Muhammad SAW

No comment 465 views

>>>Hari itu, Rasulullah menjenguk Sa’d ibn Abi Waqash. Salah seorang sahabat terbaik Rasulullah.

>>>Dan dia bertanya pada Rasulullah tentang harta yang akan ditinggalkan untuk keluarganya.

>>>“Ya Rasulullah,” katanya sambil berbaring. “bolehkah aku menginfakkan semua hartaku di jalan Allah?”

>>>“JANGAN!” Jawab Rasulullah singkat. “Bagaimana jika dua pertiganya?” ia bertanya. ” JANGAN!” Jawab Rasulullah lagi.”

>>> ” Bagaimana jika separuhnya saja aku infakkan?” tanya sa’d
” JANGAN!” jawab Beliau.


>>>“Bagaimana jika sepertiganya saja?” tanyanya lagi. “Sepertiga itu..” jawab Rasulullah, “sudah merupakan jumlah yang besar.”

>>>Lalu beliau menyambung “Hai Sa’d sesungguhnya jika engkau meninggalkan keluargamu dalam keadaan kaya, itu jauh lebih baik…”

>>> “…Daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan faqir dan meminta-minta” jelas Rasululllah

>>> Adegan ini..pernah terjadi di waktu yang lain. Pada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Saat itu, Sahabat Rasulullah itu…

>>>…menyatakan hal yang sama dengan yg dikatakan Sa’ad “Aku infakkan semua hartaku!” kata Abu Bakar waktu itu.

>>> Saat itu Rasulullah hanya bertanya, “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”

>>>“Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya!” Jawab Abu Bakar enteng.

>>>Pertanyaannya, knp Beda? knp Rasulullah bedakan sikapnya pada Sa’d dan Abu Bakar? Mengapa soal yang sama dijawab berbeda?

>>> Sepertinya akan ada banyak komentar tentang sikap Rasulullah ini. diantaranya…

>>>1. Kemampuan Sa’d dan Abu Bakar dalam mejemput rezkinya, berbeda. Mereka punya skill bisnis yang berbeda.

>>>Abu Bakar, tentu sudah pertimbangkan matang-matang rencananya itu! Tak mungkin ia biarkan keluarganya dlm keadaan miskin.

>>> jikapun saat itu Abu Bakar habiskan hartanya untuk berinfaq, maka,mungkin esok harinya rumahnya sudah kedatangan investor.

>>> Lalu para investor ini memohon agar dana yang ada pada mereka diolah oleh Abu Bakar. Begitu sepertinya..

>>> 2. Kapasitas personal dan latar belakang keluarga mereka berbeda. Semua paham benar bagaimana kapasitas seorang Abu Bakar.

>>>“bahkan jika dia bilang lebih dari itu, aku percaya!” begitu kata Abu Bakar saat diberitakan Rasulullah naik ke langit.

>>>Begitupun keluarganya.Ada Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi cermin keteladanan sepanjang masa.

>>> “Lihat kek..Ayah meninggalkan begitu banyak harta untuk kita” katanya menenangkan kakeknya yang buta. Tenang sekali.

>>> Sedangkan Sa’d, di generasi kedua..ada Umar ibn Sa’d ibn Abi Waqash yang berandil besar dalam pembunuhan Husain bin Ali..

>>>Jelas sudah! Rasulullah, leader mulia itu, benar-benar memahami siapa orang-orang yang dipimpinnya.

>>> Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam,menjawab dengan jawaban yang berbeda untuk sebuah persoalan yang sama.

>>> Begitulah, beliau paham benar. Bahwa setiap orang punya ukurannya sendiri. Setiap orang punya kapasitasnya sendiri.

>>>Seorang pegulat jangan dituntut utk menari balet.Begitupun seorang pelukis tak bisa digugat jika tak bisa pegang senjata.

>>>Disini Rasulullah menunjukkan leadership skillnya. Sekaligus “reading people” skillnya. Kemampuan “membaca manusia”.

>>>Tak mudah dapatkan skill semacam ini. Perlu ada pengamatan yang sungguh-sungguh terhadap perilaku manusia disekitarnya.

>>> Sehingga seseorang yg mengamati ini mampu mencapai level4 dengan intuisi yang mengagumkan. Ya,intuisi..

>>>Temen-temen TrainingBackpackeran Manglayang kemarin, ini tambahan materi di gunung kemarin ya..

>>>Disebut intuisi, krn ia telah menjadi gerak otomatisasi dlm pikiran. Tanpa perlu dipikirkan terlalu panjang.

>>> Begitu kejeniusan Rasulullah memahami manusia-manusia yang dipimpinnya..Salam ‘alaika ya Rasulallah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply