Muhammad SAW Leadership Style

No comment 688 views

Michael H Hart, dalam buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, menyebut bahwa dari 100 orang paling berpengaruh dalam sejarah manusia, yang berada di posisi pertama adalah seorang lelaki yang bernama Muhammad. Seorang anak yatim piatu nan miskin, yang hidup sekitar 14 abad lalu, yang sampai detik ini begitu dikagumi dan dihormati oleh orang Islam di seluruh dunia.

 

Rasanya ada satu pertanyaan yang layak ditanyakan, “Mengapa Muhammad SAW jadi begitu berpengaruh?”

Terlepas dari aturan bahwa seorang yang telah bersyahadat mesti mengikuti apapun kekata nabi Muhammad, rasanya pasti ada alasan yang sangat kuat mengapa mengagumi Muhammad SAW, dan mengapa beliau begitu punya pengaruh yang sangat kuat.

 

Saya pernah berpikir begini, maaf jika agak aneh dan nyeleneh “andai orang Islam diperintahkan untuk mengikuti Muhammad SAW, hanya dengan perintah dari Tuhannya, tapi ternyata nabi yang bernama Muhammad itu tak mencerminkan perilaku layaknya seorang pemimpin – egois, otoriter, pemarah, dan sebagainya- kira-kira, masih adakah yang bersedia dipimpin oleh Muhammad?”

 

Ah, saya ragu.

 

Ayat, “Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanaah…” itu bagi saya, sebuahjaminan bahwa, ketika Allah SWT menunjuk Muhammad sebagai Rasul-NYA, maka pasti beliau layak dan pantas diandalkan dan diteladani.

 

Dan begitulah kenyataannya.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala tak mungkin salah ketika menunjuk Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai RasulNYA, sekaligus sebagai pemimpin pertama umat Islam.

Muhammad SAW memang memiliki kompetensi.. ah maaf, mungkin lebih tepatnyakarakter seorang pemimpin.

Lembaran kisah sejarah kehidupan Muhammad SAW telah membuktikan, bahwa Muhammad SAW memang layak menjadi teladan umat Islam di seluruh dunia dan sepanjang zaman. Oke, jadi seperti apa gaya kepemimpinan Muhammad SAW ?

 

 

Here we go…

 

1. Leader Do Not Blame

Kita bisa perhatikan, saat Rasulullah SAW memerintahkan pasukan pemanah di atas bukit Uhud untuk tak coba-coba turun, apapun yang terjadi di bawah. Lalu ternyata sebagian besar pasukan pemanah melanggar perintah itu. Perintah itu sangat keras. Nampaknya Rasulullah SAW tahu persis akibat dari melanggar perintah itu. Terbukti, akhirnya pasukan muslim kalah telak di pertempuran Uhud. Banyak sekali sahabat Rasulullah gugur. Termasuk Hamzah bin Abdul Muthallib. Sang paman yang sangat disayangi Rasulullah.

Tapi anehnya, sampai detik ini saya belum menemukan kisah, riwayat, literatur sejarah, yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW marah setelah peperangan Uhud usai.

 

Apa yang akan kita lakukan, saat kita sudah katakan sesuatu, dan orang-orang ngeyel, lalu sesuatu yang tak diinginkan terjadi? Kemungkinan besar kita akan berkata seperti yang dikatakan Jendral Naga Bonar, “Bujang! Sudah kubilang kau jangan bertempur.. bertempur juga kau. Sekarang mati kau.. dimakan cacing!”

Entah, apakah ada godaan pada diri Rasulullah untuk menyalahkan pasukan pemanah yang ngeyel menuruni bukit. Hanya karena mereka melihat kemenangan sudah di depan mata. Pasukan di bawah sudah mengumpulkan harta rampasan perang. Mereka takut tak kebagian. Yang jelas begitulah kehebatan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Meski jelas siapa yang salah, tak pernah lisannya terpancing untuk marah dan menyalahkan.

 

 

2. Leader Protect The Troops

Masih di Uhud, kita akan saksikan episode perjuangan yang menggambarkan karakter kepemimpinan Rasulullah SAW yang begitu memukau. “Saat itu..” tutur Syaikh Mubarakfury dalam Ar Rahiiqul Makhtum nya, “Rasulullah SAW hanya bersama sekelompok kecil sahabat. Sembilan orang.”

Saat itu beliau hanya punya dua pilihan ; pertama melarikan diri bersama 9 orang sahabat itu ke tempat yang lebih aman. atau kedua, menyatukan kembali seluruh pasukan yang sudah porak poranda, lalu bergerak bersama keluar dari kepungan musuh. Pilihan pertama, kecil sekali resikonya. Rasulullah bisa menyelamatkan diri dengan mudah. Pilihan kedua, resikonya 80% mati.

 

Tapi rupanya, Rasulullah mengambil pilihan kedua. Rasulullah berteriak keras, “Wahai hamba Allah! Wahai Hamba Allah!” seru Rasulullah memanggil pasukan yang sudah tercerai berai. Teriakan itu, tentu saja tak hanya didengar oleh pasukan kawan. Tapi juga oleh pasukan lawan. Pasukan musuh yang tadinya tak tahu yang mana orang yang bernama Muhammad, tentu dengan mudah langsung mengenali. “Aha, itu dia Muhammad!”

Saat beliau berteriak itu, hanya 9 orang sahabat yang bersama beliau. Pasti besar sekali kemungkinan pasukan musuh menghampiri dan menyerang.

Tapi begitulah beliau SAW. Pemimpin sejati tak pernah mementingkan diri sendiri. Rasulullah mengambil resiko agar seluruh pasukan bisa selamat, bukan kabur seorang diri.

 

 

3. Leader Always Listening

Jika pemimpin yang disebut demokratis itu adalah yang mau mendengar aspirasi orang-orang yang dipimpinnya, maka mari belajar dari Rasulullah SAW untuk menjadi pemimpin yang demokratis. Adalah perang Ahzab yang menjadi saksi kebesaran jiwa Muhammad SAW mendengar ide para sahabatnya dalam urusan strategi perang.

Saat itu pasukan musuh-musuh Islam sudah berkumpul dari segala penjuru, dari segala suku dan kabilah. Tujuan mereka hanya satu. Menyerang umat Islam dan menghentikan Rasulullah SAW menyebarkan Islam. Ada sekitar 10 ribu orang pasukan musuh yang siap menyerang Madinah. Andai penyerangan itu terjadi tiba-tiba, habislah kaum muslimin.

 

Mata-mata yang mengamati aktifitas musuh ini, melapor ke Rasulullah. Sehingga Rasulullah langsung menggelar rapat darurat. “Wahai Rasulullah..” Salman Al Farisi bersuara, “Dulu, jika kami orang-orang Persi sedang dikepung musuh, maka kami membuat parit di sekitar kami.” Usulan yang begitu brilian itu pun langsung diterima. Hingga jadilah perang Ahzab juga disebut perang Khandaq.

Beberapa riwayat lain, masih tentang Salman Al Farisi. Saat itu Rasulullah memerintahkan untuk berkemah di suatu titik. Lalu Salman bertanya, “Ya Rasulullah, apakah ini wahyu ataukah hanya pendapat engkau?”. Rasulullah SAW menjawab, “itu hanya pendapatku..”,Lalu Salman mengusulkan untuk berkemah di tempat lain, dengan pertimbangan dekat dengan sumber air, dan jauh dari jangkauan musuh.

Saya tak bisa membayangkan, betapa mudahnya Rasulullah menekan egonya sebagai seorang pemimpin yang memiliki otoritas besar. Bukankah sebenarnya beliau bisa menjawab, “Sudahlah Salman, nurut sajalah!”

 

Begitu proporsional dan adilnya sikap Rasulullah. Siapapun yang punya ide lebih cemerlang, itu yang diambil menjadi sebuah kebijakan!

 

 

4. Leader Makes Connection

Salah satu yang membuat para sahabat Rasulullah itu begitu mencintai Rasulullah adalah karena Rasulullah pun begitu mencintai mereka. Betapa banyak kisah yang menunjukkan kecintaan Rasulullah kepada para sahabatnya. Simak bagaimana Rasulullah berkata kepada Khalid ibn al Walid tentang Abdurrahman ibn ‘Auf, “Jangan cela sahabatku…”  Kata Rasulullah“Demi Allah, andai kalian berinfaq emas seberat gunung Uhud, hal itu takkan mampu menyamai shadaqah segenggam atau setengah genggam tepungnya..”. Kala itu Khalid dan Abdurrahman sedang terlibat sebuah konflik.

 

Di waktu yang lain, giliran Khalid yang mendapat sanjungan beliau. “Ia tetap pedang Allah yang terhunus.” Begitu pembelaan Rasulullah saat para sahabat lain terus menyalahkan Khalid.

Betapa mudah lisan Rasulullah SAW membuat kalimat pujian dan sanjungan.“Kedudukanmu di sisiku…” sabda Rasulullah kepada Ali ra, “laksana Harun di sisi Musa. Tapi tak ada lagi nabi sesudahku…”

 

Atau kekata Rasulullah dihadapan para sahabat lain tentang Thalhah, “Siapa yang ingin melihat Syahid yang masih berjalan di muka bumi. Lihatlah Thalhah!”

Kita tau bahwa dalam konsep kepemimpinan modern, selalu menekankan pada baiknya hubungan pemimpin dan orang yang dipimpin. Rasulullah SAW, sang pemimpin mulia itu, telah lebih dulu menjadi model ideal sebuah konsep kepemimpinan

 

 

Ah, sudah terlalu panjang ternyata…

Kapan-kapan kita sambung lagi.

 

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad…

 

 

Follow saya di twitter @JendralGagah

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.