It’s How You Said It!

No comment 1757 views

Beberapa waktu lalu saya sharing tentang covert selling di sebuah komunitas yang diinisiasi oleh salah seorang alumni training saya. Salah satu komunitas penjualan yang sedang booming di Indonesia. Berhubung sharingnya gratisan, jadi sharingnya ya cuma “kata pengantar” saja. :p

Tapi yang bikin saya bengong, ketika teman-teman yang ada di komunitas itu langsung praktikkan “kata pengantar” covert selling ini ke penjualan mereka, lha kok pada ngasi testimoni berhasil, laris, laku, closing dan sejenisnya. Saya takjub sendiri melihatnya.

 

 

Testi 1

 

Testi 2

Note : CS = Covert Selling Klik gambar untuk memperjelas.

Sambil masih bengong beberapa hari setelah acara sharing, saya sampaikan ke founder komunitas itu, “Saya bingung, saya kan nggak ngajarin apa-apa ke mereka, tapi kok pada closing ya?”. 

Hingga saat ini saya masih  berpikir, mereka yang baru tahu dan memraktikkan “kata pengantar” nya saja sudah bisa laris manis, apalagi kalau mereka pahami konsep covert selling seutuhnya ya! Mungkin itu juga sebabnya sudah banyak teman yang mendesak saya membuat sebuah kelas covert selling.

 

Sampai akhirnya saya teringat sebuah prinsip dalam covert selling. Salah satu prinsip paling penting dari covert selling berbunyi : “It’s Not What You Said, It’s How You Said It”. Ya, ini bukan tentang apa yang kita katakan. Ini tentang bagaimana kita mengatakannya. Apa yang kita katakan, akan cerita tentang konten. Sedangkan bagaimana kita mengatakannya, akan cerita tentang cara, momentum, dan sebagainya.

Ini alasan kenapa kita tak perlu terlalu peduli dengan copywriting yang njelimet. Kata-kata apa yang harus ada dan tak boleh ada. Kalimat yang harus begini harus begitu. Biasa saja. Kita tak terlalu memusingkan konten iklan. Karena apapun kontennya, insyaAllah LARIS ! Yang penting, pahami konsepnya, lalu pahami aturan pakainya.

Memahami aturan pakainya, akan membuat apapun yang kita tuliskan akan tak tampak sebagai iklan. Semakin tepat caranya, semakin tersembunyi iklannya. Semakin tersembunyi iklannya, semakin dekat pada closingnya.

Masih pusing mikirin isi iklan yang bagus? Percayalah, sesungguhnya calon customer-mu itu nggak suka di-iklan-i !

 

Salam ngumpet!

Ngobrol juga dengan saya di Twitter @Jendralgagah, dan Facebook Jendral Nasution

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply