Menerima Apa Adanya

1 comment 889 views

gingerbread coupleNampaknya kita sering sekali mendengar kalimat semacam ini ;

“pasangan saya itu harus mau menerima saya apa adanya..”,

“saya ini orangnya sembrono, ya sudah terima sajalah apa adanya!” 

Sekilas, kalimat semacam itu mungkin tak mengandung masalah apapun. Tapi lagi-lagi kita bicara tentang perspektif. Mari memandangnya dari sudut yang berbeda. Agar suatu hal, bisa punya makna yang berbeda pula.

Kalimat semacam itu, bagi saya kok semacam “pembenaran” ya?

Pembenaran tentang kelemahan diri yang enggan diperbaiki. Jika kalimatnya adalah, “menerima apa adanya”, kira-kira logika saya begini ;

Si A adalah orang yang sembrono. Kemudian ia berkata,ya sudah terima sajalah apa adanya!” kok kalimat ini terdengar seperti, “Biarkan saya tetap jadi orang sembrono. Kamu harus mengerti & memaklumi kesembronoan saya!” 

Sayang sekali ya…padahal ketika kita telah menikah, seharusnya kita bisa memanfaatkan kondisi itu dengan baik. Pasangan kita, seharusnya jadi partner berlatih kita untuk menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Pasangan kita itu, jauh lebih hebat dari trainer, coach, atau motivator dalam mengubah kita. Karena kita bisa bersama pasangan kita setiap hari. Bahkan setiap jam. Atau bahkan setiap menit.

 

Waktu-waktu yang kita lewati bersama pasangan kita itu, sesungguhnya adalah aktifitas pertukaran karakter. Setiap kata, setiap kalimat yang meluncur dari setiap obrolan kita bersama pasangan, sesungguhnya adalah proses perpindahan poin-poin kepribadian. Karakter yang baik dari pasangan kita, akan berpindah pada diri kita. Dan sebaliknya karakter baik pada kita, berpindah ke pasangan kita. Begitupun karakter buruknya. Pasangan tetap akan saling bertukar karakter, apapun karakternya. Makin tinggi intensitas kebersamaan pasangan suami-istri, makin cepat pula proses pertukaran karakter itu.

Maka, kita mulai bisa membayangkan. Mending kalau kalimat “ya sudah terima sajalah apa adanya!” itu ditujukan kepada karakter-karakter yang baik. Lha, kalau itu ditujukan untuk yang buruk? Bukankah secara tak langsung kita sedang “memaksa” pasangan kita agar tertular karakter buruk kita?

Maka, mulai sekarang, berjanjilah untuk tak lagi percaya dengan kalimat “pasangan saya itu harus mau menerima saya apa adanya..”. Mulailah menggantinya dengan, “Pasangan saya itu harus mau menerima saya, karena saya akan terus meningkatkan kualitas diri saya menjadi jauh lebih baik lagi..” !

Ingat, salah satu ciri pernikahan yang barakah, adalah bertumbuhnya kebaikan-kebaikan dalam pernikahan itu…

 

salam jernih..

@JendralGagah

 

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini
  1. author

    santi5 years ago

    Analisa yang CERDAS om jendral 😉
    setujuh sayah !
    Dalam Upaya saling memperbaiki diri masing2 pasangan, kalaupun berubah, bukan karena pasangan kita (suami/istri) tapi lebih karena CINTA yang terbalut tanggung jawab pd Ilahi

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.