Quality Time VS Quantity Time

No comment 917 views

Judul diatas itu, nampaknya selalu jadi perbincangan menarik. Terutama jika tema obrolannya adalah pengasuhan anak. manakah yang benar, memberikan quality time atau quantity time ?

Bagi saya, pertanyaan diatas sebenarnya tak butuh jawaban. Tak perlu juga dibenturkan.
Setiap orang tentu punya prioritas dalam setiap aspek kehidupannya. Jadi, setiap pilihan yang diambil oleh setiap orang, harus disadari selalu punya konsekuensi.

Sehingga, setelah setiap orang menyadari konsekuensi dari pilihannya, dia akan lebih santai menghadapi konsekuensinya. Harusnya begitu. Meski tetap masih banyak orang yang galau, stres dan lainnya menghadapi konsekuensi dari pilihannya.

 

Misalnya : seorang working mom, yang bekerja dari jam 9 sampai jam 17. Anggap saja ia berangkat bekerja jam 6 pagi (asumsinya bekerja di kota besar yang sangat amat padat lalu lintasnya), dan sampai rumah jam 8 malam. Sehingga, waktunya untuk bertemu anak-anak sangat sedikit.
Dia pergi kerja, mungkin anaknya belum bangun. Dia pulang kerja, mungkin anaknya sudah tidur lagi. Waktu bertemu yang jelas adalah akhir pekan. Sehingga, akhir pekan inilah yang dianggap para working mom sebagai momentum untuk memberikan quality time.

family-time-with-family

Tapi, para working mom perlu ingat. Anak-anak bukan hanya butuh quality time. Mereka juga butuh quantity time. Karena apapun ceritanya, kuantitas tak akan pernah menggantikan kualitas, dan sebaliknya kualitas takkan pernah bisa membalas kuantitas. Keduanya sama-sama diperlukan. Jika kita hanya memerlukan quality, maka kita hanya perlu mandi seminggu sekali yang sangat berkualitas, begitu kan?

Jadi, yang benar adalah para not working mom? Ya nggak begitu logikanya.

Jangan berpikir semua not working mom selalu memberikan quantity time & quality time ke anak-anaknya. Berapa banyak ibu yang membiarkan anaknya menghabiskan waktu seharian penuh untuk nonton TV dan main game? Andai ada petugas sensusnya, saya yakin akan buaanyak sekali. Apakah itu memberikan quantity time & quality time ? Jelas tidak.

Jangan berpikir para not working mom bisa selalu memberikan quantity time & quality time ke anak-anaknya. Karena, para not working mom juga punya konsekuensi ketika memilih untuk menjadi not working mom. Salah satu konsekuensinya adalah ; stres.

Jika anda para working mom, seberapa sering anda kesal saat anda di rumah bersama anak-anak, ketika anak-anak membuat rumah berantakan seperti kapal pecah? Sering? Nah, jika anda yang jarang dirumah karena bekerja saja sering kesal melihat rumah berantakan, anda bisa bayangkan para not working mom yang setiap jam melihat rumah berantakan. Baru dibereskan nggak sampai 5 menit sudah berantakan lagi. Begitu setiap hari. Para working mom bisa melihat banyak pemandangan seharian, kantor, orang seliweran, pepohonan, lalu lintas dan lainnya. Sedangkan para not working mom, hanya melihat cucian kotor, jemuran, kompor dan kawan-kawannya setiap hari. Jenuh! Sehingga, potensi stres para not working mom biasanya lebih besar dari para working mom.

Jadi, jika para working mom stres dengan pekerjaan kantor, maka not working mom stres dengan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Hahaha..
Poin pentingnya, para working mom atau not working mom, perlu memiliki tekad yang kuat untuk tetap bisa memberikan keduanya ; quality time & quantity time. Dilarang memisahkan keduanya. Itu sudah sepaket. Nggak bisa ditawar lagi.

Terserah seperti apa caranya. Kreatiflah. Jadilah genius parents!

“Kan, saya bekerja di kantor, hampir tak mungkin saya memberikan quantity time ke anak”
Ah kata siapa? quantity time itu kan tak selalu harus sentuhan fisik. Anak bisa jadi hanya butuh perhatian dalam jumlah yang banyak. Caranya bisa jadi dengan sering menelepon saat jam bekerja. Berkomitmen menelpon setiap 2 jam misalnya. Atau kalau bisa dengan video call nampaknya lebih seru. Manfaatkan dong kecanggihan teknologi.
Atau lakukan apapun yang menunjukkan ke anak bahwa kita benar-benar memperhatikannya.

 

Selamat memberikan quantity time & quality time untuk anak-anak!

Salam genius!

 

Sila berkunjung ke twitter saya @Jendralgagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply