Seperangkat Roti Keju -part II-

1 comment 613 views

-sambungan-

Pak lurah sebenarnya ingin Udin menjadi menantunya. Satu itu saja penghalangnya; Udin bukan PNS. Suatu sore pak lurah datang ke rumah ustadz Kasrun. Seperti biasa, setiap pertemuan mereka pasti ditemani papan catur & dua gelas kopi. Obrol punya obrol, sampailah pada nama Udin.

” Saya sebenarnya menyetujui Udin menikah dengan anak saya pak ustadz…hanya saja, saya ingin Udin menjadi PNS dulu. Biar masa depannya jelas..” curhat pak lurah pada ustadz Kasrun.

“ Jadi, menurut pak lurah, hanya PNS yang masa depannya jelas? “ tanya ustadz Kasrun

“ Ya nggak begitu juga ustadz..hmm..gimana ya..kalau PNS itu kan jelas ada uang pensiun, ada tunjangan ini itu..”

“Menurut pak lurah, Allah itu maha adil tidak?”

“Ya jelas Maha Adil lah pak ustadz. Masa saya berani bilang nggak adil..”

“Menurut pak lurah, Allah itu hanya memberikan jaminan rezeki pada satu jenis pekerjaan saja, PNS misalnya?”

“ Ya nggak lah pak ustadz. Allah kan memberikan rezeki pada semua makhluk. Tak peduli agama apalagi pekerjaannya..”

“Nah, kira-kira menurut pak lurah, rezeki tukang roti dijamin oleh Allah juga?”

“Hmm…iya tentu pak ustadz.. “ pak lurah menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia seperti menyadari sesuatu.

“Skak mat!”  seru ustadz Kasrun menggerakkan bidak caturnya. Seekor kuda menghentikan langkah sang raja.

“ waduh kok bisa skak mat? ” pak lurah kaget.

“ pak lurah… saya boleh mengatakan sesuatu? ”

“ silakan pak ustadz…”

“ Pak lurah, kita sudah sama-sama tahu ya, bahwa menikah adalah sebuah ibadah yang besar sekali pahalanya. Siapapun yang memudahkan seseorang untuk menikah, sesungguhnya sedang memudahkan seseorang untuk beribadah pada Allah SWT. “

“  Kita juga tahu, Rasulullah memerintahkan kita agar memperhatikan 4 hal jika seseorang hendak mencari jodohnya.. pak lurah masih ingat?”

“ masih pak ustadz… keturunannya, kecantikannya, kekayaannya, dan agamanya..”

“ lalu, adakah sambungannya?”

“ iya, tapi pilihlah karena agamanya, karena itu yang akan membuat kebaikan..”

“ tepat sekali…”

“ Begini pak lurah, saya tahu persis apa yang pak lurah rasakan saat ini. Pak lurah tentu ingin si Butet bahagia masa depannya kelak. Dan saya juga sangat yakin, bahwa pak lurah sangat meyakini kekuasaan Allah. Bahwa Allah lah yang menjamin rezeki setiap hambaNYA. Saya tak hendak menyarankan pak lurah untuk menikahkan Butet dengan si A atau si B. Karena saya sangat yakin, pak lurah sangat bijak untuk membuat keputusan yang insyaAllah mendapat keridhaan dari Allah SWT”

“ Yang penting segerakanlah…kita tentu masih ingat pesan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..ada 5 hal yang harus disegerakan pelaksanaannya..masih ingatkah pak lurah?”

“ masih pak ustadz.. menjamu tamu, mengurus jenazah, bertaubat, membayar hutang, dan menikahkan anak perempuan…”

“ iya pak ustadz…saya mengerti sekarang…” sambung pak lurah. Senyumnya mengembang.

 

Selang sehari setelah percakapan dengan ustadz Kasrun, pak lurah memanggil Udin ke kantornya saat Udin mengantarkan roti untuk pegawai kelurahan.  Di ruangan pak lurah Udin disuruh duduk. Udin mulai grogi. Ada apa ini sebenarnya?

“ Din, kau tahu saya saya sangat menyayangi anak saya Butet? “

“ tahu pak lurah…”

“ Saya ingin anak saya bahagia. Itulah kenapa saya kemarin melarangmu menikahi Butet, sebelum kamu menjadi PNS.” Udin hanya diam, sambil mengangguk pelan.

“ Jadi, hari Sabtu depan, saya tunggu kau & keluargamu datang kerumah saya!”

“ eh.. untuk apa pak lurah?”

“ Ya untuk melamar Butet lah! Untuk apa lagi?”

“ eh..maksudnya gimana pak? Melamar Butet?” tanya Kasrun kebingungan. Ekspresi wajahnya sulit dilukiskan dengan kata-kata.

“ ya iyalah melamar Butet. Kau mau menikah dengan Butet kan?”

“ eh..iya..iya mau pak…eh..ini maksudnya saya diizinkan menikahi Butet pak?”

“ Ya iyalah macam mana nya kau ini. Sudah cepat sana bilang pada orangtuamu!” Udin langsung memeluk dan mencium tangan pak lurah. Ia bahagia bukan kepalang. Di sepanjang perjalanan pulang, ia menangis haru. Betapa mudah bagi Allah membolak-balik hati manusia.

wedding

Epilog

Sore itu, Udin dan Butet dipanggil ke rumah ustadz Kasrun. Mereka tak tahu kalau akan dipanggil berdua. Setelah disuguhi minum, ustadz Kasrun memulai pembicaraan. Nampaknya serius.

“Alhamdulillah kalian sudah mendapat restu untuk menikah. Ini jadi pelajaran berharga untuk kita. Bahwa, nanti jika kalian sudah punya anak-anak yang akan menikah, adalah kewajiban orangtua untuk memudahkan anak anaknya segera menikah. “

“Ini juga jadi pelajaran, sebagai anak, menciptakan KOMUNIKASI yang baik dengan orang tua itu luar biasa pentingnya. Kita perlu mengkondisikan keinginan kita untuk menikah jauh-jauh hari sebelumnya. Kebanyakan anak sulit mendapat restu dari orang tuanya untuk menikah, karena jeleknya kualitas komunikasi dengan orangtuanya. Sehingga ada jarak yang menghalangi seorang anak menyampaikan keinginannya..

“Menikah itu bukan seperti membeli cabe di pasar, saat ingin beli cabe tinggal bilang ke tukang cabe, kasih uangnya lalu kita dapat cabenya. Nggak begitu kan? Menikah itu urusan yang sangat berat konsekuensinya..itu mengapa perlu pemahaman yang sangat baik untuk menikah. “ sambung Ustadz Kasrun. Udin & Butet mengangguk.

 

Dua bulan setelah Udin & keluarganya datang melamar Butet, mereka melangsungkan pernikahan sederhana. Tapi ada yang unik dengan maharnya, selain cincin emas & seperangkat alat shalat, Udin memberikan seperangkat roti yang biasa dijualnya setiap hari. Ketika ditanya, Udin menjawab santai, “ Seperangkat roti ini yang akan menjadi janji saya untuk menjadi seorang suami yang mampu menafkahi & membahagiakan istri saya…”

-the end-

Salam jernih..

@jendralgagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.