Life begins at 40

5 comments 888 views

old-aged-parents-living-alone-1Kita tentu pernah mendengar kalimat ini “Life begins at 40”.  Saya yakin ada banyak sekali cara pandang terhadap kalimat itu. Saya hendak memberi gambaran sedikit tentang cara pandang saya tentang kalimat ini.

Kalau ditarik ke urusan rumah tangga, dan pola pendidikan anak, dari kalimat “Life begins at 40” ini, nampaknya kita bisa membuat hitung-hitungan seperti ini :

 

Katakanlah seseorang menikah di usia 25 tahun.
Lalu, di usia 26 tahun punya anak pertama.
Di usia 29 tahun, punya anak kedua.
Maka saat usia kita 40 tahun, anak pertama akan berusia 14 tahun,
dan anak kedua akan berusia 11 tahun. (bener kan hitungan saya?)

Artinya, di usia 40 tahun, kita tak lagi akan mengurusi pekerjaan teknis mengurus anak, menggendong, menyusui, menyuapi, memandikan, dll. Ya, karena anak sudah punya kemampuan mengurus dirinya sendiri.

Selain itu, jika pendidikan anak benar-benar diperhatikan sejak dini, maka urusan pembentukan mental & karakter anak pun tak perlu lagi dipusingkan. Karena anak diatas usia 10 tahun, secara default dari sononya, sudah memiliki kemampuan menganalisa, membandingkan, memutuskan mana yang baik & mana yang buruk. Kita yang sudah berusia 40 tahun sudah bisa mengalihkan fokus ke urusan lain.

 

Nah, kita bisa bayangkan. Kalau ada seseorang yang baru berniat menikah di usia 35 tahun. Jika langsung punya anak, maka di usia 40 tahun, anaknya baru berusia 5 tahun. Kita tahu, anak usia 5 tahun adalah usia yang butuh perhatian super intens, sehingga tentu akan sangat menguras energi. Apalagi, usia 40 tahun konon katanya adalah puncak kekuatan fisik seseorang. Artinya, setelah usia 40 tahun, mulailah terjadi penurunan stamina.

Yang berusia diatas 40 tahun masih punya anak berusia 3,4,5,6 tahun, tentu saja akan sangat kerepotan mengurus anak. Itu jika si orangtua berniat memberikan pendidikan yang eksklusif pada anaknya. Artinya, pembentukan karakter, mental, dan lainnya dilakukan langsung oleh orangtua. Bukan oleh pengasuh.

Kalau anak diserahkan ke pengasuh tentu tak masalah bila si orangtua sudah berusia 50 tahun sekalipun. Tapi tentu hasil pendidikannya dipastikan tak akan sama dengan pendidikan yang langsung ditangani oleh orangtua.
Mungkin itu alasannya, mengapa Rasulullah SAW mencontohkan agar menikah di usia 25 tahun. Karena, ya begitulah hitung-hitungannya…
Jadi, yang masih berpikir akan menikmati masa muda, masih ingin senang-senang,  dan belum berencana menikah sementara umur sudah nyaris mencapai angka 3, atau bahkan sudah melewati angka 3, nampaknya boleh mulai membunyikan alarm pada dirinya..

 

Salam jernih..

@Jendralgagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini
  1. author

    asep maulidiyyansah5 years ago

    salam herang

    Reply
    • author
      Author

      JendralGagah5 years ago

      Salam herang 🙂

      Reply
  2. author

    santi5 years ago

    sepertinya artikel ini mengundang kontrovesi… 😀
    wkwkwkwk…

    keep cool om jendral, “badai pasti berlalu” 😛

    Reply
  3. author

    debirasty5 years ago

    mhehehehe, intinya. kamu suruh cepet nikah deb, maksimal usia 25. inget itu! *ngomong ke diri sendiri*

    wkwkwkwk makasih om 😀

    Reply
    • author
      Author

      JendralGagah5 years ago

      hihihii…

      Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.