Kopi Tambah Istri

No comment 857 views

Akhirnya Udin memulai bisnis. Sejak sekitar 6 bulan lalu Udin memutuskan untuk bikin bisnis. Awalnya dia merasakan keraguan luar biasa untuk memulai bisnis. Dia bingung setengah mati saat pertama memutuskan memulai bisnis.

Udin tak punya pengalaman apapun dalam hal bisnis. Udin juga tak punya darah bisnis dari orangtuanya. Dan yang jelas, Udin tak punya modal besar untuk memulai bisnis. Ia bingung karena dari cerita-cerita yang pernah didengarnya, bisnis itu butuh modal besar. Puluhan hingga ratusan juta. Ia tentu tak punya uang sebanyak itu. Tapi ia harus memulai bisnisnya.

Sebenarnya kalau hanya untuk makan sehari-hari, gajinya sudah cukup. Tapi hidup kan bukan hanya untuk makan sehari-hari. Ia juga tentu ingin membantu orangtuanya, keluarganya dan siapapun yang membutuhkan bantuan secara finansial. Apalagi satu hal yang sangat disadarinya, pekerjaannya sangat tak aman. Meski saat ini posisinya sangat nyaman, tentu tak tertutup kemungkinan ia bisa terkena PHK. Karena perusahaan bangkrut misalnya. Who knows? Ia harus menyiapkan kemungkinan terburuk.

 

Sekarang Udin sudah menjalankan bisnisnya. Sebuah warung kopi di tepi kota Bandung. Namanya warung kopi “Green Ocean”. Dia memilih warung kopi karena dianggap punya mekanisme kerja yang cukup sederhana. Tentu setelah ia mempelajari seluk beluk warung kopi.

“Saya ingin semua pelanggan dilayani dengan baik & cepat!”  Kata Udin kepada seluruh karyawannya. Saat ini Udin punya 4 orang karyawan. 2 orang di dapur, 1 orang melayani pelanggan dan 1 orang lagi di kasir. Udin membuat sistem sedemikian rupa agar bisnisnya bisa berjalan tanpa ia harus terjun langsung menjalankan bisnisnya. Dengan begitu ia bisa tetap bekerja di kantor, dan bisnisnya pun bisa jalan.

 

Bisnisnya memang sudah berjalan secara auto pilot. Udin hanya tinggal mengawasi. Tapi ada satu hal yang menjadi ganjalan di pikiran Udin. Sejak awal buka sampai sekarang, pengunjung warung kopinya bisa dikatakan sepi.

Padahal, meski di tepi kota, warung kopi Green Ocean berada di jalur ramai. Daerah itu adalah daerah ramai. Terutama karena cukup dekat dengan kampus. Seharusnya pengunjungnya ramai. Tapi warung kopinya, bisa dikunjungi 50 orang sehari saja sudah lumayan. Udin sudah lama berpikir, apa yang harus dilakukannya untuk membuat warung kopinya ramai? Tapi tak juga ditemukannya caranya. Pikirannya mentok tak menemukan ide satupun.

 

 

Ketika sarapan di warung kopinya, ia teringat seorang temannya. Namanya Kasrun. Kasrun adalah seorang business coach bersertifikasi internasional. Ah, mungkin Kasrun bisa membantunya. Ia mengambil handphone di saku celananya, dan tak lama kemudian sebuah percakapan terjadi.

 

” Lagi sibuk Srun? ” tanya Udin basa-basi.

” Nggak Din..biasa saja. Ada apa nih tumben. Ada yang bisa kubantu? “ Jawab Kasrun di seberang sana.

” Iya nih..kau tau saja aku butuh bantuan.” 

” Iyalah..kan sudah dari dulu begitu. Kalau tak ada perlunya, mana mau nelpon..”

” ah kau ini! Begini Srun…” 

Dan mengalirlah cerita Udin tentang warung kopinya. Tentang sepinya pengunjung warung kopinya. Udin ingin menemukan sebuah strategi yang canggih yang bisa memecahkan masalahnya. Kasrun menawarkan sebuah sesi business coaching kepada Udin.

