Your Intention Creates Your Attention

No comment 762 views

Episode Udin

Drop Out

 

Udin baru saja keluar dari ruangan dosennya. Raut mukanya masam. Tampak ada sesuatu yang amat berat bergelayut di benaknya. Dilangkahkannya kakinya menuju masjid kampus. Sesampainya di masjid, segera ia berwudhu. Pelan sekali ia berwudhu. Dibasuhnya wajahnya sepenuh hati. Seolah ingin melunturkan beban berat yang ada di kepalanya saat itu. Usai berwudhu, ia shalat sunnah dua rakaat. Lantas mengambil mushaf Al Quran kecil dari tasnya. Sudah jadi kebiasaan Udin, setiap Ramadhan ia selalu bertekad pada dirinya takkan membuang sedetikpun waktunya untuk aktifitas yang tak punya manfaat.

 

Baru satu halaman mushaf dibacanya, seseorang duduk di sampingnya. Udin menghentikan bacaan Al Qurannya.

“Assalamualaikum…” sapa Kasrun. Teman dekat Udin yang saat ini bekerja di sebuah perusahaan properti. Kasrun memang lebih dulu lulus kuliah dari Udin sehingga bisa lebih dulu kerja.

” Waalaikumsalam. Kok tau aku disini Srun? ” Tanya Udin.

” Firasat saja. Nyari kamu itu kan gampang, kalau ndak di perpustakaan ya pasti di Masjid.”

” Ah, benar. Firasat orang beriman dan shalih itu memang banyak benarnya.”

” Ndak usah memuji begitu.. kamu mau kutraktir apa? haha..”

” ge-er kamu Srun! haha..”

” Jadi gimana hasil konsultasi dengan dosenmu? ” tanya Kasrun. Raut wajah Udin berubah lagi menjadi sangat serius.

 

” Aku bingung sekali Srun. Aku sama sekali sudah nggak punya biaya untuk melanjutkan kuliah. Uang tabunganku hanya bisa untuk bertahan hidup, termasuk untuk membantu orangtuaku. Selama ini uang kuliahku juga dari hasil jualan online. Tapi tentu hasil penjualanku belum mencukupi…”

” Din..aku minta maaf ya..”

” Minta maaf untuk apa? ”

” Aku belum bisa membantumu. Andai aku punya uang…”

” Ah, kau ini. Tak perlu berpikir begitu. Ini takdir kehidupanku. Aku yang harus memperjuangkannya. Aku sudah berterima kasih kau mau mendengarkan masalahku ini..”

” Jadi, apa rencanamu selanjutnya?”

” Sampai saat ini masih seperti rencana awal. Kalau tak sanggup membayar biaya kuliah, terpaksa aku harus berhenti di tengah jalan. Sampai suatu saat nanti ada rezeki untuk melanjutkan kuliah.” Jawab Udin mantap. Meski dengan suara yang sedikit bergetar. Berat sekali ia menghentikan kuliahnya. Udin adalah pemuda yang sangat serius menimba ilmu. Berhenti dari kuliahnya, itu keputusan yang luar biasa berat untuknya.

***

6 bulan kemudian…

Udin sedang mengangkat kotak-kotak sepatu yang akan dikirim. Ada sekitar 15 pesanan sepatu yang akan dikirimnya hari ini. Satu ke Aceh, dua ke Medan, dua ke Padang, lima ke Ambon dan sisanya ke Papua.

 

” Kalau sudah dikirim, langsung ke sini lagi ya pak..” katanya kepada pak Santo. Karyawan yang biasa membantunya mengirim barang. Baru sebulan ini pak Santo bekerja pada Udin. Sebenarnya Udin belum terlalu butuh karyawan sebagai kurir. Ia masih bisa mengerjakan sendiri kalau hanya mengirim barang. Apalagi, penghasilan Udin jelas berkurang ketika ia harus menggaji karyawan. Tapi Udin kasihan dengan pak Santo. Tempat kerja pak Santo sebelumnya bangkrut. Pak Santo terpaksa berhenti kerja. Sementara beliau harus menghidupi anak istrinya. Pun sebenarnya, upah yang diberikan Udin tak cukup untuk menghidupi keluarga pak Santo. Tapi lumayanlah daripada tak ada sama sekali.

Hari demi hari penjualan sepatu Udin cenderung meningkat. Meski belum terlalu besar. Udin terus belajar meningkatkan kompetensi penjualannya dari macam-macam buku & pelatihan bisnis.

Saat sedang santai, handphonenya memekik, ada sebuah pesan masuk ke handphonenya. Dari ustadz Ahmad.

 

” Din, kamu sudah siap menikah kan? Nanti malam datang ke rumah saya ya.” 

 

Jantung Udin mendadak berdegup lebih kencang. Kenapa tiba-tiba Ustadz Ahmad menanyakan kesiapan menikah? Usia Udin memang sudah sangat pantas untuk menikah. 25 tahun. Tapi Udin tak berani membayangkan akan menikah dalam waktu cepat. Udin tak berani membayangkan pernikahan terutama sebab kondisi ekonomi yang jauh dari mapan. Ia masih harus membantu keluarganya. Ia masih punya dua orang adik yang harus dibantu biaya sekolahnya. Ngeri ia membayangkan pembicaraan pernikahan.

Tapi kali ini ustadz Ahmad yang menanyakannya langsung. Ustadz yang sangat diseganinya. Selama ini beliau belum pernah membicarakan pernikahan sedikitpun dengan Udin. Artinya ini sangat serius.

Malam harinya Udin meluncur ke rumah ustadz Ahmad.

 

***

 

Episode Maya

Prinsip

Gadis manis berkerudung merah muda itu baru saja selesai membereskan berkas di meja kerjanya, sampai sebuah getaran panjang mampir di saku blazernya. Ada telepon. Diliriknya layar handphonenya, dari Eva.

” Assalamualaikum. Ada apa neng?”

” Waalaikumsalam. Kamu masih di kantor?”

” Masih. kenapa?”

” Ntar pulangnya ketemuan ya. Di cafe biasa.” klik! Belum sempat Maya menjawab, sambungan teleponnya sudah ditutup.

” Dih! nih anak…” gerutu Maya.

Setelah membereskan semua berkas kerjanya, Maya keluar dari kantornya. Ia berjalan menuju tempat parkir. Maya membuka pintu sedan merahnya. Dan dalam waktu singkat sudah meluncur ke cafe.

Sesampainya di cafe, terlihat seorang gadis dengan kerudung hijau sedang menyeruput segelas hot chocolate.

” Kamu yakin mau melanjutkan proses perkenalan dengan dia May?” tanya Eva pada Maya. Beberapa hari lalu Maya ditawari oleh tantenya untuk menikah. Tapi karena Maya belum mengenal calonnya, Maya meminta informasi lengkap dari tantenya. Setelah mendapat informasi lengkap dari tantenya, Maya memutuskan ingin mengenal calonnya itu lebih jauh.

 

” Emang kenapa, kok pertanyaanmu kayak nggak percaya gitu?”

” Kamu itu lulusan S3 May, doktor! Dan lelaki yang belum kau kenal ini cuma lulusan SMA. Kamu yakin kuat malu kalau nanti dia jadi suamimu?”

” Malu? hubungannya apa? Kenapa aku harus malu?”

” Emang kamu nggak malu punya suami cuma lulusan SMA? Kamu kan doktor May..doktor!”

” Hubungannya apa kalau aku doktor, punya suami lulusan SMA dan aku harus malu? ”

” Ya, kebanyakan orang kan pasti begitu May.. jomplang begitu loh!”

” Oh, itu kan kebanyakan orang. Kalau aku nggak seperti kebanyakan orang, boleh kan?”

” Aneh kamu May!” Eva geleng-geleng kepala.

 

” Va, kamu inget kan, bagaimana Rasulullah mengajarkan memilih jodoh? Adakah ajarannya seseorang harus menikah dengan seseorang yang tingkat pendidikannya tinggi? ”

” Ya nggak sih..”

” Adakah aturan di agama kita, bahwa seorang doktor harus menikah harus dengan doktor lagi? ”

” Bukan begitu maksudku, tapi masa iya level pendidikannya terlalu jomplang begitu May? Cari yang sarjana lah minimal. ”

” Kenapa aku harus cari yang sarjana Va? ”

” Ya supaya obrolan kalian nyambung lah. Kalau intelektualitas kalian seimbang, kalian kan bisa… ”

 

” Hop! Gini Va..” Maya mengangkat tangannya. ” Aku ngerti arah pembicaraanmu. Intinya, menurutmu level pendidikan itu akan langsung berpengaruh pada intelektualitas & kemampuan berpikir kan? ”

” Ya begitu deh..”

” Kalau begitu, persoalannya bukan pada level pendidikan. Karena intelektualitas & kemampuan berpikir, tak selalu harus dibentuk oleh level pendidikan. Aku banyak menemukan teman-temanku yang doktor, rumah tangganya berantakan karena mereka tak punya kemampuan menyelesaikan masalah yang menurutku sederhana. Jadi level pendidikan sama sekali bukan jaminan. Kita tahu bahwa IQ tak 100% menjamin kebahagiaan hidup. Ada EQ dan SQ yang juga berpengaruh. ”

 

“Jadi soal intelektualitas, aku cukup perlu tahu seberapa tertarik ia pada ilmu, berapa buku yang dibacanya dalam sebulan? siapa teman-temannya? dan apa pekerjaannya? Bagiku itu sudah cukup menjadi parameter intelektualitas seseorang. Yang paling penting, calon suamiku wajib seseorang yang punya pemahaman keIslaman yang baik. Kalau pemahaman keIslamannya baik, maka intelektualitasnya insyaAllah aman. Karena Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. ” sambung Eva.

” Oke, fine! Bagaimana dengan pekerjaannya? Kamu nggak masalah punya suami yang nggak punya penghasilan tetap?”

” Orangtuaku saja tak masalah dengan itu. Apalagi aku. Ayahku justru berpesan, bahwa tak perlu mengkhawatirkan rezeki. Mengkhawatirkan rezeki itu salah satu tanda kelemahan iman. Bagiku, ketika calon suamiku punya mental pekerja keras, itu sudah sangat cukup. Karena ia takkan mungkin membiarkan istri & anak-anaknya kelak mati kelaparan. ”

***

Episode Udin

Biodata

 

Udin duduk di ruang tamu sambil melihat-lihat koleksi buku ustadz Ahmad. Sepulang tarawih tadi, Udin langsung berangkat ke rumah ustadz Ahmad. Sejenak kemudian, seorang pria gagah dengan jubah putih dan janggut tebal muncul dari arah dapur. Ustadz Ahmad, lelaki berwajah putih bersih dan bermata teduh itu berjalan ke arah Udin membawa nampan berisi dua gelas teh hangat & setoples kacang.

” Ayo Din.. sambil diminum tehnya. Mumpung masih hangat..”  kata Ustadz Ahmad. Udin mengangguk sambil menyunggingkan senyum. Ia mengambil gelasnya, perlahan ia menyeruput teh hangat yang sangat harum itu.

 

Pikirannya diselimuti berbagai pertanyaan saat ini. Tentu terkait titah ustadz Ahmad kepada dirinya siang tadi. Ustadz Ahmad adalah guru yang sangat dihormati oleh Udin. Ustadz Ahmad mengajarkan banyak hal tentang Islam selama ini kepada Udin. Udin memang tak menjadi santri di pesantren yang dikelola Ustadz Ahmad. Tapi karena kesungguhan Udin belajar Islam, ustadz Ahmad menganggap Udin sebagai santrinya juga. Udin menanti Ustadz Ahmad memulai lebih dulu pembicaraan mengenai pernikahan yang tadi siang disinggung ustadz Ahmad.

” Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa saya tiba-tiba membicarakan pernikahan kan?” tanya Ustadz Ahmad seperti bisa membaca apa yang dipikirkan Udin.

” Hehe..iya ustadz. Soalnya tiba-tiba..”

” Saya pikir, usiamu sudah sangat pantas untuk menikah. Sudah siap kan? ”

” Saya sudah siap menikah ustadz. Tapi kondisi finansial saya yang belum siap. Saya kadang masih ragu, apakah mampu menafkahi keluarga saya nanti…”

” Ah, kau ini seperti tak beriman saja. Yang penting kau bisa bekerja & menjemput rezeki. Itu sudah cukup menjamin bahwa kau bisa menafkahi keluargamu nanti…” Jelas ustadz Ahmad. Udin hanya tertunduk & menyimak kata-kata ustadz Ahmad.

” Hmm..baiklah ustadz. Saya siap insya Allah.”

” Oke, kalau begitu tak perlu lama-lama. Ada keponakan dari teman istri saya, seorang muslimah yang insyaAllah shalihah. Dia sudah siap menikah. Saya ingin mengenalkannya denganmu. Untuk sementara, ini biodatanya bisa kau pelajari dulu. Tentang dirimu sudah saya ceritakan lengkap kepada keponakan teman istri saya itu.” Ujar ustadz Ahmad. Beliau menyerahkan sebuah amplop coklat.

” Tak perlu buru-buru. Seminggu lagi, kau kabari saya keputusannya.

***

Seminggu kemudian.

Pertemuan

 

Udin sudah berada di sebuah masjid, di pesantren yang dikelola ustadz Ahmad. Ustadz Ahmad yang memintanya untuk datang ke pesantren. Usai shalat Asar berjamaah, Udin menghampiri ustadz Ahmad.

 

” Assalamualaikum ustadz..”

” Waalaikumsalam..sudah lama Din?”

” Sudah tadz, tadi ikut Asar berjamaah disini..”

” Oke, to the point saja. Bagaimana keputusanmu?”

” hmm..gimana ya..saya bingung mengatakannya ustadz. Saya pribadi tak mungkin menolak seorang gadis seperti yang ustadz tawarkan ini. Tapi, saya berpikir, apakah saya pantas untuk dia ustadz? Saya khawatir membuatnya malu ketika memiliki suami seperti saya yang hanya lulusan SMA, dan tak punya penghasilan yang jelas. Saya juga khawatir apakah keluarganya mau menerima saya. Saya berasal dari keluarga yang sangat amat sederhana. ” jawab Udin.

” Din…saya menawarkan gadis ini tidak pada sembarang orang. Saya berpikir keras, siapa gerangan lelaki yang pantas untuk gadis ini. Jujur, ada banyak nama selain dirimu yang sudah saya coret. Jadi, ketika saya memilihmu, artinya saya sangat yakin bahwa kamu adalah pria yang paling pantas untuk mendampinginya.” jelas ustadz Ahmad.

 

” Ya sudah begini saja. Kamu ikut saya sekarang ke kantor.” Sambung ustadz Ahmad sambil bangkit dari duduknya. Lalu berjalan keluar masjid. Udin mengikutinya dari belakang. Udin makin penasaran, “ada kejutan apa lagi ini?”.

Sesampainya di kantor, ustadz Ahmad mempersilakan Udin duduk. Udin duduk di sebuah sofa berwarna coklat muda dekat pintu. Ustadz Ahmad tampak memainkan handhonenya. Lalu mendekatkan ke telinganya. “Suruh kesini ya..” kata ustadz Ahmad kepada seseorang di telepon.

“Sebentar ya Din..” kata ustadz Ahmad.

Tak sampai lima menit, pintu kantor ustadz Ahmad diketuk. “Assalamualaikum..” sebuah suara di luar pintu memberi salam. Suara wanita. Ustadz Ahmad bergegas ke pintu dan membukakan pintunya. Dua orang wanita masuk. Udin mengenal yang masuk lebih dulu, istri ustadz Ahmad. Yang seorang lagi Udin tak kenal. Seorang wanita berkerudung biru, dengan setelan blazer. Khas orang kantoran.

 

“Silakan duduk…” Ustadz Ahmad mempersilakan duduk. Ustadz Ahmad duduk di sebelah Udin, dan istrinya ustadz Ahmad duduk di sebelah wanita berkerudung biru itu, di sofa yang dekat lemari. Membentuk huruf “L” dengan posisi duduk Udin & ustadz Ahmad. Tak berbasa-basi, ustadz Ahmad langsung membuka pembicaraan. Pertama, ustadz Ahmad menyampaikan maksud beliau berkumpul di ruang kantornya.

” Maya, ini yang namanya Udin. Dan Udin, ini yang namanya Maya. Biodata masing-masing sudah saling dipelajari ya? Jadi sekarang, saya tinggal memfasilitasi kalian untuk meyakinkan kelanjutan perkenalan ini. Silakan ditanyakan apa yang perlu ditanyakan. ” Jelas ustadz Ahmad. 10-20 detik berlalu, tanpa ada yang memulai.

” Baik, kalau tidak ada yang mau memulai, saya saja yang menyampaikan.” ujar ustadz Ahmad sambil senyum. “Begini…tadi saya berbincang dengan Udin. Bahwa pada dasarnya ia siap menikah. Hanya saja, ada yang mengganjal perasaannya. Ia khawatir, Maya akan malu memiliki suami yang hanya lulusan SMA. Dan ia juga khawatir keluarga Maya juga akan keberatan dengan latar belakang keluarga Udin yang sangat sederhana secara status sosial. Bagaimana Maya?”

 

” Tak ada masalah sama sekali. Bagi saya, level pendidikan sama sekali tak jadi masalah. Yang terpenting, saya ingin memiliki suami yang sangat bersemangat pada ilmu. Level pendidikan itu kan hanya soal pilihan & kesempatan, bukan kewajiban. Tentang latar belakang keluarga, saya dididik oleh orangtua yang sangat menerapkan nilai-nilai Islam. Bagi kami, keluarga yang pantas dimuliakan adalah yang paling taat kepada Allah SWT, jadi soal status sosial sama sekali bukan masalah bagi keluarga saya. ” Jelas Maya.

” Nah, sudah jelas ya Din?” tanya ustadz Ahmad memandang Udin. Udin tersenyum sambil mengangguk.

” Iya ustadz, insya Allah saya sudah mantap.” Jawab Udin dengan wajah sumringah.

***

Episode Udin

Badai

 

Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 wib. Udin masih sibuk di tempat pengrajin, memeriksa pesanan sepatu dari para reseller. Saat ini ia memegang 5 orang pengrajin yang diajak kerjasama. Sistem pembayarannya borongan. Artinya, pembayaran dilakukan per pasang sepatu yang dikerjakan oleh pengrajin. Tugas pengrajin adalah membuat sepatu dengan kualitas terbaik. Tugas Udin adalah memasarkan, dan menerima orderan.

Setelah memastikan pesanan sudah siap, Udin pamit pulang pada para pengrajin. Ia ingin segera istirahat. Tulang-tulangnya sudah seperti mau copot, karena beberapa hari ini ia kurang tidur.

Setelah sampai di rumah, ia mandi, shalat lalu makan. Kemudian berbaring di kasur meluruskan badannya. Baru saja ia mau terlelap, handphonenya bergetar panjang. Ada telepon. Dari pak Santo, salah seorang karyawan kepercayaannya.

 

“Mas Udin, ada kabar buruk. Barang yang akan dikirim ke Manado, hilang!”

 

” Hah! Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.. tunggu saya kesana pak.” Udin bangkit dari kasurnya. Ganti pakaian, dan meluncur dengan motornya. Sesampainya di lokasi, pak Santo menceritakan kronologis kejadiannya. Ada yang membongkar pintu saat pak Santo pergi. Paket ratusan pasang sepatu ke Manado dan beberapa paket kecil hilang semua.

Udin terduduk lemas. Wajahnya pias. Keringat mengucur dari dahinya. Habis harapannya! Nyaris 90% modal yang ia miliki berkumpul di paket-paket itu. Barang hilang sebelum dikirim, artinya ia harus menggantinya dengan yang baru. Pikirannya kacau. Darimana lagi ia dapat uang?

Darimana ia dapat uang untuk modal memproduksi lagi ratusan sepatu itu? Bagaimana ia harus menjelaskan ke pelanggan? Padahal, paket itu seminggu lagi paling lambat, harus sudah sampai di Manado. Ia sudah berpikir macam-macam. Tamat sudah riwayatnya.

Kalaupun ia harus pinjam uang, pinjam ke siapa? Kepercayaan pelanggan pun sudah hancur berkeping-keping.

 

Belum lagi satu urusan yang sangat membuatnya cemas, menikah!

Darimana ia akan dapat uang untuk menikah? Tadinya ia berharap, keuntungan dari paket-paket itu cukup untuk menambah biaya pernikahannya. Tapi, sekarang, ia tak punya apa-apa lagi. Tabungannya sama sekali tak bisa diandalkan.

Di sepanjang jalan pulang ia menangis terisak. Bahunya berguncang keras. Ia tak mau menyalahkan takdirnya. Tapi ujian ini terasa berat sekali bagi Udin. Orang lain mungkin akan biasa saja kehilangan puluhan juta dalam bisnis. Tapi bagi Udin, itu nyaris seperti kiamat. Berkali-kali ia menyeka air matanya. Sesampainya dirumah, ia buru-buru berwudhu. Lalu shalat 2 rakaat. Lantas mengambil mushaf Al Qurannya. Ia mencoba menenangkan perasaannya sebelum tidur.

Usai membaca Al Quran, ia merebahkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya rapat-rapat sambil berdoa, “bismika Allahumma ahyaa, wa bismika aamuut” Kepalanya sudah sangat berat. Tak lama, Udin sudah terlelap.

 

***

“Ustadz, kalau boleh saya ingin dipertemukan dengan Maya. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan.” tulisnya di SMS.

” Oke, Din. Sore ini kamu ke pesantren. Nanti Maya saya suruh ke pesantren juga.” jawab ustadz Ahmad. Ustadz Ahmad memang terkenal sangat serius ketika membantu murid-muridnya untuk menikah. Beliau nampaknya benar-benar memahami, bahwa menikah adalah urusan yang harus sangat dimudahkan dan disegerakan. Bukan malah dipersulit.

 

Sore itu Udin, Maya dan ustadz Ahmad sudah berkumpul di ruangan kantor ustadz Ahmad. Wajah ketiganya tampak sangat serius. Terutama Udin. Ia tak mampu menyembunyikan ketegangannya. Ia merasa jadi orang yang tak berguna. Ia sudah dapat kesempatan menikah dengan seorang gadis yang nyaris sempurna ; shalihah, keturunan keluarga yang baik, secara finansial juga baik, dan ia merasaa bersalah karena tak mampu menjaga kesempatan itu.

” Silakan Din, sampaikan apa yang mau disampaikan…” Ustadz Ahmad mempersilakan.

Udin berdehem. Membenarkan posisi duduknya. Ia tak berani menegakkan kepalanya. Ia hanya tertunduk sambil memainkan jari jemarinya.

” Begini, 2 hari lalu, saya mendapat musibah. Barang-barang dagangan saya yang akan dikirim, hilang dicuri orang.” Ujar Udin mencoba tenang. Meski nada suaranya masih terasa bergetar.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un..” jawab Ustadz Ahmad & Maya hampir berbarengan.

