My State Your State

No comment 628 views

Pernahkah kita bertemu orang yang baru saja kenalan, tapi menunjukkan wajah judes, jutek dan sejenisnya? Alih-alih tersenyum, menjawab pertanyaan kita pun sekadarnya. “Sudah”, “Baru saja.”, “saya ngga suka” dan seterusnya.

 

Apakah kita akan melanjutkan obrolan dengan orang yang seperti itu?

Ah, nampaknya takkan ada yang akan betah berbincang dengan orang yang judes dan jutek begitu. Jika orang itu seorang muslim, maka sesungguhnya dia telah mengabaikan salah satu syariat yang paling sederhana yang dicontohkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa salah satu karakter seorang muslim adalah bersikap ramah, berwajah ceria dan selalu hangat saat berinteraksi dengan orang lain. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menitah dengan lisan mulianya :

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah engkau remehkan suatu kebajikan sedikitpun, meskipun engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim no. 2626)

Ya, betapa sederhananya perintah Rasulullah yang satu ini. Apa sulitnya berwajah ceria? Benar, tak sulit bagi mereka yang sedang bahagia perasaannya. Tapi tentu amat sangat sulit bagi orang yang baru saja dipecat dari pekerjaannya, lalu dijalan dompetnya kecopetan, dan ban motornya bocor di tengah jalan yang tak ada tanda-tanda kehidupan tukang tambal ban.

Nah, disinilah peran ilmu bermain. Katakanlah wajah ceria itu adalah perasaan positif, dan wajah judes bin jutek itu adalah perasaan negatif. Kita perlu pahami, bahwa tak semua orang bisa dengan mudah mengubah state (kondisi) perasaannya dari state perasaan negatif menjadi state perasaan positif. Saya biasa menyebutnya ; tak semua orang bisa “pindah kotak”. Dari kotak yang mendung, menuju kotak yang cerah.

Di dalam kelas Mind Technology Mastery (MTM), ada sebuah bahasan yang dinamai “empowering state”. Apa itu empowering state? Sederhananya, kita punya potensi untuk berada di zona/state/kondisi perasaan negatif. Entah karena belum makan, dimarahi atasan, belum gajian, handphone hilang dan lain sebagainya. Dan empowering state adalah usaha kita untuk bisa segera memindahkan perasaan kita dari kotak negatif ke kotak positif.

Dan tentu saja, kita tak ingin perasaan negatif ini jadi boomerang kan?

Misal kita sedang merasakan perasaan negatif karena belum gajian dan dimarahi atasan. Lantas ternyata kita bertemu teman lama yang ingin sekali mentraktir kita makan di restoran mahal. Tapi, apa yang akan dilakukannya melihat penampakan wajah kita yang judes bin jutek seperti itu? Kemungkinan dia mengurungkan niatnya mentraktir kita. Mungkin dia berpikir, “Ah, dia mungkin sedang ada masalah berat dalam hidupnya. Lain kali sajalah aku mentraktirnya biar enak ngobrolnya.”

Lantas, siapa yang rugi tak jadi ditraktir ? Ah, itu baru urusan traktir makan. Bagaimana jika urusannya adalah proyek bisnis menggiurkan?

Neuro Linguistic Programming (NLP), memiliki cara yang amat sangat sederhana untuk membantu seseorang pindah kotak. katakanlah goalnya seperti ini :

state model

Untuk mengubah state perasaannya, sebenarnya seseorang tinggal mengubah state gerakannya. Karena prinsipnya adalah ; your emotion create your motion. Emosimu, menciptakan gerakanmu. Dan sebaliknya. Sehingga, logikanya mengubah gerakannya, akan mengubah emosinya.

Saat seseorang sedih, biasanya ia menunjukkan wajah mirip baju belum disetrika. Kusut. Tanpa senyum tentunya. Nah, ketika ia memaksakan senyum, maka sebenarnya ia sedang merusak pola perasaan sedihnya. Permasalahan selanjutnya tinggal ; saat sedih, maukah seseorang mencoba menarik ujung bibirnya hingga membentuk senyuman yang manis & tulus? Jika berhasil menarik kedua ujung bibirnya, maka dijamin pola sedihnya akan berantakan. Coba saja!

Bill-Gates-and-Steve-Jobs-640x426

source : AllthingsD.com

Mengapa seseorang perlu melakukan ini?

Jawabannya sederhana. Karena ekspresi tertentu dari wajah kita, akan secara langsung memengaruhi perasaan orang lain. Kita tentu jauh lebih nyaman menatap seseorang yang tersenyum dibanding yang pasang wajah manyun kan? Perasaan orang itu, akan secara langsung memengaruhi tindakannya. Persis yang terjadi pada teman lama yang tadinya mau mentraktir itu. Perasaan yang tadinya senang bertemu teman lamanya, tiba-tiba lenyap tergantikan perasaan bete sebab menyaksikan wajah teman lamanya yang judes bin jutek.

Emosi kita tanpa disadari secara langsung memengaruhi emosi orang lain. Begitu hukumnya. Seperti yang saya katakan diatas. Untungnya ini hanya urusan traktir makan. Kalau urusan peluang bisnis miliaran, betapa ruginya, kita menolak rezeki dari Allah sebab tingkah kita sendiri!

Persis yang disabdakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ini :

إنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ لِيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlaq yang mulia

Nah, siap pindah-pindah kotak?

salam..

Ingin ngobrol dengan saya di twitter? Sila berkunjung ke twitter saya @Jendralgagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.