Mau Lalu Mampu

No comment 1054 views

flower

Pengalaman ber-qurban setiap tahun, sejak bisa menghasilkan uang sendiri selalu jadi cerita menarik bagi saya. Betapa saya menemukan makna yang mungkin jarang dimaknai orang. Qurban selalu emejing buat saya.

Jika kebanyakan orang selalu memaknai qurban sebagai representasi mencintai bapak kita Ibrahim ‘alayhissalaam, maka saya memaknai dengan makna yang lain.

Saya memaknai qurban sebagai bukti bahwa kita memang tak terlalu mencintai dunia dan segala isinya. Karena dulu saya seringkali setiap berqurban, habis itu tak punya uang sama sekali setelahnya. Habis total. He..he..

Qurban, seharusnya memang mengajarkan kita untuk mengorbankan harta kita, demi membeli hewan yang akan di-qurban-kan. Sehingga, parameter utamanya bukanlah MAMPU. Melainkan, MAU.

 

Ya, parameter kewajiban qurban itu -bagi saya- bukanlah mampu secara finansial. Jikapun ada yang ngotot mengatakan parameternya adalah mampu, maka saya akan sepakat kalau mampunya bukanlah dalam hal finansial. Melainkan mampu membujuk diri untuk memiliki keMAUan ber-qurban. Atau, jika tak mampu dibujuk, kita mungkin perlu MEMAKSA diri agar mau.

Mungkin akan banyak yang mengatakan bahwa “hanya yang mampu yang wajib berqurban”. Tapi saya kok melihat kalimat ini sebagai kalimat pembenaran dan menunjukkan kelemahan tekad ya? Mirip dengan salah satu rukun Islam ; HAJI. Tentang Haji, kita boleh periksa haditsnya. Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam tak pernah menyebutkan rangkaian kelima rukun Islam itu dengan kalimat “Melaksanakan Haji bagi yang mampu”

 

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ. * رواه الترمذي ومسلم

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al Khattab radhiyallahu’anhuma dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.” (Riwayat Turmuzi dan Muslim)

 

Tidak ada kalimat “bagi yang mampu” disana. Dan sungguh saya amat sangat penasaran, siapakah gerangan orang yang yang pertama kali menambahkan kalimat “bagi yang mampu” di setiap rukun Islam ber-Haji. Sehingga, setiap kali di sekolah kita diminta menyebutkan rukun Islam, kita selalu menyebut bahwa rukun Islam kelima adalah ; naik haji bagi yang mampu.

Kalimat “bagi yang mampu” ini, bagi sebagian orang akan dimaknai sebagai kalimat dispensasi. Akan ada banyak orang-orang yang berpikir, “Ah, itu hanya bagi yang mampu. Penghasilan saya cuma segini, berarti saya memang belum mampu.”

Dan kita sangat paham bahwa kalimat “bagi yang mampu” adalah kalimat ambigu. Artinya, tak ada parameter yang jelas, “mampu itu seperti apa?”, “mampu itu kalau punya uang berapa?” dan seterusnya. Hanya zakat ibadah yang punya parameter jelas sebagai patokan kemampuan. Jika mencapai batas tertentu, maka seseorang wajib mengeluarkan zakat.

Jika Haji yang merupakan kewajiban saja punya embel-embel “bagi yang mampu”,  apalagi qurban yang jelas bukan ibadah wajib.

 

Padahal, andai seseorang berhasil membuat dirinya MAU, dia pasti diMAMPUkan. Andai seseorang MAU, maka ia akan menemukan ribuan peluang untuk menjadi mampu. Persis seperti yang saya tulis di The Qurban Cash

Persis pepatah yang telah kita hafal sejak kecil itu, “Dimana ada keMAUan, disitu ada JALAN.” 

Sekarang, qurban sudah lewat. Semoga masih bisa bertemu Idul Adha tahun depan. Cara paling konvensional untuk bisa ber-qurban adalah dengan menabung. Harga hewan qurban itu sekitar Rp.2juta-an. Kambing 1 ekor, sapi pun kurang lebih sama. Jika dibagi 7 orang, sekitar Rp.2juta-an per orang. Atau, kalau dapat sapi yang lebih murah, bisa kurang dari 2juta per orang.

Kita bisa menabung Rp.200-250 ribu per bulan. Bukan angka yang besar, jika dibandingkan konsumsi pulsa internet kita. Tabung saja di tabungan yang hanya bisa ditarik pada waktu tertentu. Atau, yang lebih mudah dan menurut saya cukup efektif, ikut tabungan qurban. Tinggal kumpulkan 7 orang teman yang mau ber-qurban tahun depan, lalu sepakati untuk menabung sekitar Rp.250ribu setiap bulan. Syaratnya : MAU !

 

Jadi mulai saat ini, berhentilah berpikir bahwa ibadah qurban hanya untuk yang mampu. Berpikirlah bahwa jika kita MAU, pasti kita MAMPU.

 

Salam sembelih.

Ngobrol dengan saya juga di Twitter @JendralGagah dan Facebook Jendral Nasution

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.