Mbak Mawar, Rezekinya, dan SunnatullahNYA

No comment 836 views

Beberapa waktu lalu, saya punya seorang asisten rumah tangga (ART). Sebut saja namanya mbak Mawar. Tentu bukan nama sebenarnya. Karena nama sebenarnya adalah mbak.. (sebagian teks hilang).

Mbak Mawar sebenarnya adalah tetangga yang rumahnya sangat dekat dengan tempat saya tinggal. Hanya berjarak sekitar 50 meter. Mbak Mawar memang dikenal sebagai asisten rumah tangga oleh orang di sekitarnya.

Ketika mbak Mawar bekerja di rumah saya pun karena rekomendasi dari seorang tetangga lain.

 

Di rumah saya, mbak Mawar hanya membantu menyetrika baju. Karena nampaknya itu pekerjaan yang sangat menghabiskan waktu dan tak bisa disambil mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Pekerjaannya rapi, cepat dan nggak hitung-hitungan.

Setiap baju yang sudah selesai disetrika, dilipat sangat rapi, dipisahkan antara pakaian anak-anak dan pakaian dewasa.

Pokoknya kerjanya memuaskan.

 

Tapi itu dulu… 3 bulan pertama dia bekerja.

 

Setelah 3 bulan itu, pekerjaannya mulai menunjukkan penurunan kualitas yang amat drastis.

Pekerjaannya jadi asal-asalan. Sablon di kaos-kaos saya banyak yang rusak terkena setrika panas. Celana berkaret jadi rusak karetnya karena setrikanya terlalu panas. Sprei kesayangan istri saya lapuk dan sobek akibat sering dipakai jadi alas setrika. Dan segudang kesalahan lainnya.

Sudah bolak-balik diingatkan dan ditegur, tapi tak juga menunjukkan perubahan.

 

Saya sudah bilang ke istri saya untuk memberhentikan mbak Mawar. Karena kerjanya sama sekali sudah tak bisa diandalkan. Masih banyak orang yang membutuhkan pekerjaan dan bisa bekerja lebih baik darinya.

Puncaknya, suatu hari saat mbak Mawar selesai menyetrika, dia mau pinjam uang. Istri saya bilang, “Belum ada…sedang banyak sekali keperluan.” 

Sudah sejak awal saya bilang ke istri, begitu dia mulai berani pinjam uang, langsung “cut!”

Saya bilang begitu karena sudah begitu banyak kisah yang beredar tentang mbak Mawar. Bahwa mbak Mawar memang sangat gemar meminjam uang orang, tapi tak pernah berusaha mengembalikannya. Begitu kisah yang beredar di masyarakat sekitar. Bukan tak ingin membantu, tapi saya khawatir pinjaman itu malah akan mempersulit dirinya. Cukuplah dengan mempekerjakan dia cara saya membantunya.

 

Singkat cerita, mbak Mawar resmi resign dari jabatannya sebagai asisten rumah tangga di rumah saya.

 

Beberapa waktu setelah resign jadi asisten rumah tangga saya, saya mendengar keluh kesahnya kepada tetangga lainnya. Penghasilannya otomatis berkurang karena kehilangan salah satu pekerjaan. Mendengar keluh kesahnya itu, disitu kadang saya sedih…

 

 

***

 

Rezeki adalah salah satu komponen kehidupan yang punya karakteristik sangat unik menurut saya. Rezeki adalah jaminan dari Allah yang tak mungkin terbantahkan oleh apapun. Rezeki itu selayaknya udara yang mutlak ada, dan mustahil ada kehidupan tanpa rezeki.

Rezeki bekerja dalam salah satu sistem alam semesta yang bernama sunnatullah.

Sunnatullah itu aturan-aturan Allah yang ada di alam semesta, yang mesti ditaati oleh manusia jika ingin hidup nyaman. Ya, sunnatullah berlaku untuk semua manusia. Bukan berlaku untuk satu agama saja.

 

Berapa jumlah rezeki manusia yang disediakan Allah ?

Wallahu a’lam. Hanya Allah yang mengetahui jumlahnya. Hanya saja, saya sangat meyakini bahwa jumlahnya TAK TERBATAS. Selalu ada peluang untuk mendapatkan rezeki dalam jumlah berapapun. USAHA manusia, punya peran untuk memilih jumlah rezekinya.

Misal : Dengan mbak Mawar memilih bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga, maka dia memilih untuk memiliki rezeki sekitar 500-700ribu per bulan. Dari satu sumber. Kalau dia mencukupkan satu saja sumbernya, maka dia hanya punya penghasilan senilai itu. Kalau dia ingin lebih besar, maka dia bisa menambah sumber penghasilannya. Dia bisa menawarkan jasanya kepada rumah tangga lainnya untuk ia bantu.

Sunnatullah dasarnya begitu.

 

Cukup sampai sana sunnatullahnya?

Belum. Ada sunnatullah lain yang perlu mbak Mawar penuhi agar ia benar-benar bisa mendapatkan rezekinya ;  Time Management atau Manajemen waktu. Agar ia bisa mengelola pekerjaan dengan efektif & efisien. Supaya ia bisa membagi tenaganya ke banyak rumah tangga. Supaya sumber penghasilannya benar-benar bertambah. Begitu logikanya.

 

Tapi itu juga belum cukup.

Sunnatullah lainnya kita sebut saja Totality & Trust. Totalitas bekerja & kepercayaan. Di awal bekerja, mbak Mawar sebenarnya sudah berhasil mendapatkan trust dari saya & istri. Pekerjaannya cukup memuaskan. Tapi trust bukan sesuatu yang tetap. Trust itu bisa bertambah & berkurang. Bekerja dengan asal-asalan, adalah cara paling efektif menurunkan trust. Dan mbak Mawar sukses menurunkan trust dari orang yang membayarnya dengan bekerja asal-asalan. Seandainya ia mau bekerja serius seperti awal ia bekerja ; kaos bersablon disetrika terbalik, untuk bahan tertentu kecilkan panas setrikanya, letakkan setrika panas pada alas yang seharusnya, dll.

 

Bekerja asal-asalan, saya maknai sebagai sebuah ketidaksyukuran atas rezeki dariNYA. Pekerjaan itu adalah rezeki awal sebagai peluang untuk menjemput rezeki lain dariNYA. Karena tak mungkin seseorang bisa mendapatkan rezeki tanpa bekerja. Bahkan pengemis & koruptor pun harus bekerja sungguh-sungguh untuk mendapatkan rezekiNYA. Ketika seseorang bekerja setengah hati, asal-asalan, saya memaknai itu sebagai bentuk tak bersyukur atas rezeki.

 

Trust orang terhadap mbak Mawar juga berhasil dirusaknya dengan membuat negative personal branding. Meminjam uang itu berarti berhutang. Dan melalaikan hutang itu adalah masalah besar. Melalaikan hutang berarti bermain-main dengan surga & neraka. Sekecil apapun hutangnya.

Mbak Mawar berhasil merusak semua rangkaian sunnatullah yang seharusnya ia penuhi untuk melancarkan rezekinya.

 

Jadi, pertanyaannya, ketika seseorang merasa terbatasi rezekinya, sesungguhnya ia patut bertanya pada dirinya sendiri.

Adakah perannya dalam rezeki yang terbatasi itu? Apa yang sudah dilakukannya sehingga rezekinya terbatas?

 

 

Maafkan saya mbak Mawar, saya sudah mendapatkan gantimu yang lebih baik…

 

Salam..

@JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply