Muhammad Leadership Style Part 2

No comment 551 views

 

5. Leader Makes Insight

 

Mari belajar bagaimana seorang pemimpin besar seperti Rasulullah yang mengalah saat di forum musyawarah, tak banyak yang mendukung usulannya..

Hari itu Rasulullah SAW bermimpi. Dan selanjutnya beliau menceritakannya kepada beberapa sahabat. “Demi Allah aku telah bermimpi, sebuah mimpi yang baik..”  sabda sang nabi. “Dalam mimpi itu aku melihat beberapa ekor lembu yang disembelih. Lalu kulihat bagian mata pedangku ada yang rompal, dan aku memasukkan tanganku ke dalam baju besi yang kokoh.” 

Kisah beliau tentang mimpinya itu, disampaikan di sebuah forum musyawarah dengan para sahabat. Sebab ada kabar tentang pergerakan sekitar 3000 pasukan Quraisy dari Makkah menuju Madinah.

 

Saya kurang paham apakah saat itu beliau SAW menyampaikan pula kecenderungan atas ta’wil mimpi beliau itu. Rasanya tidak. Sebab usulan strategi yang disampaikan Rasulullah berikutnya, akhirnya tak terlalu mendapat dukungan para sahabat. Usulan strategi yang disampaikan Rasulullah adalah ; bertahan di dalam kota Madinah, sehingga memungkinkan membuat musuh bimbang. Jika mereka hanya mengepung, tentu keadaan akan mengambang. Tapi jika mereka masuk ke dalam kota, pasukan kaum Muslimin bisa dengan mudah menyerang dari setiap sudut kota yang tentu lebih dikuasai seluk beluknya.

 

Mungkin, jika ta’wil mimpi itu disampaikan, akan berbeda ceritanya. Bahwa beberapa ekor lembu yang disembelih berarti akan ada beberapa sahabat yang terbunuh syahid. Mata pedang yang rompal, tulis Syaikh Mubarakfury dalam Ar Rahiiq al Makhtuum, berarti anggota keluarga beliau juga ada yang mendapat musibah. Dan baju besi yang kokoh itu rupanya dita’wilkan sebagai kota Madinah.

 

Sebagian besar sahabat berpendapat sebaliknya. Terutama para sahabat yang tak sempat hadir di Perang Badr. Mereka justru menantikan momentum ini. “Keluarlah ya Rasulullah. Kita akan songsong mereka. Jangan sampai mereka menganggap kita takut pada mereka!” begitu kata mereka penuh semangat. Bahkan Hamzah ibn ‘Abdul Muthallib pun ikut bersuara, “Demi yang menurunkan Al Kitab kepadamu dengan kebenaran, aku tidak akan memberikan makanan sampai bisa membabat mereka dengan pedangku ini di luar Madinah!”

 

Dan Rasulullah akhirnya mengikuti usulan sebagian besar para sahabat itu. Mungkin dengan berat hati. Beliau mengalah. Padahal, bukankah sangat mungkin beliau berkata tegas, “Tak ada yang membantah. Kita tetap di Madinah, dan menyambut mereka dari dalam kota!” Tapi beliau tak pernah melakukan itu. Agaknya itupun jadi bagian pembelajaran bagi para sahabat. Dan Uhud, adalah saksi benarnya ta’wil dari mimpi Rasulullah tersebut. Pasukan kaum muslimin kalah. Rasulullah terluka. Hamzah dan 70 sahabat lainnya gugur di medan Uhud.

Dan betapa kekalahan pasukan kaum muslimin di perang Uhud ini, memberikan pelajaran yang begitu berharga kepada para sahabat Rasulullah. Pelajaran yang tak perlu dijelaskan oleh Rasulullah. Semua bebas mengambil pelajaran.

 

 

6. Leader Knows The Followers

 

Rasulullah baru saja pulang dari pertempuran Tabuk. Beliau sampai di Madinah, masuk ke masjid dan shalat dua rakaat. Sudah jadi kebiasaan beliau seperti itu. Seusainya, Rasulullah menerima tamu, termasuk orang-orang yang berdatangan dengan membawa alasan ketidakhadiran di perang Tabuk. Orang-orang munafik memberikan alasannya masing-masing, dilengkapi dengan sumpah palsunya.

Tak sedikitpun Rasulullah marah pada mereka. Rasulullah hanya mengatakan “Ya” lantas memohon ampun untuk mereka. Namun, begitu ada seorang lain yang hadir, raut wajah beliau berubah. Beliau tersenyum pada lelaki itu. Tapi senyum yang tak biasanya. Senyum yang menyimpan marah.

