan segera tes CPNS?” jawab Udin sambil tersenyum. Udin masih terus memikirkan cara agar pak Guntur bisa mengizinkan dirinya menikahi Butet, tanpa harus ia menjadi PNS.

 

Suatu hari Udin mengenalkan pak Lurah pada ustadz Kasrun, karena katanya pak lurah sedang mencari seorang ustadz untuk mengisi pengajian di kelurahan. Ustadz Kasrun adalah guru Udin dulu waktu di pesantren.

Rupanya pak lurah sangat senang dengan pengajian yang dibawakan ustadz Kasrun. Sehingga pak lurah jadi sering berbincang dengan ustadz Kasrun. Rupanya pak lurah & ustadz Kasrun punya hobi yang sama; main catur. Ini membuat pak lurah jadi semakin betah berbincang santai sambil main catur dengan ustadz Kasrun.

Hari demi hari berlalu, hingga bertemulah Udin dengan tes CPNS. Dengan berat hati, Udin mengikuti tes CPNS untuk membuktikan keseriusannya pada pak lurah. Tapi memang dasar Udin tak punya ketertarikan sedikitpun untuk menjadi PNS, Udin gagal masuk PNS. Udin mulai berpikir, kesempatannya untuk menikahi Butet semakin menjauh. Sehingga ia tak lagi terlalu berharap bisa menikah dengan Butet. “belum jodoh..” pikirnya

 

 

-bersambung ya 🙂 …

klik : Seperangkat Roti Keju Part II-

Salam..

@jendralgagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.