Memaknai Kembali Kriteria Jodoh

No comment 938 views

عنْ أبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمْ – قَالَ: تُنْكَحُ المَرْأةُ لِأَرْبَعٍ: لمِالِهَا، وَلِحَسَبِهَا،

وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكْ

“ Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu’anhu – dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata:
Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.”
(HR. Bukhari-Muslim)

 

Nampaknya telinga kita sudah sangat akrab dengan hadits diatas. Hadits yang berkisah tentang 4 alasan memilih jodoh dalam kehidupan. Dalam perspektif seorang lelaki.

4 alasan itu adalah :

  • (لمَِالِهَا) Maaliha. Hartanya.
  • (وَلِحَسَبِهَا) Hasabiha. Kedudukannya/keturunannya.
  • (جَمَالِهَا) Jamaliha. Kecantikannya.
  • (وَلِدِيْنِهَا) Diiniha. Agamanya.

Dan kita tahu hadits ini adalah sebuah anjuran untuk memilih calon istri berdasar baiknya Dien-nya. Agamanya. Dan tentu saja hadits ini juga berlaku dalam perspektif wanita. Tinggal mengganti sudut pandang saja.

Jika wanita yang membacanya, maka poin ketiga diganti menjadi ; ketampanannya.

Saya berpikir bahwa ketika mengutamakan agar memilih jodoh yang baik kualitas agamanya, hadits ini tak bermaksud mengabaikan ketiga poin lainnya.

Bahwa, dalam memilih jodoh, seseorang pun masih perlu atau mungkin wajib, memperhatikan ketiga poin lainnya. Ini yang hendak saya bincangkan disini. Dan izinkan saya membincangkan pemaknaan lain dari ketiga poin kriteria jodoh diatas dalam pemaknaan yang luas.

  • (لمَِالِهَا) Maaliha. Hartanya. 

Mungkin kita perlu membingkai poin harta ini dalam makna yang luas. Bukan hanya kondisi finansialnya saat akan menikah. Bukan itu. Saya berpikir bahwa dalam menjemput jodoh, seorang pria, atau seorang wanita perlu memperhatikan kualitas calon pasangan hidupnya dalam hal bekerja atau berusaha. Seorang wanita perlu memperhatikan kapasitas calon suaminya dalam hal mencari nafkah. Ini bukan soal baiknya pekerjaan atau bisnisnya sebelum menikah. Ini soal Life Survival Skill. Kemampuan bertahan hidup dalam kondisi apapun.

Tak perlu bangga ketika ada seorang pria anak orang kaya raya datang melamarmu. Selama kekayaannya dari orangtuanya, hidupmu belum aman! Tapi berbanggalah ketika yang datang melamarmu, adalah seorang pria sederhana, dengan kemampuan berjuang untuk hidup yang luar biasa. Insya Allah hidupmu aman. Karena dia takkan pernah mungkin membiarkanmu kelaparan.

Jika engkau mencari seorang istri. Jangan pernah berpikir bahwa yang terbaik itu adalah seorang putri raja yang cantik dan terbiasa dilayani dayang-dayang. Karena kau mungkin akan kerepotan membayar gaji dayang-dayang untuk melayaninya. Pilihlah yang mandiri secara finansial. Tak peduli sekaya apa keluarga calon istrimu itu, anggap saja kau takkan mendapat bagian dari kekayaan calon mertuamu. Kau akan berlayar bersama istrimu. Pastikan ia punya kemampuan bertahan hidup yang sama dengan kemampuanmu. Jika kelak kau dipanggil Allah lebih dulu, istrimu masih sanggup membesarkan anak-anakmu dengan kepala tegak.

 

  • (وَلِحَسَبِهَا) Hasabiha. Kedudukannya/keturunannya

Kita perlu mengenali bagaimana latar belakang keluarganya. Dari pengalaman menikah yang masih seumur jagung, saya mengamati bahwa pernikahan kita, mau tak mau akan dipengaruhi oleh keluarga besar suami & istri kita.

Maka, memastikan baiknya latar belakang keluarga calon jodoh kita, nampaknya menjadi penting. Kita bisa bayangkan, betapa mudahnya kita mendidik anak-anak kita kelak, ketika kakek & neneknya adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Al Quran. Bayangkan, betapa mudahnya kita mendidik anak-anak kita kelak, ketika anak-kita memiliki kecerdasan yang luar biasa, sebab kakek, nenek, om, tantenya adalah orang-orang yang cerdas pula intelektualnya. Kecerdasan anak kita tak hanya dipengaruhi oleh ayah & ibunya. Tapi juga keluarga pasangan kita.

Dan tentang akhlak, kita pun tentu sangat memahami bahwa ia sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Betapa tenangnya kita saat anak-anak bermain dengan keluarga isteri & suami kita, karena mereka adalah orang-orang yang mulia akhlaknya.  Oya, calon pasangan kita seharusnya punya peran dalam membaikkan kualitas keluarganya. Coba amati. Apakah ia punya peran besar mewarnai keluarganya dengan warna-warna kebaikan?

 

  • (جَمَالِهَا) Jamaaliha. Kecantikannya.

Saya tak berpikir bahwa makna kecantikan hanya dalam paras wajah saja. Tapi dalam konteks kesehatan fisik secara utuh. Kita bisa perhatikan kebiasaan calon suami & istri kita sebelum menikah. Meski bisa diubah, mau tak mau kebiasaan calon pasangan kita akan terbawa ke dalam kehidupan rumah tangga kelak.

Seorang calon istri yang terbiasa makan makanan yang sehat, artinya tak terbiasa jajan bakso dipinggir jalan yang tak jelas kesehatannya, akan secara signifikan menjamin kesehatan tubuhnya. Perhatikan juga kebiasaannya berolah raga. Tentu tak perlu dijelaskan lagi, bahwa mereka yang menjaga rutinitas olahraganya, akan sangat baik kualitas kesehatannya.

Jika tubuhnya sehat, maka insyaAllah akan menjamin baiknya ia menjaga anak-anakmu kelak yang begitu lincah itu. Jika tubuhnya sehat, ehmm..kita tentu sangat paham bahwa Rasulullah SAW amat berbangga dengan umatnya yang memiliki keturunan banyak.

Dan pastinya ini bukan hanya soal kesehatan tubuh. Tapi juga kesehatan pikiran. Mari telusuri kebiasaan calon pasanganmu dalam hal menambah kapasitas wawasannya. Seberapa gemar ia membaca buku? Seberapa senang ia menghadiri majelis ilmu? Ah, alangkah mudah kita membentuk anak-anak kita kelak, ketika pasangan hidup kita memang memiliki kapasitas keilmuan yang sangat baik.

 

Jodoh (1)

source : hack87.blogspot.com

 

 

Tentu saja ini jadi pekerjaan rumah yang menantang bagi engkau yang sedang menyiapkan diri menyambut pernikahan. Saat engkau serius menyiapkan diri & keluargamu, maka begitupun calon pasanganmu.

Karena calon pasanganmu, akan mencari seseorang seperti dirimu yang baik kualitas dirinya!

 

Selamat menyiapkan diri.

 

salam

Ingin berinteraksi dengan saya di Twitter? Sila berkunjung ke @JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.