“Kemarilah!” Sabda Rasulullah pada lelaki itu. Lalu Rasulullah bertanya padanya, alasan tak ikut sertanya pada perang Tabuk.

 

“Ya Rasululah, demi Allah… aku tidak punya uzur.” ungkapnya terbata-bata.

Lelaki itu bukan tak mampu beralasan. Lelaki itu justru telah merancang alasan yang brilian. “Demi Allah..” katanya di kemudian hari mengenang kejadian itu. “Aku adalah salah seorang yang paling fasih lisannya & paling lihai berdiplomasi. Andai kusampaikan alasanku, niscaya Rasulullah pasti menerimanya…”.  Tapi ia memilih tak beralasan. Ia mengakui kesalahannya. Dan nampaknya telah siap dengan keputusan apapun yang akan diterimanya.

 

“Pergilah kau… “ Kata Rasulullah sambil memalingkan wajahnya. “… Sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”

Sejak hari itu, lelaki yang bernama Ka’ab ibn Malik itu, bersama dua orang lainnya, Murarah ibn Rabi’ dan Hilal ibn ‘Umayyah, menjalani hari-hari berat penantian, hingga taubatnya diterima.

Hari demi hari mereka seolah tak mengenal siapapun. Tak ada yang boleh berinteraksi dengan mereka. Bahkan salam mereka pun tak dijawab. Bumi terasa sangat sempit bagi mereka bertiga. Di masjid, usai shalat, Ka’ab berusaha mencari wajah nabi. Ia mencoba mengucap salam & tersenyum. Tapi wajah agung itu hanya diam, berpaling lalu menjauh. Ia menyadari kesalahannya. Tapi ia tak menyangka hukumannya akan seberat ini. “Rasanya aku tak lagi mengenal dunia ini..” begitu katanya melukiskan kegelisahan batinnya.

 

Dalam satu riwayat, di hari keempat puluh, datang seorang utusan Rasulullah SAW. “Sesungguhnya engkau diminta menjauhi istrimu!” kata utusan itu. Dunia semakin sempit sejak istrinya dipulangkan ke rumah orangtuanya. Kini Ka’ab benar-benar sendiri. Ia lalu membuat kemah di gunung. Dalam kesendirian dan kesedihannya itu, ia kembali diuji. Seorang utusan raja Ghassan menyampaikan surat dari sang raja, menawarkan jabatan sebagai duta besar kekaisaran Romawi Timur. Tawaran itu benar-benar menggiurkan. Tapi inilah Ka’ab. Keimanannya bukan keimanan anak kemarin sore. Ia telah membersamai Rasulullah dalam semua peperangan. Ka’ab lantas berkata pada dirinya, “Inilah musibah sesungguhnya. Jika sampai kau terima tawaran orang musyrik untuk meninggalkan Allah dan RasulNYA, maka kau takkan beruntung selama-lamanya!”.  Surat itu lalu dibakarnya.

Hingga di pagi yang kelima puluh, seorang sahabat berteriak padanya dari puncak bukit, “Hai Ka’ab ibn Malik! Bergembiralaha!!” Teriakan itu yang ditunggu-tunggunya. Ia tahu semua sudah berakhir. Allah telah menerima taubat mereka. Hingga mengabadikannya dalam firmanNYA,

 

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan taubat mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit pula terasa oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.”  (At-Taubah : 118)

 

Setelah itu ia bergegas menemui Rasulullah. Berduyun-duyun orang menyalami dan mengucapkan selamat kepada Ka’ab. “Bergembiralah dengan hari yang terindah yang pernah engkau lalui sejak dilahirkan ibumu!” sabda Rasulullah dengan wajah yang berbinar padanya.

Sebagai pemimpin, Rasulullah nampaknya mengenal benar kualitas keimanan ketiga orang ini ; Ka’ab ibn Malik, Murarah ibn Rabi’ dan Hilal ibn ‘Umayyah. Hukuman 50 hari itu, mampu mereka lalui dengan gemilang meski dengan kepayahan. Ya hanya tiga orang ini yang dihukum oleh Rasulullah. Bukan yang lain. Saya berpikir, hukuman bagi ketiga orang ini pun sesungguhnya adalah pendidikan yang sangat berharga bagi keimanan mereka. Agar semakin cemerlang keimanannya. Hukuman ini tak dijatuhkan pada orang-orang yang beralasan dan memberikan sumpah palsu itu. Karena Rasulullah paham betul, memang tak ada gunanya untuk mereka. Bagi orang-orang munafik itu, dihukum atau tak dihukum akan sama saja rasanya.

 

 

7. Leader Can Educate

 

Salah satu kegemilangan kepemimpinan Rasulullah adalah kemampuan beliau mendidik dengan pendidikan yang komprehensif. Kita mengenal dari sejarah begitu agungnya akhlaq dan kepribadian Rasulullah.

Kepribadian yang nyaris tiada cela. Kepribadian yang mampu membuat siapapun yang mengikuti jejak-jejak kehidupannya, pasti jatuh cinta. Kepribadian yang nyaris sempurna ini, justru sebenarnya mampu jadi masalah.

 

Mengapa?

 

Karena, cinta yang teramat sangat pada manusia, itu mampu berujung maksiat pada Allah. Karena cinta yang teramat sangat pada manusia, tanpa disadari, justru berpotensi besar menggelincirkan manusia menuhankan manusia lainnya. Dan, dalam agama ini, manusia tetaplah manusia. Jika ia dicintai melebihi kecintaan manusia pada Tuhannya, maka itu sebuah kesalahan. Dan Muhammad SAW, mampu mendeteksi itu. Beliau tak membiarkan kecintaan para sahabat, dan kaum muslimin kepada dirinya, melampaui kecintaan kepada Rabb.

 

Umar ibn al Khattab nyaris mengalami jebakan itu. Kecintaannya pada lelaki mulia bernama Muhammad SAW itu memang tak mungkin mampu diukur oleh apapun. Lelaki gagah dan bengis sebelum mengenal Islam itu, amat sangat mencintai Rasulullah SAW.

Hari itu, hari yang begitu kelam bagi kaum muslimin. “Tak ada hari yang lebih bercahaya di Madinah, daripada hari saat beliau hadir kepada kami. Dan tiada hari yang lebih gelap dan muram daripada hari saat beliau wafat..” Begitu kata Anas ibn Malik. Ya, Rasulullah SAW. Pemimpin mulia itu kembali kepada Rabbnya. Semua menangis dan meratap. Tak ada kesedihan yang mampu disembunyikan pada hari itu.

 

Tapi ‘Umar malah membuat kehebohan di hari itu. “Sesungguhnya, beberapa orang munafik berkata bahwa Rasulullah telah meninggal dunia.” katanya dengan suara menggelegar, parau dan mata berkaca-kaca. “Sesungguhnya beliau tidak wafat! Sesungguhnya beliau tidak meninggal! Beliau hanya pergi menemui Rabbnya, seperti Musa yang pergi meninggalkan kaumnya selama 40 hari. Lalu kembali lagi pada mereka, setelah dikira mati! Demi Allah, beliau pasti akan kembali lagi! Pasti akan kembali! Siapapun yang mengatakan Rasulullah meninggal maka akan kupotong tangan dan kakinya!!!”  sambungnya sambil terus mengayun-ayunkan pedang.

 

Berat sekali ‘Umar menerima kenyataan itu. Baginya, entah apa jadinya dunia tanpa Muhammad SAW. Tak bisa diterima dengan pikiran jernihnya berita wafatnya Rasulullah. Hingga Abu Bakr menenangkannya. “Duduklah hai ‘Umar!”

Tapi ‘Umar masih seperti orang kesetanan. Ia masih terus mengayun-ayunkan pedangnya.

Lantas Abu Bakr berkata dengan suara lantang, “Barangsiapa menyembah Muhammad, maka ketahuilah…sungguh Muhammad telah wafat!”  ia berhenti sejenak. “Tapi barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup kekal!” katanya dengan suara keras namun tenang & berwibawa.

 

Abu Bakr lalu membacakan sebuah ayat, “Muhammad itu tak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika ia mati atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang? Dan barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tak dapat mendatangkan madharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 144)

 

‘Umar terduduk lemas mendengar ayat ini. Pedangnya pun jatuh ke tanah. ‘Umar mengikuti ayat yang dibacakan sahabatnya itu. Sahabat yang selalu ia kejar-kejar kesempurnaan ibadahnya. Hingga ia menyadari bahwa tak mungkin ia menandingi kualitas ibadah Abu Bakr.

Ia nampaknya baru tersadar, Rasulullah memang hanya manusia biasa. Yang memang akan menemui kematian.

 

 

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad..

Ya Allah, izinkan kami bertemu dan mencium tangan Rasulullah di SurgaMU…

aamiin..

 

– the end-

 

Ingin ngobrol dengan saya di twitter? Sila kunjungi twitter saya di @JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.