Memeriksa Kembali Etika Bisnis Kita

No comment 1063 views

Kita pasti pernah membaca ungkapan, “Bisnis bukan sekadar untung rugi. Bisnis itu tentang surga atau neraka.” Bagi saya pribadi, ungkapan ini adalah rem yang sangat ampuh untuk mengingatkan kepada diri, agar lebih & semakin hati-hati berurusan dengan uang dalam bisnis.

Bagi kita yang seorang muslim, kita perlu memastikan bahwa aktifitas bisnis kita hanya akan membawa keberkahan & menambah timbangan kebaikan. Jika tidak, sebaiknya cari pekerjaan lain sajalah.

 

Salah satu hal yang penting & mendesak untuk kita perhatikan dalam aktifitas bisnis kita adalah ETIKA. Etika selalu bicara tentang keridhaan orang yang menjadi partner bisnis, entah itu mitra bisnis, orang yang membeli dari kita, atau orang yang menjual kepada kita.

 

Bagi saya, nampaknya kita perlu lebih memerhatikan soal AKAD. Karena akad adalah syarat sah terpenting dalam urusan jual beli. Ini etika paling dasar yang dilarang keras mengabaikannya.

 

 

“Mbak, saya beli gamis yang warna merah. Minta nomor rekeningnya ya…” Dan setelah diberi nomor rekening, dia menghilang. Raib tanpa kabar. Padahal orangnya masih sering muncul di recent update BBM. Padahal status Facebooknya masih sering nongol dinewsfeed.

 

” Mas, saya daftar seminar online-nya. Minta nomor rekeningnya ya…”

Dan setelah itu dia menghilang. Raib seperti ditelan bumi. Padahal orangnya masih nongol di grup sebelah.

 

Apa yang salah memangnya?

 

“Kan saya nggak merugikan anda! Toh gamisnya belum dikirim ke saya.”

 

“Kan saya nggak merugikan anda! Toh saya belum ikut seminarnya.”

 

 

Benarkah tak ada yang salah?

 

 

Begini, sederhananya, penjual & pembeli memang memiliki hak untuk memilih akan meneruskan atau membatalkan akad. Rasulullah menyebutnya dengan Khiyar (hak memilih). Kata Rasulullah “Sesungguhnya penjual dan pembeli memliki hak khiyar selama keduanya belum berpisah.”  (HR.Bukhari)

 

Atau di hadits lain Rasulullah bersabda, “Kamu boleh khiyar pada setiap benda yang dibeli selama 3 hari 3 malam”. (HR Ibnu Majah 2/2355, Al-Hakam 2/22, Baihaqi dalam As-Sunan 5/273 & Daruquthni 3/56/No. 222)

 

Tapi, pembatalan akad ada aturan mainnya…

 

 

Tentang pembatalan, akad jual beli hanya boleh dibatalkan, hanya jika :

 

– Barang yang akan dibeli rusak / cacat.

Apalagi jika penjual mengatakan bahwa barangnya bagus, mulus tanpa cacat. Bagi teman-teman yang bergelut dengan dunia penjualan online, ini mutlak harus diperhatikan. Jangan main-main dengan ini. Seperti apapun kondisinya, katakan saja apa adanya. Jangan karena ingin cepat laku, semua dibilang bagus & tanpa kekurangan. Jika penjual jujur mengatakan, “Tapi ini ada sedikit lecet di bawahnya…”, biasanya pembeli akan menganggap itu tak terlalu masalah, “ah kecil kok lecetnya. Tak kentara.”

 

– Penjual atau pembeli meminta menambah atau mengurangi harga barang / jasa.

 Setelah barang sampai ke pembeli, tiba-tiba pembeli mengatakan, “mbak, saya minta potong harganya dong. Kan sampainya terlambat..” Atau si penjual yang mengatakan, “mas, tambah lagi ya ongkosnya. Ini ternyata sulit.” Ini dilarang. Jika sudah mengatakn harga, konsistenlah. Jika ada kenaikan, informasikan sejak awal sebelum ada akad apapun. Itu kenapa saya selalu menuliskan harga dengan jelas di setiap informasi seminar online yang saya adakan misal; 10 pendaftar pertama 69ribu, 10 pendaftar kedua 79ribu, 10 pendaftar ketiga 89ribu. Contohnya bisa dilihat di : bit.ly/MonetizingIntelligence .

 

Setiap kenaikan ditulis sejak awal sebelum ada akad apapun dengan peserta, sehingga siapapun yang sudah membaca informasinya dengan detail tak mungkin ada yang protes.

 

– Barang / jasa yang dibeli tidak memenuhi syarat seperti di awal akad.

Ini menjelaskan poin pertama di atas. Misal ada penjual yang mengatakan, “Kalau ada yang lecet sedikit, gratis!”, artinya akadnya kalau ada yang lecet maka pembeli boleh mendapatkan barang itu secara gratis, jika ada yang lecet meski sedikit. Nah, kalau ternyata ada yang lecet tapi penjual tak memberikan gratis, maka akad itu boleh dibatalkan.

 

– Dan mungkin ada yang lain..

 

Untuk menghindari hal-hal diatas, maka penjual & pembeli punya kewajiban untuk memperjelas informasi tentang barang atau jasa yang diperjual belikan. Penjual wajib menjelaskan sejelas-jelasnya produk barang / jasa yang dijualnya. Pembeli wajib bertanya sedetail-detailnya produk barang / jasa yang akan dibelinya.

 

 

 

 

Nah, jika pembatalan akad tak jelas alasannya, maka salah satu pihak pasti sedang menzhalimi pihak lainnya. Jika contoh kasusnya seperti diatas yang barang atau jasanya belum didapatkan, mungkin tak terlalu nampak kerugiannya.

Tapi, bayangkan jika pembatalan akadnya terjadi pada penjual martabak. “Bang, saya beli martabaknya satu..” Dan setelah itu dia menghilang. Raib seperti ditelan bumi. Kira-kira tukang martabaknya rugi? Tentu saja. Dia harus menghabiskan bahan-bahan untuk membuat martabak. Dan belum tentu ada yang mau membeli martabak itu setelah si pemesan kabur.

 

Benarkah dalam jualan gamis & seminar, penjualnya benar-benar tanpa kerugian jika ada pembeli yang membatalkan akadnya secara sepihak tanpa alasan yang jelas?  Mari kita periksa. Seorang yang menjual jasa seminar, dia punya dua kuota 1 orang lagi. Dan setelah seseorang mendaftar, maka otomatis kuota pesertanya habis. Setelah habis, maka pendaftar-pendaftar setelahnya akan DITOLAK, karena kuota sudah penuh. Tapi ternyata si pendaftar yang seorang ini menghilang tanpa kabar sebelum membayar, apakah si penjual rugi?

 

Penjual gamis diatas, pun begitu. Seseorang memesan “Saya ingin gamis yang merah itu!”, lalu ia “keep” ke produsen agar tidak dijual ke orang lain. Tapi si pemesan menghilang tanpa kabar yang jelas. Sedangkan barang sudah di keep. Kira-kira si penjual gamis akan rugi? Bagaimana integritasnya di mata produsen?

 

Pembeli & penjual sama-sama berpotensi mendapat pahala & dosa dalam urusan jual beli. Jadi, kita perlu sangat berhati-hati.

Jika kesalahan yang kita lakukan dalam jual beli diingatkan oleh seseorang, jangan marah. Tapi berterima kasihlah pada orang itu. Karena dia sudah menyelamatkan kita dari dosa jual beli.

 

 

 

Salam, semoga bermanfaat.

 

Sila berkunjung juga ke twitter saya @JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply