Productivity Of Muslim

1 comment 643 views

Saya sangat yakin bahwa kita semua sepakat, bahwa seorang muslim yang baik selalu punya karakter “produktif” dalam dirinya. Dalam urusan apapun.

Persoalan yang paling sulit, dan paling sering jadi pertanyaan adalah, “Saya ingin produktif, tapi bagaimana caranya?”

Rasulullah sebagai role modelnya, selalu mencontohkan produktifitas yang sangat tinggi dalam kehidupannya.

Kita ingat bahwa Rasulullah telah mulai menunjukkan produktifitasnya sejak usia 8 tahun, saat beliau mengikuti perjalanan bisnis sang paman.

 

Saya pun sangat yakin bahwa kita tentu sangat ingin menjadi seorang muslim yang sangat produktif dalam kehidupan kita.

Karena bagi seorang muslim, kehidupan itu dua kali. Sekali hidup sebelum mati, dan sekali lagi hidup setelah mati.

 

Menurut saya, setidaknya ada 3 hal yang perlu ada untuk membentuk produktifitas kita sebagai seorang muslim :

 

 

1. Energy 

Kita sepakati bahwa energi yang saya bicarakan disini adalah sumber tenaga kita untuk bergerak dan melakukan sesuatu. Kebugaran fisik, kecerdasan akal, dan hingga kejernihan ruh. Kita tentu tahu, bahwa seorang muslim, semestinya bisa menyeimbangkan ketiganya. Jika ia ingin dapatkan kebugaran fisik, maka ia perlu perhatikan; makanan, olahraga & istirahat. Ketika ia ingin dapatkan kecerdasan akal, maka ia perlu memberikan makanan yang cukup untuk pikirannya. Tentu termasuk buku apa yang dibacanya, kepada siapa ia belajar, dan sebagainya. Begitupun kejernihan ruh. Makanan ruh adalah dzikrullah, sehingga pertanyaannya adalah; sebanyak dan sebaik apa ibadahnya?

 

Ketiganya akan menjadi sumber energi ideal bagi produktifitas seorang muslim. Ketiganya berjalan seimbang, tanpa ketimpangan di salah satu aspek. Sehingga tak ada seorang muslim yang sangat taat beribadah, namun ringkih fisiknya dan tulalit kecerdasannya.

 

 

 

 

2. Time 

“Waktu itu bagaikan pedang” kata pepatah arab. Ia bisa menebas siapapun yang tak mampu memanfaatkannya dengan baik. Yang paling bisa mengelola waktunya, biasanya yang paling berpengaruh hidupnya bagi kehidupan orang lain. Silakan periksa kehidupan orang-orang hebat di muka bumi ini. Kira-kira seperti apa mereka mengelola waktunya? Mungkinkah orang-orang seperti pak BJ.Habibie, masih menyempatkan menonton infotainment di TV setiap sore sambil makan pisang goreng dan minum kopi?

Ah, rasanya tentu tak mungkin.

 

Dalam produktifitas, waktu yang dialokasikan untuk suatu aktifitas, berarti telah melalui proses pemilihan & pemilahan serius. Seorang muslim perlu berpikir tentang urusan yang :penting & mendesak, penting tapi tidak mendesak, tidak penting tapi mendesak, hingga tidak penting & tidak mendesak. 

 

Bagi sebagian orang, cara mengelola waktu seorang muslim itu pasti nampak sangat kaku. Karena semua serba rapi & tertib.

Maka, coba belajarlah mengelola waktu dari disiplinnya kehidupan seorang tentara. Tentara selalu punya disiplin waktu yang sangat rapi & tertib. Karena bagi mereka, pepatahnya bukan lagi “waktu itu bagaikan pedang”, tapi mungkin “waktu itu bagaikan peluru”.Terlambat bergerak sedetik saja, kepala berlubang!

 

 

3. Attention

 

Dan Attention, adalah fokus perhatian seseorang terhadap suatu aktifitas. Attention inilah yang akhirnya menentukan, apakah seseorang bisa disebut produktif atau tidak. Karena memang attention lah yang akan menghabiskan jatah waktu & energi seseorang.

Ketika seseorang memberikan attention untuk sebuah aktifitas yang tak ada manfaatnya, maka secara langsung ia telah menghabiskan energi dan waktunya.

 

 

Dari sini, kita bisa bertanya, mengapa bisa ada orang yang memiliki umur biologis yang sama, namun memiliki pencapaian prestasi hidup yang berbeda. Seorang pemuda bernama Muhammad Al Fatih, di usia 8 tahun ia sudah hafal Al Quran 30juz, di umur 21 tahun telah memiliki kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 6 bahasa, dan usia 24 tahun memimpin pasukan untuk menaklukkan Konstantinopel. Sebuah negeri yang paling kuat pertahanannya di zamannya.

Kita di usia 8, 21, dan 24 tahun sudah bisa apa?

 

Kita punya jumlah waktu yang sama. Kita juga punya kesempatan yang sama untuk menghasilkan energi bagi diri kita. Tapi kita selalu punya attention yang BERBEDA.Attention kita yang akan menentukan, waktu kita yang 24 jam dan energi yang kita hasilkan, dihabiskan untuk attention yang mana?

 

Jawabannya, adalah nilai produktifitas diri kita. 

 

 

Salam

@JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini
  1. author

    Ria3 years ago

    Nutrisi asik di pagi hari. Thanks inspirasinya pak.

    Reply

Leave a Reply