It’s Not A Problem, It’s A Challenge

No comment 696 views

Anak saya yang kedua, Shillan. Saat ini usianya 2 tahun kurang. Yang satu ini cenderung butuh effort lebih besar untuk membuatnya melakukan sesuatu yang kita inginkan. Kata ibu saya, “lebih nampak bataknya!”

Sehingga, saya dan istri sering harus berpikir panjang kali lebar nan kreatif untuk untuk membujuknya agar mau melakukan sesuatu. Saya berpikir, bahwa anak ini kelak jadi muslimah yang cerdas yang dengan kemampuan linguistiknya mampu membela agamanya. Ah, ini sih doa bapaknya. Mohon diaminkan saja ya pemirsa.

Misal : kalimat, “Sini Shillan..pakai dulu bajunya!” Nggak akan terlalu efektif untuk Shillan. Dia nggak akan peduli. Lalu dia berlari menghindar kesana kemari tanpa pakai baju. Biasanya emaknya sibuk mengejarnya.

 

Dalam ilmu Neuro Linguistic Programming (NLP) yang biasanya saya ajarkan di kelas MTM, ada sebuah bahasan tentang bagaimana menguasai motivasi manusia. Di NLP, kita mengetahui bahwa manusia punya tipe motivasi yang berbeda untuk melakukan suatu tindakan. Saat kita mengetahui & menguasai tipenya, akan sangat memudahkan kita untuk memengaruhinya. 

Saat ingin memengaruhi tipe-tipe motivasi ini, akan jauh lebih efektif jika seseorang bisa menerjemahkannya menjadi pola-pola kalimat tertentu. Kita perlu menemukan keyword dari tiap tipe motivasi. Temukan keywordnya, dan kita bisa memengaruhi seseorang dengan mudah. Termasuk anak.

 

kids

 

Nah, tentang Shillan, setelah saya eksplorasi dan membuat sedikit “eksperimen” padanya, ternyata gampang membuatnya melakukan sesuatu yang saya inginkan. Untuk konteks memakai baju, saya tinggal katakan,

“Ayo Shillan yang pakai sendiri bajunya..sini ayah bantu!” Lalu dia akan mendekat dan memakai bajunya sambil tertawa riang menunjukkan gigi geliginya yang belum lengkap.

Keywordnya adalah kata “sendiri”. Kata “sendiri” adalah keyword dari salah satu tipe motivasi yang dimiliki Shillan. Ini berlaku juga dalam konteks lainnya seperti saat dia sedang malas makan, heboh bolak balik naik turun tangga, mogok sikat gigi, dan lainnya.

 

Nah, jadi nggak ada cerita lagi kesulitan mengurus anak. Jadi nggak ada lagi kalimat yang terlontar dari lisan orangtua, “aaah…anak saya nggak bisa diatur!”, “Susah banget ngurusnya!” , atau malah yang lebih parah, “Ah, anak saya nakal. Nggak mau nurut!”

Sebagian orangtua cenderung lebih senang memberi stempel pada anaknya. Tanpa pernah menghadap ke cermin, dan bertanya, “kompetensi apa dari diri saya yang perlu ditingkatkan untuk mendidik anak?”

Mereka, lebih senang memberi stempel pada anaknya, tanpa mengerti dampaknya bagi perkembangan jiwa si anak kelak. Ketika orangtua senang memberi stempel pada anaknya, saya berpikir ini indikator bahwa mereka menganggap pengasuhan anak adalah masalah. Jika anak adalah masalah, untuk apa punya anak? Bagi kita, anak seharusnya menjadi penyejuk mata. Yang selalu membuat orangtuanya bahagia. Dan orangtua, punya peran sangat besar untuk menjadikan anak-anaknya penyejuk matanya.

Yang menjadi catatan pentingnya, tak ada anak yang dilahirkan menjadi masalah! Setiap anak dilahirkan bersih. Suci. Tanpa kesalahan apapun. Tanpa cela apapun. Orangtuanya lah yang membentuknya menjadi sebuah bentuk tertentu.

Ini sesungguhnya soal kemauan untuk belajar kok. Apakah kita punya mental pembelajar ataukah tidak. Itu saja.

Jika untuk urusan pekerjaan dan mencari penghasilan kita rela menghabiskan uang puluhan juta untuk belajar di universitas, seharusnya untuk pendidikan anak yang menentukan urusan akhirat, kita juga bisa lebih serius belajar lebih banyak.

Mengurus anak bukan masalah kok. It’s not a problem, it’s a challenge!

Yang penting, pahami ilmunya!

 

Salam

Ingin ngobrol dengan saya di twitter? Sila berkunjung ke @Jendralgagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.