Parenting NLP: “Grey Question”

No comment 606 views

>>>Manteman yang sudah punya anak, dan usia anaknya diatas 3tahun, sepertinya terbiasa suruh-suruh anak ya? Hayoo ngaku!

>>>Remote TV cuma jarak 2meter aja minta diambilin sama anak. Males keluar rumah,anak disuruh ke warung, dan perintah lain

>>>Gak tau kenapa, gatel aja rasanya kalo gak nyuruh-nyuruh anak. Ya kan?

>>>Sama..saya juga kok 😀 kenapa? Ini sebenarnya “tradisi” yg diturunkan dari orangtua,kakek-nenek,ortunya kakek-nenek, dst.

>>>Waktu kecil, kita seringkali disuruh-suruh oleh ortu.Ortu juga dulu waktu kecil disuruh-suruh sama ortunya.Jadi semacam auto pilot.

>>>Rumus yg tersimpan di datastorage berbunyi; “IF » anak udah gede »THEN » sy bisa nyuruh ini itu ke anak” <~ kira-kira begini.

>>>Rumus inilah yg disebut orang dgn Mindset. Dia akan berjalan otomatis tanpa perlu diatur kerjanya. Makanya disebut auto pilot.

>>>Salahkah nyuruh ini itu ke anak? Hmm..sy gak berani menyalahkan. Belum nemu juga efek psikologis anak yg sering disuruh-suruh

>>>Sebagian jokes yg ada katanya si anak akan bermental pesuruh 🙂 bkn yg nyuruh,tp yg disuruh.Tapi ndak perlu dipercaya juga kali ya.

>>> Repotnya, kalau si ortu menikmati nyuruh-nyuruh anaknya. Kalau anak males-malesan,ortu marah. “Anak harus nurut sama orangtua!”

>>>Benar,alquran bahkan melarang anak mengatakan “Ah” pada orangtuanya. Tapi,tentu ini bukan dalil ortu bisa sesukanya.

>>>Saya sendiri sedang berusaha utk gak lagi nyuruh-nyuruh anak kalau tak terpaksa. Sy berpikir,sy juga ga suka disuruh-suruh.

>>> Kalaupun terpaksa,sy akan gunakan sebuah teknik di Neuro Linguistic Programming yg disebut Embedded Question.

>>>Sy menyebutnya dgn Grey Question. Sebuah pertanyaan abu-abu yg berfungsi meminta anak melakukan sesuatu yg kita inginkan.

>>>Sy sebut “grey”,karena anak sama sekali tak merasa sedang disuruh/diperintah. Ia hanya merasa sedang ditanya.

>>>Saat menjawab pertanyaan yg kita ajukan,biasanya anak akan sekaligus melakukan sesuatu yg kita minta.

>>>Misal : biasanya sy sembarangan naruh Henpon. Lalu sy lihat si henpon ada di dekat
TV. Kebetulan anak sy ada di dekat TV.


>>> Maka,untuk meminta dia mengambil henpon sy, sy akan bertanya dgn kalimat; “Fa, di dekat TV ada henpon ayah gak ya?”

>>>Biasanya dia akan langsung bergerak mengambil henpon dan memberikannya pada sy. Sy senang,dia nyaman. Win-win solution ini 😀

>>>Kalau dia sedang serius banget main,pasti malesnya muncul, pertanyaan diatas biasanya dijawab singkat, “gak ada yah”

>>>Saya ganti pertanyaannya,dgn pertanyaan pamungkas, “Fa,boleh pinjem henpon ayah yg di dekat TV?” Ini gak pernah gagal 😀

>>>Anak sama sekali gak akan merasa terpaksa menuruti permintaan kita, karena permintaan kita hanya bersifat pertanyaan.

>>> Bandingkan dengan ini : “Fa,ambilkan henpon ayah di dekat TV ya!” <~ ini kalimat perintah,karena pakai tanda seru.

>>>Bahkan ketika kita udah pake kata “tolong” ~> “Fa,tolong ambilkan henpon ayah ya!” Tetep kalimat perintah. Feel-nya akan beda.

>>>Pola bahasa “Grey Question” ini nanti akan dibahas tuntas di training “Parenting With NLP” di Bandung 3Agustus mendatang.

>>>Di “Parenting With NLP”,peserta belajar pola bahasa lain sejenis “Grey Question”. Agar orangtua lebih komunikatif terhadap anak.

>>>Yang belum mendaftar training “Parenting With NLP” boleh segera menghubungi CP 0896-5620-4384/invite 2A4D6ED0.

>>>“Grey Question” itu pada dasarnya pola bahasa. Silat lidah. Efeknya,ia mengubah makna di pikiran yang mendengar. Termasuk anak.

>>>Saat anak merasa nyaman berkomunikasi dengan orangtuanya, hubungan orangtua-anak tentu jadi begitu hangat.

>>>“Grey Question” berfungsi menjauhkan image otoriter pada orangtua.

>>> Ingat, hubungan orangtua & anak bukanlah hubungan Majikan & pembantu! Komunikasi yg membedakannya.

>>>Selamat menjernihkan komunikasi kita dengan anak-anak, agar mereka menurunkan segala karakter positif kita.

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply