Kisah

No comment 438 views
Kisah,5 / 5 ( 1votes )

>>>Saya punya seorang sahabat terbaik dalam hidup sy. Sy kenal dengan dia dulu ketika SMK di kota Medan.

>>>Sejak itu, kami akrab. Bareng-bareng mengurusi ROHIS sekolah. Dia ketua rohis, sy ketua departemen.

>>>Kami sudah berpolitik sejak SMK. Untuk memenangkan ketua rohis, atau sekadar memilih ketua panitia pesantren kilat.

>>>Nyaris semua dinamika perpolitikan sekolah, kami diskusikan berdua. Kami konseptornya. Lalu tinggal di sebar ke eksekutor.

>>> Sahabat sy ini orang shalih. Nyaris setiap subuh kami berangkat bersama ke masjid.

>>>kos-kosan kami memang dekat. Untuk menuju masjid, sy akan melewati kos-kosan teman sy ini.

>>>Jadi,setiap subuh sy akan mengetuk jendela kamarnya.. “yok jalan!”. Kecuali sy kesiangan,jd dia sudah duluan ke masjid.

>>>Sejak SMK, sy sulit sekali menemukan hari dimana ia melewatkan shalat dhuha. Hampir tak pernah ia absen shalat dhuha.

>>>Soal puasa sunnah jangan tanya, ia paling rajin.

>>>Ya,sebenernya sy juga rajin sih,krn rata-rata anak kos ini rajin puasa sunnah sekalian utk hemat uang bulanan 😀

>>>Sejak SMK,setahu sy teman sy ini dibiayai oleh pamannya. Itu membuatnya jd sangat semangat utk berprestasi.

>>> Sejak SMK, kami sudah mulai karir bisnis. Dimulai dari bazaar setiap ada acara sekolah.

>>>Setiap ada acara isra’ mi’raj, maulid, pesantren kilat dll, kami selalu ambil barang jualan.

>>>Kami kontak ke toko yg menjual buku, asesoris & busana muslim utk meminjam barang dagangannya. Jaminannya kartu pelajar.

>>>Akadnya konsinyasi. Kami pinjam barang. Penjual beri harga reseller. Kami bebas mau jual berapa.

>>>Dari sini kami tahu ada konsep bisnis tanpa modal uang. Jadi,anda yg tak percaya bahwa ada bisnis tanpa modal,kami sudah buktikan.

>>>Kuncinya ada di kepercayaan. Barang yg sudah diambil,akan kami kembalikan tepat waktu,meski jarak sekolah ke toko cukup jauh.

>>>Jikapun terpaksa terlambat, kami akan menelpon ke toko, mohon maaf dan janji besok akan dikembalikan.

>>>Tak masalah bagi mereka. Toh kartu pelajar sy masih mereka pegang. Mereka senang ada anak SMA yg mau bisnis.

>>> Kalau sy,selain jualan dengan sahabat sy ini, sy sempat jadi penjaga warnet dekat sekolah.

>>>Gajinya gede banget, 75ribu/bulan. :)) tak masalah bagi sy. Yg penting internetan gratis.

>>>Di warnet itu sy hanya bertahan 2bulan. Masalahnya bukan gaji,tp, ibadah sy terganggu.Sy gak bisa shalat ke masjid.shalat pun buru-buru.

>>> Lepas sekolah,sy & teman sy ini makin semangat jualan. Kebetulan kami kenal dgn seorang provokator jualan. Kami memanggilnya bang putra.

>>>Hari jum’at, kami sempat jualan di masjid agung Medan. Menggelar dagangan di depan masjid.

>>>Menjelang 17Agustus, kami jualan bendera. Sy beda lokasi jualan dgn sahabat sy ini. Lumayan berjauhan.

>>> Dia di jl.gajahmada medan. Sy di jl.dr mansyur, dekat kampus USU. Di pinggir jalan, di bawah pohon rindang. Romantis. *tsaah*

>>> Sahabat sy ini yg membuat semangat sy terbakar. Secara ekonomi,sy tahu sahabat sy ini bkn org berkecukupan. Itu yg membuatnya survive.

>>>Beberapa lama setelah lepas sekolah, sy berpisah dengannya. Sy kuliah di Bandung, dia tetap di Medan. Melanjutkan perjuangan.

>>>Setiap ke Medan, sy menemui teman sy ini berbincang tentang dagangannya.

>>> Saat itu sy masih punya keinginan utk bisa bekerja di perusahaan yg dulu ada ikatan dinas dgn SMK kami.

>>>Akhirnya sy dengar ada rekrutmen karyawan dari SMK. Syarat yg boleh ikut tes adalah nilai dan usia sesuai dgn yg mrk tentukan.

>>>Sy cari tahu ke Medan. Rupanya, nama sy tak berhak ikut tes. Bukan masalah nilai, tp usia sy waktu itu pas sekali dgn syaratnya.

>>>Alhamdulillaah..teman baik sy itu berhak ikut tes. Dan akhirnya diterima di BUMN bidang telekomunikasi yg adakan rekrutmen itu.

>>>Kami tetap keep contact. Tak seperti yg lain, teman sy ini tetap menjalankan bisnisnya meski statusnya “nine to five-er”.

>>> Sejak tinggal di Batam, seingat sy dia pernah bisnis CD multimedia komputer, barang elektronik dari negara tetangga, dll.

>>>Sampai akhirnya, dia mulai bersentuhan dgn bisnis property. Teman sy ini selalu haus dgn ilmu. Semua dipelajarinya.

>>>Dia cerita ke sy, bahwa dia membeli sebuah rumah untuk dijadikan kos-kosan. Wow sekali. Itu cita-cita sy.

>>>2 tahun dia berbisnis properti, sekarang dia punya 8 rumah yg disulapnya menjadi kamar-kamar kos.

>>>Kalau ditanya, “punya berapa kamar sekarang?” Dia jawab “entahlah lupa juga berapa kamarnya..” Lalu kami ketawa.

>>>Tahun ini targetnya ia punya 10rumah. Notaris di Batam itu sampai geleng-geleng kepala melihat ulah teman sy ini beli rumah.

>>>Dia pernah beli 2 rumah dalam 1 bulan. Udah kayak beli baju aja dia beli rumah. Hobinya baca koran, lihat iklan rumah dijual. 😀

>>>Teman baik sy ini berubah? Ah tidak sama sekali. Dia masih seperti yg dulu. Sangat sederhana.

>>> Bedanya, sekarang dia punya julukan, “from anak kos to bapak kos”. Rumah kos-nya bertebaran dimana-mana.

>>> Beberapa hari yg lalu dia tidur di masjid Daarut Tauhid Bandung, “mau i’tikaf katanya..” Itu kebiasaannya setiap ke Bandung.

>>>Oktober nanti, insyaAllah sy dan sahabat sy ini mau duet, garap sebuah training properti. Semoga sesuai rencana.

>>>Temen-temen yg masih jd “nine to five-er” tp mau jd pengusaha properti, bisa join di training ini awal oktober nanti.

>>>Temen-temen yg mau beli 2 rumah dlm 1bulan, bareng yuk belajar dari dia. Kita bajak ilmunya. Sy juga blm puas belajar dari dia.

>>> Temen-temen yg mau jd pengusaha kaya yg shalih,humble, dermawan, belajarlah dari sahabat baik sy ini.

>>> Sy senang sekali bila temen-temen bisa berkenalan dgn sahabat baik sy ini. Ilmunya berjibun, tapi rendah hatinya minta ampun.

>>>Kenalkan, sahabat baik sy –> @Abi_Zumi . Silakan bajak ilmunya sepuasnya. Sy yakin dia akan dengan senang hati membaginya.

>>>Mudah-mudahan bisa segera bertemu & silaturahim ya.. Sekian dulu ya,kapan-kapan kita sambung lagi. -end-

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.