ParenThink

No comment 472 views
ParenThink,5 / 5 ( 1votes )

>>>Awalnya,memanjakan anak memang terlihat sebagai bentuk sayang ortu pada anak.. Anak mendapatkan apapun yg diinginkannya.

>>> Tapi orangtua nampaknya tak memahami.. Memenuhi keINGINan anak adalah bentuk EmotionalDecision yg membahayakan.

>>> Karena setiap keINGINan, pasti berbentuk EMOTIONAL. Kawannya bernama keBUTUHan. Dan KeBUTUHan lah yg berbentuk LOGICAL.

>>>Artinya, orangtua yg selalu memenuhi keinginan anaknya, berarti memenuhi emosional anaknya. Tujuannya: agar SENANG.

>>>Salahkah? Iya, jika pemenuhan emosi itu berlangsung sering dlm waktu panjang & berpotensi menjadi “habit”.

>>>Perlahan anak akan membuat asumsi bahwa jika ingin sesuatu,ia tinggal katakan pada orangtuanya,dan keinginannya terkabul.

>>>Karena sifatnya emosional, result akhirnya adalah; jika dipenuhi senang, jika tak dipenuhi kecewa. Want + agree = happy.

>>>Jika berlangsung terus menerus dlm waktu lama, ia segera menjadi pola di pikiran anak & unfortunately juga di orangtua.

>>>Ketika telah jd pola, ia akan makin sulit utk diubah. Maka dinamakanlah ia dgn karakter.

>>> Lama-kelamaan, anak akan dgn sangat ringan meminta sesuatu ke orangtua tanpa memikirkan akan memberatkan ortu atau tdk.

>>>Orangtua pun akan mrasa tak nyaman bila menolak keinginan anak.Maka,ia akan memaksakan diri agar mampu penuhi keinginan anak.

>>>.Apa yg terjadi saat ortu benar-benar tak mampu penuhi keinginan anak? Ya,anak akan kecewa & marah pada ortu.

>>>Karena ini telah jadi pola,maka pola ini akan terbawa sampai si anak dewasa. Hasil akhirnya bisa ditebak kan?

>>>Ada 2 efek negatif yg menurut sy paling merusak. 1.orang ini akan sulit sekali survive & mandiri dlm hidupnya.

>>>Sebagian besar org yg sy temui yg selalu dimanja saat kecilnya, bermasalah dlm pola hidupnya. Tak mandiri,mencla-mencle,dll.

>>>Ke 2. Orang ini jd kesulitan mengendalikan dirinya.Ia punya skill SelfMastery yg lemah sekali. Agak nyerempet ke no.1 tadi.

>>>Krn terbiasa menggunakan EmotionalDecision saat kecilnya atas bantuan ortunya,maka pola ini terbawa hingga dewasa.

>>>Orang yg terbiasa gunakan EmotionalDecision saat kecil, cenderung kesulitan gunakan LogicalDecision saat dewasanya.

>>>Saat ia ingin sesuatu yg sebenarnya tak dibutuhkannya, ia terobsesi utk memilikinya. Ini berefek negatif.

>>>Iya kalau bisa didapatkannya, bagaimana kalau tak bisa? Jangan-jangan ia akan halalkan segala cara utk mendapatkannya.

>>>Mereka ini kan terbiasa meminta saat kecilnya, sehingga pikirannya tak terbiasa berpikir taktis utk dapatkn dgn usahanya.

>>>Hingga,kreatifitasnya bisa jadi terganggu juga. Apalagi kesabarannya. Mereka terbiasa dapatkan sesuatu dgn SEGERA kan?

>>>Twit ini terinspirasi kejadian yg tadi pagi sy saksikan. Orangtua yg akhirnya kerepotan luar biasa krn terbiasa..

>>>….Akibat terbiasa memanjakan anak-anaknya saat kecil dulu. Ia terus dirongrong oleh anak-anaknya hingga dewasa.

>>>Yg lebih menyedihkan lg, pola asuh semacam ini berpotensi besar di duplikasi anak-anaknya. Hingga menurun ke cucu dst.

>>>Ah,merepotkan sekali lah! Anda yg mulai coba-coba memanjakan anak, segera bertobatlah! Jangan sampai menyesal nanti!

>>> Ingat! Memberikan kasih sayang sama sekali berbeda dgn memanjakan! Yg satu berefek positif yg satu negatif.

>>> Jangan mencetak anak yg bermental lembek di dunia yg sangat keras ini, kawan!

>>>semoga berhasil mencetak anak-anak hebat dgn tingkat life survival yg sangat tinggi!

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.