Omzet Lumpia Basah

No comment 846 views

Kemarin siang, habis keluyuran mencari baterai hape, saya & istri kelaparan. “Mau makan apa?” tanya saya ke istri. “Gak tau..bingung” jawab istri. “Lumpia mau?”, “Mau..” jawabnya. Tak perlu disamakan lagi persepsi saya & istri tentang kata “lumpia”. Lumpia yang dimaksud pasti lumpia di tempat yang sama dengan pedagang yang sama.

 

Lumpiah dengan porsi lapar dengan harga cuma 7ribu perak. Nggak usah heran dengan harganya yang murah dan porsinya yang seabreg. Si mang tukang lumpia basah ini nampaknya tahu persis siapa customer segments nya. Yap, mahasiswa. Jika kita ingin dagangan kuliner kita laris di pasar mahasiswa, pastikan kita punya dua hal itu ; porsi yang buanyak, dan harga yang ekonomis. Soal rasa biasanya mahasiswa tak ambil pusing. Yang penting kenyang, dan kantong aman.

 

Tapi, pedagang lumpia basah yang satu ini, meski pasarnya adalah para mahasiswa, tak cuma memenuhi 2 syarat diatas itu. Selain porsinya adalah porsi lapar dan harganya yang sangat murah, dia memenuhi satu aspek laris lainnya. Yak, rasanya yang lezat! 

Saya tak bisa pungkiri, rasa lumpia basah langganan saya ini memang jauh lebih enak dari rasa lumpia basah lainnya. Bahkan lumpia basah yang lebih mahal sekalipun. Aroma lumpianya yang sedang dimasak, mampu tercium dari jarak 5 meter. Ini jadi semacam tali laso yang menarik leher siapapun yang berada di sekitarnya untuk datang dan membeli lumpiah. Jadi, tak heran kalau gerobak mang lumpia ini, selalu dibanjiri pembeli.

 

 

Iseng-iseng, saya hitung berapa kira-kira omzet yang didapatkan mang pedagang lumpia langganan saya ini.

 

Let’s see…

 

Ketika kita akan memesan lumpiah basah ini, jangan harap bisa langsung dibuatkan pesanannya. Kalaupun langsung dibuatkan, maka kita pasti sedang beruntung sekali hari itu. Karena biasanya kita harus mengantre bersama sekitar 4-5 orang lainnya. Saya amati, dalam sekali antrean itu bisa 4-5 orang. Katakanlah 5 orang biar mudah menghitungnya. Antrean ini, mari kita sebut dengan “sesi order”. Jadi, 1 sesi order memuat 5 orang pemesan. Lantas, jangan berpikir bahwa setelah antrean yang satu habis, maka kita bisa bebas memesan. Nggak. Setelah sesi order yang satu habis, pasti langsung digantikan oleh sesi order lainnya.

 

Anggap 1 sesi order = 10 menit 

Dalam 1 jam (60 menit)  = 6 sesi order. 

6 sesi order = 30 orang pembeli. 

1 jam = 30 orang pembeli. 

 

Katakanlah jam kerjanya 8 jam seperti jam orang kantoran. Meski saya yakin lebih dari 8 jam. Tapi ya anggap sajalah 8 jam setelah dipotong waktunya istirahat.

Berarti selama 8 jam ia kerja, rata-rata ada sekitar 240 orang pembeli.

Oke, mari kita bulatkan ke bawah. Anggap saja hanya ada 200 orang pembeli dalam 1 hari.

 

200 porsi x  7ribu = 1.400.000 ( Rp. 1,4juta )

 

Saya salah hitung nggak sih? Mohon bantuannya untuk menghitung ulang ya. Benarkah hitungan saya?

Jika hitungan saya benar, berarti sebesar itulah omzet penjualan lumpiah langganan saya itu dalam sehari.

 

Sebulan, dia bisa mengantongi omzet Rp. 42juta !

 

Mau hitung keuntungannya?

 

Biasanya keuntungan usaha kuliner itu bisa mencapai sekitar 30%. Jadi, kurang lebih dia bisa dapat sekitar 12,6juta sebulan.

Menggiurkan bukan? Ini pun hanya perkiraan minimum saja.

 

Ada banyak orang yang sering menganggap remeh pedagang makanan di pinggir jalan. Dengan penampilan mereka yang asal-asalan, mungkin ada semacam lintasan pikiran, “kasihan ya, paling berapa sih penghasilannya?”

 

Berapa penghasilannya? ya segitu! 12,6 juta! Berapa kali lipat penghasilan kita? 😀

Nah, ada yang berminat jualan lumpia basah? 😀

 

 

Salam lumpia…

Ngobrol dengan saya juga di twitter @Jendralgagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.