Peta

No comment 472 views
Peta,5 / 5 ( 1votes )

>>> itu Kasrun bilang pada istrinya hendak ke Jakarta. Mau menemui temannya untuk menjual perkutut kesayangannya.

>>>Karena Kasrun tinggal di Garut, maka ia harus ke Bandung dulu untuk selanjutnya naik kereta api ke Jakarta.

>>>Sesampainya di terminal Cicaheum, Kasrun segera naik angkot jurusan stasion. Hingga sampailah ia di Stasion Bandung.

>>>Setelah tiba di stasion, Kasrun lalu membeli tiket kereta jurusan Bandung-Jakarta. Harganya Rp.50rb.

>>>Lalu dengan semangat, ia segera masuk ke gerbong kereta. Melihat nomor kursi di tiketnya. No.10a. Ia pun mencari-cari kursi.

>>>Setelah kursinya ketemu, ia meletakkan tas bawaannya di tempat tas yg ada di atas kepalanya. Hap! Tasnya sudah duduk manis.

>>>Saat asik mengutak-atik handphone-nya, seorang pria mencolek tangannya meminta izin untuk duduk di sebelahnya.

>>>Kasrun bergeser, pria itupun masuk dan duduk di sebelah kasrun. Ia mengambil koran dari tasnya, lalu mengembangkannya.

>>>Tak lama kemudian, kereta mulai jalan. Jusguzus..guzus..makin lama keretanya makin kencang.

>>>Selang 10menit, pria yg ada di sebelahnya itu membuka pembicaraan dengan Kasrun.

>>>“Mau kemana pak?” Tanya pria di sebelahnya sambil menyunggingkan senyum.

>>>Kasrun melirik, “ini..sy mau ke jakarta. Mau jual perkutut ini ke temen sy. ” Menunjukkan sangkar burung di depannya.

>>>“Perkutut ini pernah ditawar seorang bupati 25juta, tapi sy tolak. Sy mau jual ke temen 30jt.” Cerocos Kasrun

>>> Mendengar itu, kening pria disebelahnya berkerut. Wajahnya kebingungan. Lalu celingak-celinguk.

>>>“Kenapa mas,gak percaya kalo burung perkutut sy ini harganya mencapai 30juta?”

>>>“Sy sengaja berpenampilan seperti ini supaya gak ada yg berniat jahat mencuri burung perkutut ini” sambung Kasrun

>>>Muka si pria itu makin bingung. “Anda harusnya belajar tentang burung perkutut. Biar tau mana perkutut yg bernilai jual tinggi”

>>> “Anda bilang tadi ke Jakarta?” Tanya si pria masih kebingungan.

>>>“Iya,sy kan udah bilang, mau ke Jakarta, mau jual burung perkutut sy ini ke teman dgn harga 30juta. Anda malah ga percaya”

>>>“Bukan pak, sy bukan gak percaya cuma mau bilang.. Ini kereta ke Jogja. Anda salah naik kereta!”

>>>Mendengar itu Kasrun meradang. “Anda kalo gak percaya burung ini harganya 30juta ya gpp, tapi gak perlu bilang sy salah kereta”

>>> “Ini kereta ke Jogja pak, bukan ke Jakarta. Yg ke Jakarta tadi di sebelah kereta ini!”

>>>Karena mendengar suara perdebatan kedua orang ini, petugas karcis yg kebetulan sedang lewat menghampiri mereka.

>>>“Ada apa pak?”

>>>“Ini pak,bapak ini sy ceritakan bahwa burung perkutut sy ini harganya 30juta, dia gak percaya..” Jelas Kasrun

>>>“Eh,sekarang dia bilang sy salah naik kereta!” Kata Kasrun

>>> “Memangnya bapak mau kemana?” Tanya petugas penasaran.

>>>“Saya mau ke Jakarta, tapi bapak ini bilang sy salah naik kereta!” Kasrun masih ngotot.

>>>Mendengar itu si petugas senyum “memang pak..bapak salah naik kereta. Ini kereta ke Jogja. Bukan ke Jakarta” jelas si petugas.

>>>Wajah Kasrun mendadak memutih. Pucat. Bibirnya membentuk huruf O besar. Matanya terbelalak

>>>Mendadak ia lapar, dan hendak mengunyah perkutut. Tapi urung,karena harganya mahal. šŸ˜€

>>>Apa yg muncul dari reaksi seseorang, sesungguhnya bukanlah benar-benar apa yg dipikirkannya.

>>>Di Neuro Linguistic Programming, kita menyebutnya, “Peta itu bukan wilayah sebenarnya”

>>>Sampai kita perjelas apa maksud dari satu tindakan seseorang, kita tak bisa menentukan maksud aslinya.

>>>Kasrun hanya berpersepsi dgn reaksi pria disebelahnya,kan? Kasrun tak bertanya, apa maksud sebenarnya..

>>>Lalu Kasrun membuat kesimpulan sendiri dgn persepsinya itu. Padahal si pria tak berkata apapun.

>>>Si pria hanya mengerutkan keningnya kan? Kasrun lah yg menerjemahkannya tanpa mengklarifikasi apa gerangan maksud kerutan itu?

>>>Dilarang pakai ilmu kebatinan dalam berkomunikasi! šŸ˜€ semua harus terang benderang tanpa ambiguitas!

>>>Akhirnya Kasrun terbangun krn mendengar burung perkututnya bernyanyi. Ia sudah ada di stasion jogja yg cantik. šŸ™‚

>>> the end šŸ˜€

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply