Menjemur dan Menjual

No comment 1771 views

Bagi saya, menjual itu persis seperti orang yang menjemur pakaian atau menjemur cucian. Apa yang perlu dilakukan seseorang untuk menjemur pakaian ? Sederhana. Pertama, siapkan pakaian yang akan dijemur. Bukan menjemur pakaian namanya, kalau nggak ada pakaian yang akan dijemur kan? Dalam penjualan, menjemur pakaian itu adalah aktifitas menjual. Pakaian yang dijemur adalah produk yang akan dijual. Tak ada produk, apa yang mau dijual?

 

Kedua, pastikan ada jemurannya. Atau tempat menjemur. Tiang di sisi kanan dan kiri yang diikat dengan tali atau kawat. Atau yang lebih praktis, siapkan jemuran portabel yang bisa dipindah-pindahkan posisinya sesuai keinginan. Jemuran ini, tentu beragam bentuk dan jenis. Tiap jenis bisa jadi beda fungsi dan cara penggunaannya. Semakin paham kita cara menggunakannya, semakin mudah kita menjemur pakaian. Tempat menjemur ini, dalam penjualan adalah media tempat kita menjual. Tentu ada banyak sekali media yang bisa digunakan. Jika di offline, medianya bisa koran, radio, spanduk dan sebagainya. Jika di online, bisa social media, market place, atau yang lainnya.

 

Setiap media itu punya fungsi dan cara pakai yang bisa jadi berbeda pendekatannya. Kenapa di social media sebaiknya tidak beriklan dengan blak-blakan atau brutal ? Karena social media pada dasarnya adalah tempat bersosialisasi, mencari teman baru, bercengkrama, dan lainnya. Bukan tempat untuk belanja.  Itu kenapa akhirnya lahir ilmu ghaib itu, agar kita bisa menjual dengan sangat elegan. Dengan covert. Semakin bagus jemurannya, semakin paham kita cara pakainya, semakin mudah tentunya kita menjemur, dan semakin cepat kering pakaian yang dijemur.

 

7575

Source : detektif-fisika-doni.blogspot.com

Menjemur pakaian pun perlu menggunakan kecerdasan dan perlu ilmu. Nggak asal menjemur. Karena ketika salah menjemur, bisa jadi fatal akibatnya. Kita perlu tau, jenis pakaian yang kita jemur. Misal, menjemur jaket kulit tentu tak bisa disamakan dengan jaket biasa. Jaket kulit itu HARAM dijemur di terik matahari. Kalau berani coba-coba, jaket kulit itu akan segera menjelma menjadi bedug masjid. Kering, keras, kaku!

Begitupun menjual ,kita perlu paham sekali  apa produk yang kita jual, dan cara menjualnya. Menjual produk harga Rp.50ribu tentu jauh berbeda caranya dengan menjual produk seharga Rp.5juta. Nggak semua orang mampu dan mau membeli produk seharga Rp.5juta. Apakah lebih sulit menjual produk harga Rp.5juta ? Sama sekali tidak, jika cara yang digunakan benar.

 

Ketika menjemur pakaian, kita sama sekali tak bisa memastikan apakah pakaian yang kita jemur pasti akan kering. Kenapa? Karena kita tentu sama sekali tak bisa memastikan cuacanya akan terus panas. Bisa jadi kita jemur pakaian sekarang, eeeh…10 menit kemudian tiba-tiba mendung, dan hujan. Bisa saja kan?

Itu kenapa, dalam menjemur pakaian, sebaiknya bukan keringnya pakaian yang jadi goal utamanya. Keringnya pakaian bagi saya adalah efek dari terjemurnya pakaian. Jika kering itu menjadi goalnya, saya khawatir kita akan mudah kecewa ketika cuaca tiba-tiba mendung atau tiba-tiba hujan, yang membuat pakaian tak akan kering. Bagi saya, yang perlu jadi goalnya adalah terbentangnya pakaian di tempat tertentu yang tak kena hujan. Sehingga cepat atau lambat, pakaian itu akan kering dengan sendirinya, meski tak kena panas matahari secara langsung. Kita hanya memperbesar potensi keringnya, bukan memastikan kering dalam waktu cepat. Sehingga, disini kita butuh fleksibilitas berpikir agar kita bisa menyiapkan sejuta strategi menjemur baru, ketika sebuah strategi menjemur tak berhasil membuat pakaian kering.

 

Begitupun penjualan. Banyak sekali teman-teman yang mengeluhkan bahwa mereka sudah menggunakan segala macam cara, segala macam strategi dan teknik iklan, segala media untuk jualan, tapi tak juga closing. Sebagian akhirnya putus asa, bahkan sampai berpikir mereka tak berbakat jualan. Jualan itu persis menjemur pakaian, tak butuh bakat kalau cuma mau jemur pakaian, kan?

Nah, kekecewaan itu muncul karena menjadikan closing sebagai goalnya. Bagi saya, bukan closing yang seharusnya menjadi goal kita dalam jualan. Closing hanya efek dari sebuah aktifitas penjualan. Jika kita muslim, maka closing itu urusan Rabb Yang Maha Membagikan Rezeki. Bukan urusan kita. Alangkah merepotkannya mengurusi urusan yang bukan urusan kita. Urusan kita hanya berpikir fleksibel, untuk mencoba segala macam cara. Benar-benar segala macam cara. Bukannya baru mencoba 1-2 macam cara, lalu berkata telah mencoba segala macam cara.  Tugas kita hanya memperbesar potensinya. Cukup itu saja.

 

Oke sekian dulu. Mau menjemur pakaian lagi. Tadi setelah panas terik, tiba-tiba hujan.

Allahumma shayyiban naafi’an..

 

Ki Jendral Nasution

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.