Jangan Mau Resign!

No comment 1826 views

Kita tentu pernah mendengar ceramah dari pembicara seminar bisnis atau obrolan ringan dengan teman-teman, yang mengatakan bahwa untuk memulai bisnis seseorang harus keluar dari pekerjaannya. Lalu banting setir terjun ke bisnis.

Tak sepenuhnya salah.

Tapi tak semua benar juga.

 

Kalau memang sudah tak menikmati pekerjaannya, bolehlah berpikir untuk keluar kerja dan banting setir memulai bisnis.

Tapi jika pekerjaan itu memang sangat diidam-idamkan sejak lama, sangat menyenangkan ketika mengerjakannya, dan sesuai passion, JANGAN MAU RESIGN !

 

Nanti ndak fokus!”  Benarkah memulai bisnis sambil tetap punya status karyawan akan membuat kita tak fokus?

 

Oke, izinkan saya cerita sedikit tentang pengalaman ayah saya dalam memulai bisnis. Ketika pertama kali memulai bisnisnya, ayah saya masih berstatus karyawan sebuah perusahaan BUMN. Salah satu BUMN paling berjaya ketika ayah saya bekerja disana. Kalau dipikir-pikir untuk apa juga ayah saya berbisnis. Toh, secara finansial, gaji dari perusahaan itu sudah sangat cukup untuk menghidupi keluarga.

 

Tapi sepertinya ayah saya punya motivasi lain. Ayah saya ingin membantu saudara-saudaranya yang tak punya pekerjaan.

Lalu dimulailah perjalanan bisnis ayah saya. Yang saya ingat pertama kali memulai bisnis, beliau membuka sebuah kios pakaian ex impor, berlanjut ke wartel (warung telepon) sekitar tahun 2002 di sebelah salah satu mall di kota Medan. Lalu berlanjut ke voucher pulsa & asesoris handphone disamping wartel yang lain. Dengan beberapa bisnis yang berjalan sekaligus seperti itu, ternyata ayah saya masih bisa berstatus karyawan.

 

Tapi jangan bayangkan kerja ayah saya bisa santai..

Beliau harus tidur jam 1-jam 2 pagi untuk me-rekap laporan dari bisnisnya. Setiap malam menghitung uang recehan & uang kertas yang lecek bin dekilnya luar biasa. Sekali lagi ayah saya masih tetap bisa bekerja menjadi karyawan dengan bisnisnya tetap jalan.

 

Ada beberapa alasan penting menurut saya, mengapa seorang karyawan tak perlu keluar dari pekerjaannya :

 

 

1. Bisnis itu bukan pekerjaan mudah!

Sebaiknya teman-teman berpikir 10 kali sebelum memulai bisnis. Karena bisnis bukanlah pekerjaan mudah. Tak ada yang pasti dalam bisnis. Kalau selama ini kita sangat terbiasa dengan kepastian penghasilan setiap akhir atau awal bulan dari perusahaan tempat kita bekerja, maka tak ada kepastian seperti itu dalam bisnis. Kalau ada yang bilang bisnis itu enak dan menyenangkan, kemungkinan dia nggak cerita secara utuh. Ada banyak resiko dalam sebuah bisnis. Ditipu teman, rugi, terlilit hutang, lalu bangkrut adalah resikonya.

 

Jangan tertipu ketika melihat seorang pengusaha hidup enak. Kaya raya. Mobil mewah, rumah besar, pakaian keren dll. Coba tanyakan seperti apa masa perihnya dulu ketika merintis bisnisnya. Sebagian besar pengusaha punya masa perjuangan yang berdarah-darah. Stres tak punya uang, makan susah, dihina keluarga, dan sebagainya. Jadi, untuk yang tak kuat dengan resiko seperti ini, jangan coba-coba keluar kerja dan banting setir ke bisnis.

 

Apalagi kalau sudah punya anak istri. Anda mungkin bisa tak makan, tapi anak istri butuh makan. Banting setir ke bisnis tanpa persiapan yang matang, nyaris sama dengan bunuh diri. Akan jauh lebih banyak mudharatnya.

