Puasa, Mind Set & Iklan Makanan Minuman Berenergi

No comment 733 views

 Pernahkah menonton iklan minuman berenergi di TV?

Saya yakin pernah.

Nyaris setiap menjelang Ramadhan, dan biasanya sepanjang bulan Ramadhan, iklan makanan & minuman berenergi bergentayangan menggerogoti mind set orang Indonesia.

Anda tentu paham kenapa saya sebut menggerogoti.

Ya, iklan-iklan makanan & minuman berenergi ini sekilas memang nampak tak berbahaya. Mungkin nampak tak se-berbahaya iklan rokok atau iklan apapun yang dibintangi artis dangdut erotis. Tapi bagi saya ini masalah serius. Saya sebut menggerogoti karena memang ia merusak dengan sangat perlahan. Namun pasti.

Oke, anda tentu bertanya, “Sisi mana merusaknya?”

Pertanyaan itulah bagian paling penting dari tulisan sederhana ini.

Begini kawan-kawan. Kita tahu, Ramadhan adalah bulan dimana semua muslim diwajibkan berpuasa. Secara fisik, puasa artinya tak makan dan tak minum.

Dan mind set orang normal, tak makan & tak minum berarti juga kehilangan pasokan energi.

Dan kehilangan pasokan energi, artinya lemas.

By the waymind set dalam persepsi saya adalah cara manusia mengolah sebuah informasi sehingga memunculkan efek-efek tertentu. 

Begitu kira-kira mind set orang kebanyakan.

Saya tak tahu pasti sejak kapan orang-orang memiliki mind set begini. Dan siapa yang memulai & menyebarkannya pertama kali.

Tapi yang pasti, iklan makanan & minuman berenergi berperan aktif menyebarkan mind set ini. Tentunya karena ini peluang emas bagi mereka.

Iklan makanan & minuman berenergi nampak seperti memanfaatkan mind set yang sudah ada sejak lama ini. Mereka dengan produk minumannya, menawarkan cara efektif nan instan untuk mengganti & memasok energi baru dalam jumlah besar selama puasa.

Sehingga mind set  baru yang akan dibentuk oleh iklan makanan & minuman berenergi ini adalah ;

“kalau anda nggak mau lemas selama puasa, anda wajib minum ini!”

Yang saya khawatirkan, hasil akhirnya bisa jadi membentuk Mind set bahwa puasa adalah masalah besar!

Saya nggak berniat & nggak berminat menyalahkan iklan produk makanan & minuman berenergi ini.

Bagi mereka ini mungkin sekadar strategi penjualan. Bagi saya yang praktisi penjualan, tahu persis bahwa penjualan paling efektif memang memanfaatkan emosi dari calon pembeli. Mereka memang memanfaatkan kondisi emosional calon pembeli ini.

Lagipula, mereka eksis & tetap lancar jaya produksinya toh karena ada yang beli produknya.

Jadi, menurut saya, jauh lebih penting membereskan mind set para calon pembeli. Meski saya yakin tentu sangat tak mudah.

Oke, kita kembali ke pertanyaan paling pentingnya, “Benarkah nggak makan & minum itu menyebabkan lemas?”

Jawabnya ; NGGAK !

Kenapa saya berani bilang bahwa nggak makan & minum (dalam waktu tertentu) nggak akan membuat lemas?

Bagi anda yang sudah pernah nonton film “127 Hours” akan paham sekali cerita saya ini.

127-Hours

Yang belum nonton bisa cek trailernya di sini :

http://www.youtube.com/watch?v=OlhLOWTnVoQ

Film ini bercerita tentang kisah nyata seorang pendaki gunung yang terjepit di jurang sempit. Selama 127 jam dia bertahan hidup tanpa makan & minum yang layak. Oya, 127 jam itu sekitar 5 hari ya.

Jadi, pertanyaan selanjutnya, “apakah puasa nggak makan & nggak minum mulai jam 5 pagi sampai jam 6 sore akan membuat lemas?”

Secara “tradisi” mungkin ada yang menjawab “iya”. Tapi, secara logika jernih seharusnya kita akan jawab “nggak”.

Mungkin sulit diterima karena itu film. Meski berdasar kisah nyata.

Izinkan saya cerita pengalaman saya pribadi.

Ceritanya sejak setahun belakangan ini, saya punya program training “60 days fat loss”. Training ini bertujuan membentuk badan ideal, menurunkan berat badan berlebih, dalam waktu 60 hari. Awal-awal saya bikin program ini tentu saya bikin percobaan-percobaan.

Salah satu percobaan yang saya lakukan adalah ketika suatu hari saya mendaki gunung bersama para peserta “mountraining”.  Gunung yang saya daki waktu itu adalah gunung Manglayang. Tak terlalu tinggi, cuma sekitar 2000mdpl. Yang menantang saya waktu itu, saya mendaki gunung dalam kondisi perut kosong. Terakhir saya makan nasi adalah hari kamis sekitar jam 12 malam. Dan saya mendaki gunung hari Jum’at keesokan harinya, jam 2 siang. Selama pendakian saya hanya minum air putih & sedikit gula merah. Baru makan nasi jam 8 malam. Uniknya, selama pendakian saya tak merasa lapar & lemas sama sekali.

Jadi, logika sederhananya, jika kita hanya menjalankan aktifitas normal sehari-hari ; jalan kesana kemari dengan kendaraan, pergi-pulang kerja, dan aktifitas lain yang bukan mendaki gunung, tentu saja kita tak mungkin lemas. 

 

Lalu apa yang membuat kebanyakan orang merasa lemas saat berpuasa?

Ya benar! yang paling berperan membuat orang lemas selama berpuasa adalah ; mind set

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan

Ketika seseorang meyakini bahwa saat puasa dia akan lemas karena tak ada pasokan makanan & minuman seharian, maka dipastikan dia akan merasa lemas. Sebaliknya, ketika seseorang meyakini bahwa puasa makan-minum selama 12 jam takkan bikin lemas, maka dia akan baik-baik saja. Yang lemas selama puasa padahal tak terlalu banyak beraktifitas fisik, biasanya karena dramatisasi pikirannya yang menganggap bahwa puasa akan membuatnya lemas. Apalagi setelah itu dia akan sangat terfokus pada rasa lemasnya. Semakin menjadilah lemasnya itu.

Prinsipnya seperti yang sering kita bicarakan selama ini “mind & body are one system. And affect each others”

Sehingga kita bisa simpulkan, bahwa ketika seseorang berpuasa, dengan makan sahur & ifthar (berbuka) itu sudah sangat cukup untuk menyimpan energi. Sehingga, defaultnya, kita sama sekali tak memerlukan makanan & minuman berenergi apapun!

Prinsip dasarnya, jika Allah sudah menetapkan sebuah aturan syari’at, maka itu DIPASTIKAN akan dibenarkan dengan disiplin keilmuan apapun. Sahur & berbuka adalah bagian dari aturan Allah dalam puasa. Memastikan mengkonsumsi makanan & minuman yang memang baik untuk kesehatan, itu sudah cukup.

Selamat makin berenergi dengan puasa.

@JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.