Di sesi coaching itu, mereka akan mengeksplorasi kondisi bisnis Udin, lalu membuat sebuah goal yang bisa dicapai.

 

Sesi coachingnya dimulai. Kasrun membantu Udin memetakan kembali model bisnisnya. Kasrun bertanya pada Udin siapa yang jadi customer segmentation- nya.

” segmentasi pelanggan yang utama adalah karyawan & mahasiswa, usia 21-28. Aku mau Green Ocean jadi tempat nongkrong anak-anak muda.” 

” oke, sekarang value apa yang ditawarkan oleh Green Ocean kepada para customer?” 

” Value itu apa Srun?” 

” Value itu sesuatu yang bisa membuat orang memutuskan untuk datang ke warung kopimu. Bukan ke warung kopi yang lain.”

Udin diam sejenak. Wajahnya menunjukkan sang pemilik wajah sedang berpikir keras.

” Masih bingung?” tanya Kasrun. Udin mengangguk.

 

” Atau gini deh. Andai kau jadi calon pembeli, hal-hal apa saja dari warung kopi ini yang membuatmu datang kesini?” 

” Kopi di warung kopi ini didatangkan langsung dari Aceh. Dari kebun kopi organik. Jadi rasanya jauh lebih nikmat dari kopi lainnya. Apalagi dari kopi kemasan. Itu salah satu value-nya” Jawab Udin. Kasrun mengajukan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya untuk memperjelas konsep model bisnisnya. Udin baru tau, bahwa agar punya bentuk yang jelas, sebuah bisnis perlu punya model bisnis yang jelas.

 

Di sesi coaching selanjutnya, Kasrun menawarkan untuk merancang sebuah goal yang diinginkan Udin dari warung kopinya.

” Oke, jadi kau mau warung kopimu ini jadi seperti apa?” 

” Seperti yang kukatakan, aku ingin menaikkan omzet Ocean Green” 

” Berapa tepatnya omzet yang kau inginkan? ” 

” 80 juta sebulan untuk tahun ini cukuplah.” 

 

” Oke, kalau aku gambar lingkaran seperti ini,dan kita bagi jadi delapan bagian, dan jika delapan bagian ini kita isi dengan strategi. Kira-kira, strategi-strategi apa saja yang bisa kau lakukan untuk bisa mencapai omzet 80 juta/bulan di tahun ini?”  Kasrun menggambar sebuah lingkaran, dan membaginya menjadi delapan bagian di atas kertas yang dipegangnya. Udin berpikir agak lama. Lalu menyebutkan satu per satu strategi yang menurutnya bisa dilakukan. Kasrun lalu menulisnya di dalam masing-masing bagian lingkaran.

 

“Sudah yakin ini strategi terbaik yang bisa kau pikirkan?” Tanya Kasrun. Udin diam. Tangan kanannya mengurut keningnya. Tanda ia sedang berpikir. Itu kebiasaan barunya. Sebelumnya ia punya kebiasaan yang baik tapi tak cocok untuk ditiru ; mengurut kening tetangga.

 

” Aku ganti yang ini..”  Udin mengganti salah satu strategi.

“Dari delapan strategi ini, mana menurutmu paling layak menjadi prioritas untuk dilakukan?” 

” Yang ini!” Tunjuk Udin mantap. Setelah menentukan waktu kapan strategi itu akan dieksekusi, wajah Udin tampak lebih cerah. Ia seakan menemukan cahaya di kegelapan. Ia sudah membayangkan strategi itu dieksekusi dan membayangkan seperti apa hasilnya. Udin tak sabar segera menjalankan strategi itu.

 

Tak menunggu lama. Keesokan harinya, Udin langsung mengubungi 3 orang yang akan diminta bantuannya untuk menggarap strategi marketingnya. Ya, Udin sedang menyiapkan sebuah strategi marketing yang nampaknya akan jauh lebih asyik.

Setelah orang-orang yang dibutuhkannya berkumpul, Udin memulai briefingnya.

 

“Oke, tugasnya persis seperti yang sudah saya jelaskan saat pertama kali saya menghubungi kalian. Usep kamu fokus di online marketing. Saya mau bulan depan Green Ocean saya sudah masuk halaman pertama mesin pencari. Benu,kamu bantu Usep di online, termasuk nanti mengumpulkan data base pengunjung. Cacuk kamu fokus urus semua kontak talent.”  Usep, Benu & Cacuk menganggukkan kepalanya mantap.

 

Empat bulan kemudian…

Tampak beberapa orang keluar & masuk warung kopi itu. Pengunjung Green Ocensekarang 10x lipat jauh lebih ramai dari 4 bulan lalu. Omzetnya tak tanggung-tanggung. Baru 4 bulan mengeksekusi strateginya omzetnya mencapai sekitar 110 juta sebulan! Jauh melampaui target omzet yang diset nya bersama Kasrun.

 

“Kau luar biasa Din!” kata Kasrun mengacungkan jempol kepada Udin.

” Siapa dulu business coach nya !” Jawab Udin.

Sejak awal Udin memang sangat yakin idenya akan jadi ide brilian yang dia yakin tak mungkin dipikirkan oleh warung kopi manapun.

” Jadi, apa sebenarnya yang kau lakukan? Kau belum cerita detilnya padaku..” 

” Sama saja kok seperti yang sudah kukatakan padamu sewaktu coaching dulu. Hanya sedikit improvisasi tambahan.” Jawab Udin

” Improvisasinya itu yang kau belum ceritakan.” 

 

” Konsepnya sederhana. Aku hanya mengumpulkan kerumunan seperti saranmu. Aku sengaja mempersempit lagi segmentasi pelanggannya.”

” Siapa?” tanya Kasrun

” Para pria yang ingin segera menikah, tapi merasa kesulitan.” 

 

” Value yang kutawarkan juga lebih kuperjelas. Aku akan membantu mereka untuk mewujudkan keinginan mereka untuk segera menikah dengan mudah. Aku membuat mereka harus terus menerus datang ke warung kopiku. Setiap malam minggu, ada live talkshow yang membahas banyak hal seputar mempersiapkan pernikahan seperti menyiasati dana menikah, tips memilih calon pasangan ideal, sampai meyakinkan calon mertua meski mereka tak punya pekerjaan yang jelas. Oh ya, Sesekali kita hadirkan artis juga di talkshow-nya. ”  jelas Udin

 

” Terus?” 

” Bagi pelanggan yang berminat menjadi member, disediakan peluang bisnis sekaligus mendapat pendampingan bisnis untuk membantu mereka menyiapkan dana untuk menikah & hidup setelah menikah. Setelah survey kecil-kecilan, ada banyak sekali ternyata para bujangan yang ketakutan menikah karena belum siap secara finansial.” 

” syaratnya jadi member?” 

” Tak ada syarat macam-macam. Mereka hanya perlu datang ke warung bawa laptop. Nongkrong di warung sambil internetan dengan free wifi sambil menjalankan bisnisnya secara online. Yah, modal mereka paling cuma 10ribu perak untuk ngopi.” 

 

” Aku baru ngerti, jadi itu alasannya kau sebut program itu Kopi Tambah Istri?” 

” Hehe..iya.. maksudnya. Minum kopi, dapat istri. Pasti banyak yang berpikir program ini berhubungan dengan poligami. Termasuk kau kan Srun?”  Tanya Udin. Kasrun nyengir.

” Jadi sama sekali nggak ada hubungannya dengan poligami?” Kasrun meyakinkan.

” Nggak ada hubungan sama sekali. Yang berpikir begitu seperti kamu biasanya itu karena memang punya keinginan untuk itu jauh di lubuk hatinya..” Udin ngakak.

” Sableng kamu Din!” Mereka tertawa bareng

 

 

 

The End

Salam

 

Ingin ngobrol dengan saya di twitter? Sila follow twitter saya @JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.