“Rezeki itu kan sudah dijamin!” Benar, rezeki itu sudah dijamin Allah. Tapi rezeki punyasunnatullah yang sangat realistis. Misal :

a) seseorang yang keluar kerja tanpa bekal ilmu dan tanpa rencana yang jelas, dan

b) seseorang yang keluar kerja dengan ilmu & rencana yang sangat matang

 

mana yang lebih baik?

 

 

2. Resign dengan KESADARAN PENUH.

Kalaupun anda tetap ngotot ingin keluar kerja karena sudah sangat jenuh dengan pekerjaan, bolehlah keluar kerja. Syaratnya ; Resign lah dengan sadar! Resign lah dengan keputusan yang logis. Bukan keputusan yang emosional. Bukan resign karena terus dikompori oleh motivator bisnis atau karena baru kemarin sore diprospek MLM oleh seorang teman lama, dan katanya bisa punya kapal pesiar kalau gabung di MLMnya.

 

Motivator bisnis nggak akan bertanggung jawab atas hidup anda ketika anda nggak bisa makan karena bangkrut akibat berbisnis modal nekat. Teman lama yang memprospek MLM ke anda pasti nggak akan menghubungi atau silaturahim kalau nggak ada maunya, kan? Dia juga nggak akan tanggung jawab dengan resiko terburuk ketika anda memutuskan keluar kerja dan terjun mengurus bisnis MLM.

 

 

Jadi, kalaupun memang ingin keluar kerja, sekali lagi pastikan keluar dengan kesadaran penuh & persiapan yang matang. Terutama ilmu. Pastikan sudah punya rencana tentang apa yang akan dilakukan, dan bagaimana cara merealisasikan rencana itu.

 

 

3. Bisnis itu bisa berjalan sendiri.

Kalau teman-teman ke Bandung, mampirlah ke warung Es Shanghai Fadhillah. Ada dua warung es Shanghai Fadhillah ini. Keduanya ada di Jl.Tubagus Ismail. Warungnya tampak biasa aja. Tak ada yang istimewa dari penampilan warung ini. Tapi pengunjungnya jangan ditanya ramenya. Warung ini nyaris tak pernah sepi. Apalagi kalau sudah masuk bulan Ramadhan. Mulai jam 4 sore, orang sudah mulai mengantre untuk membeli.

 

Kalau anda melihat seorang bapak agak tua, agak gendut, berjenggot lebat, pakai kaos oblong, pakai sendal jepit dan nongkrong di pinggir jalan sambil merokok dan ngobrol dengan pedagang kaki lima disekitar sana, bapak itu adalah pemilik dari warung ini.

Bapak ini benar-benar tampak seperti pengangguran. Dia nyaris tak pernah terjun langsung mengurusi warungnya. Yang saya hitung, ada sekitar 10 orang karyawannya yang mengurusi warungnya. Pemiliknya tinggal terima duit.

 

 

Bagaimana bapak itu bisa meninggalkan warungnya dan tinggal terima duit?

Jawabannya hanya satu kata ; SISTEM. Apa itu sistem? Sederhananya, sistem adalah aturan, alur kerja dan lainnya, yang membuat bisnis bisa berjalan secara efektif & efisien, dan tanpa perlu kita yang mengerjakannya.

Sistem akan membuat sebuah perusahaan bisa berjalan dengan otomatis. Sekecil apapun perusahaannya. Meski hanya sebuah warung es shanghai.

Nah, kalau bapak tua itu saja bisa membuat sistem di perusahaannya, maka teman-teman pun pasti bisa. Kalau bapak pemilik warung itu bisa nongkrong di pinggir jalan karena warungnya sudah punya sistem, maka anda bisa nongkrong di kantor dan bisnis anda berjalan dengan sistemnya.

 

Apalagi kalau bisnis anda berbasis online, wah, jauh lebih mudah membuat sistemnya. Itu yang saya ajarkan di kelas online “Build Your Online Business” (BYOB). Jadi, jelas ya, sistem yang kita buat di bisnis kita memungkinkan kita membiarkan bisnis berjalan sendiri. Kita hanya perlu mengawasi saja. Jadi, JANGAN MAU RESIGN !

 

 

Salam…

 

Ingin ngobrol dengan saya? Sila follow saya di twitter @JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply