Just Think Simply!

No comment 660 views

Kemarin, hujan mengguyur deras daerah rumah saya. Jadilah saya, istri & anak-anak menghabiskan hari di rumah. Ngobrol tentang apapun, sampai main tebak-tebakan jari. Saya tak tahu apa nama permainan ini.

Entah anda sudah pernah memainkan game ini atau belum. Tapi saya sering memainkannya sewaktu kecil dulu. Aturannya sederhana; Satu orang pemain berperan menyusun jari, dan yang lain akan menebak. Cara memainkannya pun sederhana ; si pemain tinggal kuncupkan kelima jari tangan, lalu jari-jari yang sudah dikuncupkan itu ditutup oleh telapak tangan yang satunya. Biasanya posisi jari-jarinya diatur sedemikian rupa agar nanti semakin sulit ditebak. Setelah diatur, dan siap ditebak, maka si pemain akan bertanya ke para penebak. “Mana jari telunjuk hayoooo?” 

Saya dengan ribet membelit jari-jari agar semakin sulit ditebak. Karena kalau tak ada yang berhasil menebak dengan benar, maka saya akan menang.

Sesekali saya menang & sesekali saya kalah.

Tapi ada yang menarik dari permainan kemarin. Saat Faizan (5 tahun) pertama kali bermain, ia menguncupkan jarinya & ditutup oleh tangan lainnya. Tapi tak ada yang berhasil menebak.  Saat dia bertanya, “Mana jari tengah?” Saya menunjuk jari manis & istri saya menunjuk jari telunjuk. Dia menang.

Setelah dibuka telapak tangan yang menutupi jarinya, ternyata dia tak mengatur jari-jarinya seperti yang saya lakukan. Dia menguncupkan sesuai posisi awal jarinya. Dia tak berusaha mengubah letak telunjuk jadi jari tengah, atau jari manis ke telunjuk. atau posisi lainnya. Seperti biasa saja. Sederhana saja berpikirnya. Sementara saya & istri berpikir bahwa Faizan sudah mengatur jarinya se-ribet kami mengatur letak jari.

* * *

Kehidupan kita, seringkali menawarkan pilihan-pilihan tindakan. Tapi entah kenapa, seringkali sebagian besar orang memilih untuk mengambil tindakan-tindakan yang rumit & njelimet. Padahal, rasanya ia sendiri tahu persis, ketika ia mengambil tindakan yang njelimet bin rumit itu, maka ia akan menemukan kerumitan & keribetan selanjutnya.

Yang saya amati seperti ini ; seolah-olah, semakin banyak umur seseorang, maka ada kewajiban orang itu harus berpikir dengan rumit. Karena kerumitan itu ciri seseorang sudah dewasa. Contoh sederhananya  ketika seseorang ingin memulai menulis. Ia bingung mau menulis apa. Ia bingung memikirkan kata apa yang harus ia tulis pertama kali.

Andai ia berpikir dengan sederhana. Maka seharusnya ia tinggal menulis sesuai apa yang dipikirkannya saat itu. Jika ia bingung mau menulis apa, ia tinggal tuliskan,

“Saya bingung mau menulis apa. Entah kenapa pikiran saya tak mau bekerja sama menuliskan sesuatu yang benar-benar penting. Tapi rasanya ini juga penting. Bahwa ketika saya memikirkan sesuatu yang rumit, maka saya akan semakin sulit menemukan sesuatu untuk ditulis. Bukankah menulis itu sederhana? lha ini sudah jadi beberapa baris tulisan!”

 

Begitu seterusnya. Mungkin kita perlu memunculkan kembali lebih banyak sisi anak-anak dalam diri kita. Cara berpikirnya anak-anak tentang kesederhanaan. Mereka, anak-anak itu, tak pernah berpikir yang rumit dan njelimet. Sehingga, mereka bisa dengan sangat cepat menjangkau imajinas-imajinasi yang bisa jadi mustahil dijangkau oleh orang dewasa.

Mari berlatih menjadi anak-anak. Mari berlatih berpikir sederhana!

simplicity

Salam

Ingin ngobrol dengan saya di twitter? Sila berkunjung ke twitter @JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply