Monetizing Intelligence

No comment 765 views

Sekitar tahun 2005an, semasa saya masih bujangan, saya pernah patungan dengan salah satu parpol untuk menyewa sebuah rumah. Si parpol menjadikan rumah itu sebagai kantor DPC, dan saya untuk tempat tinggal. Maklumlah orang perantauan, jadi cari tempat tinggal yang ekonomis.

Ceritanya, suatu hari ada seorang pengurus yang bilang ke saya, bahwa ada sebuah keluarga yang membutuhkan bantuan. Sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ; Ayah, ibu & kalau saya tak salah ingat 2 orang anak. Keluarga itu butuh bantuan untuk numpang tinggal di rumah yang saya sewa itu untuk sekian waktu, karena mereka punya kesulitan ekonomi jika harus mengontrak rumah.

 

Sebenarnya saya tak masalah kalaupun ada yang mau menumpang di rumah itu karena membutuhkan bantuan. Yang jadi masalah adalah, rumah itu cuma punya satu kamar! Mereka, keluarga kecil dengan 2 orang anak itu mau tidur dimana?

Saat itu si kepala keluarga bilang, bahwa mereka sudah boleh tinggal di rumah itupun sudah syukur, tak masalah kalau mereka tidur di ruang tamu. Duh, saya serba salah. Saya enak tidur di kamar, dan mereka tidur di ruang tamu. Kalaupun mereka tidur di kamar, takkan cukup untuk mereka berempat, karena kamarnya sangat kecil. Kecuali kalau semua barang saya di kamar dikeluarkan dari kamar. Tapi tentu akan sangat merepotkan.

 

Singkat cerita akhirnya mereka tinggal dirumah itu bareng saya. Dengan segala keterbatasan situasi & kondisi. Dengan si istri harus tidur dengan menggunakan pakaian lengkap dengan jilbab.

 

Satu yang ada di pikiran saya waktu itu, saya penasaran bagaimana ceritanya mereka bisa sampai di kondisi tak menyenangkan seperti itu?

Yang saya pikirkan adalah ; apa latar belakang pendidikan si kepala keluarga?

Dan betapa saya terkejut dengan jawaban yang saya dapat. Si kepala keluarga adalah seorang Master (S-2) lulusan luar negeri! Tak perlu dituliskan lah ya kalau lulusan Australia? Tak perlu tau lah.

 

Dan mereka punya masalah ekonomi karena si kepala keluarga tak punya penghasilan!

Kuping saya seperti tersambar petir, prangg! (eh bukan begitu bunyi petir ya!) duaarr!

 

Whaaattt!

 

S-2 lulusan luar negeri kesulitan mencari penghasilan?

Saya merenung sendiri, apa yang salah dengan si kepala keluarga?

Bagaimana mungkin, seorang master lulusan luar negeri kesulitan punya penghasilan?

 

Dan akhirnya saya menyimpulkan satu jawaban.

Sepertinya masalahnya satu saja ; MONETIZING INTELLIGENCE. Kecerdasan untuk mengubah keilmuan/kompetensi menjadi sumber uang. Tapi tak perlu mencari istilah ini di mesin pencari. Karena istilah itu hanya istilah sok tau saya saja. Intinya ada banyak orang yang bisa menjadi pintar secara akademis. Karena memang sangat mudah untuk pintar secara akademis. Tinggal rajin sekolah, rajin kuliah, belajar yang rajin, anda pasti pintar! Pasti bagus nilainya. Pasti dapat gelar keren!

 

Yang jadi persoalan terbesarnya adalah tak semua orang bisa mengkonversi kepintaran akademisnya itu menjadi uang! Tak semua orang bisa mengubah ilmunya jadi sumber penghasilan untuk dirinya. Mungkin ini juga yang jadi sebab ada begitu banyak pengangguran tak berpenghasilan di negeri tercinta ini, padahal mereka punya latar belakang pendidikan yang cukup tinggi ; SMA, D3 atau bahkan S1 !

Saya sendiri banyak menemukan teman-teman, saudara, tetangga yang punya latar belakang pendidikan baik, tapi bermasalah dengan monetizing intelligence. Mereka kesulitan mengubah keahlian mereka jadi sumber uang.

 

 

Coba amati sekitarmu. Adakah yang bermasalah dengan Monetizing Intelligence?

 

Bagi saya, dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat saat ini, adalah sebuah kesalahan besar ketika seseorang dengan latar belakang pendidikan yang baik, masih punya masalah dengan CARA MENCARI UANG. 

Itu juga yang membuat saya sungguh geram ketika menemui orang-orang dengan kompetensi sangat baik, mengeluhkan gajinya yang kecil di perusahaan tempatnya bekerja. “Hellooooww.. yang mau kerja disitu kan elu! Elu punya kompetensi keren, tapi memilih punya penghasilan kecil di tempat itu!” Ingin rasanya berteriak begitu. Kalau sudah memilih untuk punya penghasilan segitu ya sudah nikmati, tak usah mengeluh. Kalau mau yang lebih besar ya cari di tempat lain! Karena sesungguhnya, dengan kemampuannya yang keren itu, dia bisa punya penghasilan yang berkali-kali lipat lebih besar.

 

Sudah lama saya ingin membahas ini, tapi baru kesampaian. Seminar online saya yang ini : Monetizing Intelligence pun bermaksud membuka paradigma kita tentang betapa pentingnya memiliki monetizing intelligence. Agar kita selalu fleksibel mencari sumber penghasilan.

Ingat karakter rezeki dari Allah ; ia bisa datang dari arah yang tak pernah disangka-sangka. Semakin baik monetizing intelligence kita, semakin mudah kita menjemput rezeki dariNYA. Saya berharap, setelah teman-teman memiliki paradigma yang baik tentang monetizing intelligence, segera tularkan! Ajarkan ke orang-orang terdekat kita sehingga mereka juga memiliki monetizing intelligence yang baik.

 

Salam cerdas!

 

Ngobrol dengan saya di twitter @JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply