New Trend, Big Opportunity

No comment 587 views

“Peluang tak datang dua kali!”

 

Pernah dengar ungkapan itu? Saya yakin kita pernah mendengarnya.

Benarkah ungkapan itu?

Mungkin ada benarnya. Tapi mungkin juga ada tak benarnya.

 

Tapi saran saya, hati-hati terlalu meyakini ungkapan itu! Salah-salah, kita bisa punya keyakinan bahwa peluang adalah suatu “makhluk kebetulan”.

 

Saya meyakini, bahwa manusia punya kesempatan besar untuk menciptakan peluang. Dari peluang itu, kita punya pilihan, membiarkannya…atau mengubahnya jadi uang.

 

 

Kok bisa?

Caranya?

 

Nah, menurut saya, setidaknya ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam obrolan ini. 3 hal ini kemudian saya anggap sebagai siklus. Kita namakan saja, Opportunity Cycle.

 

 

 

Maafkan jika gambarnya jelek. Maafkan juga kalau saya tak punya sumber referensi atau hasil riset tertentu. Karena siklus ini hanya karangan saya. Begitulah yang saya amati dan saya jalani selama ini. Tanpa riset, tanpa teori yang njelimet.

 

  • Observe Trend – Kemampuan Mengamati Tren

Bagi saya, tren adalah salah satu elemen penting yang wajib diperhatikan untuk membuka keran-keran rezeki. Semakin mampu seseorang mengamati tren, semakin besar potensinya membuka keran-keran rezeki.

Bicara tren, kita akan bicara kebutuhan pasar. Semakin jeli seseorang mengamati tren, semakin jelas ia akan kebutuhan pasar.

 

Contoh :

Kita tahu, sekitar 5 tahun belakangan hingga detik ini adalah masa berkembang pesatnya Internet, khususnya media sosial. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, dan kawan-kawannya. Ini tren. Bagi sebagian besar orang, tren hanya akan menjadi sesuatu yang perlu diikuti, demi tak diejek “ketinggalan jaman”. Namun sebagian kecil orang, memanfaatkan tren ini sebagai sumber penghasilan baru.

 

  • Create Opportunity – Kemampuan Menciptakan Peluang

Tren, hanya akan jadi tren jika tak diubah menjadi peluang. Media sosial hanya akan menjadi media sosial, jika tak dianggap sebagai peluang. Bagaimana kita tahu bahwa ada peluang disana? Gampang. Bagi seorang penjual, dimana ada kerumunan orang, disana pasti ada peluang.

Dari sini kita bisa mulai mengerucutkan. Dari sekian banyak kerumunan orang di media sosial, siapa yang akan menjadi pasar potensial kita?

 

Misal jawabannya adalah karyawan kantoran. Kenapa karyawan kantoran?

 

Para karyawan kantoran biasanya sudah disibukkan dengan pergi pulang kantor jam 9-17. Kalau mereka tinggal di kota besar seperti Jakarta, mungkin mereka akan berangkat dari rumah jam 5-6 pagi. Dan pulang ke rumah sekitar jam 20-21. Itu paling cepat. Sebagian yang lainnya, malah masih menghabiskan waktu di busway hingga jam 22-23. Itu berlangsung selama 5 hari. Jadi kemungkinan di akhir pekan, waktunya akan dihabiskan untuk keluarga.

 

Rasanya ini yang membuat toko online tumbuh menjamur belakangan ini. Karena sebagian orang, sudah mulai malas pergi ke supermarket, mall, atau pusat perbelanjaan lain untuk belanja kebutuhan pribadi mereka. Daripada mereka menghabiskan energi, waktu & biaya belanja ke pusat perbelanjaan, mending cari kebutuhan mereka di toko online yang tersebar di internet, media sosial, atau teman mereka yang jualan online. Rasanya cuma nasi padang dan kawan-kawannya yang belum dijual secara online. Sebagian besar kebutuhan pribadi orang sudah disediakan secara online. Mulai dari jaket, coat, blazer, sprei, buku, barang elektronik sampai celana dalam pun dijual online! :p

 

Nah, ini yang kita sebut sebagai peluang!

 

 

 

  • Convert Into Money – Kemampuan Mengkonversi Peluang Jadi Uang

Selama ada peluang, disana ada uang. Begitu prinsipnya.

Peluang hanya memberi pilihan. Mau dibiarkan saja, atau mau diubah jadi uang?

Maka, setelah jelas peluangnya, otomatis jelas pula kebutuhan pasarnya. Jelas pula siapa target calon customer.

Sehingga, kita tinggal pikirkan cara untuk memenuhi kebutuhan pasar, agar mengubah peluang itu menjadi uang.

 

Disini, kita akan membutuhkan keterampilan teknis. Jika ceritanya jualan online, maka kita akan bicara teknis mulai dari pemanfaatan tools di media sosial, strategi marketing, mendapatkan supplier/ produsen, mencari reseller, skill komunikasi, persuasi, negosiasi, membangun jejaring, dan lain sebagainya. Ah, teman-teman pasti lebih tahu soal ini.

 

 

Siklus ini akan selalu berputar. Setiap tren pasti punya peluang, dan setiap peluang pasti mampu menghasilkan uang. Semakin kita memahami siklus ini, semakin mudah kita menjalankannya.

 

 

Salam laris!

@JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.