 

” Nyaris semua uang saya ada di barang-barang itu. Karena barang-barang itu hilang, saya harus menggantinya dengan memproduksi kembali. Dan artinya, alih-alih ada keuntungan, saya malah harus berhutang. Itupun saya belum tau akan mendapatkan uang darimana untuk modalnya.”

” Jadi, saya khawatir proses ini tak bisa dilanjutkan. Karena saya sudah tak punya dana apapun untuk biaya pernikahan.” Jelas Udin.

” Kalau masalahnya hanya biaya, tak usah dipikirkan..” komentar Maya.

” Nggak. Saya nggak mau pernikahan saya dibiayai orang lain. Termasuk dari pihak wanita..” potong Udin.

” Ya sudah, kalau begitu akad nikah saja, dan tak perlu ada pesta pernikahan yang menghabiskan biaya. ” sambung Maya.

” Rasanya tak mungkin. Karena pasti akan mengecewakan keluarga.” jawab Udin.

 

” Ehmm..kalau saya boleh mengusulkan, begini saja. Proses pernikahan ini tetap dilanjutkan, hanya saja waktunya diundur. Maya, bisa memberi toleransi waktu berapa lama pada Udin agar bisa menyiapkan dana? ” tanya Ustadz Ahmad

” Insya Allah 4 bulan ustadz.”

” Udin, kamu siap dengan waktu 4 bulan? Artinya, kalau setelah 4 bulan Udin belum bisa mengumpulkan dana, proses ini diakhiri. Setuju? ” tanya ustadz Ahmad lagi.

” Setuju ustadz.”

Ah…Udin lega. Setidaknya dia bisa bernafas kembali.

 

***

Episode Udin

Intention Attention

Semangat hidup Udin mulai berkobar. Sekarang yang ada dalam pikirannya adalah, bagaimana dalam 4 bulan, ia harus menyiapkan dana sekitar 40 juta untuk biaya pernikahannya. Meski Maya dan keluarganya mengatakan tak perlu memaksakan jikapun dananya tak ada, tapi bagi Udin, pantang jadi orang yang dikasihani.

Lebih baik batal pernikahan ini daripada ia tak bisa menegakkan kepala di antara keluarga pihak wanita. Hidup telah mengajarkannya agar memiliki harga diri. Ia sudah bersumpah pada dirinya, untuk menaikkan status sosial keluarganya. Sudah cukup orang memandang sebelah mata pada keluarganya.

Usai menyelesaikan 1 juz bacaan Al Qurannya siang itu, Udin kembali larut dengan laptopnya. Ia tak ingin main-main dengan Ramadhannya kali ini. Tilawah Al Qurannya harus menembus target 2 juz per hari. Sehingga minimal ia bisa 2 kali khatam selama Ramadhan. Sesibuk apapun ia harus memaksakan membaca Al Quran.

 

Udin sedang mengerjakan sebuah strategi yang ia yakini bisa mencapai targetnya. Untuk mengganti ratusan sepatu yang hilang itu, sudah bisa ditangani. Soal dana, ada teman Kasrun yang mau berinvestasi untuk proyek sepatu ke Manado itu. Saat ini sedang proses pengerjaan. Kepada pelanggannya Udin sudah menjelaskan kejadiannya,dan minta keringanan waktu dari pelanggan. Syukurnya pelanggannya sangat memahami kondisi Udin, dan memberikan Udin waktu sekitar sebulan masa pengerjaan pesanan.

Sekarang ia harus memikirkan cara memperbesar kapasitas produksi & meledakkan penjualannya. Untuk produksi ia sudah mengumpulkan sekitar 10 orang para pengrajin tambahan. Untuk penjualan ada beberapa strategi yang sedang dikerjakannya. Targetnya 1 bulan omzet harus tembus 170juta.

Sedang asyik mengetik di laptop, handphonenya berbunyi. Ada telepon. Udin melihat di layar siapa yang memanggilnya. Kasrun rupanya.

” Assalamualaikum Srun..” sapa Udin

” Waalaikumsalam. Din..sore ini ada acara? Aku mau mengajakmu buka puasa bareng. Ada temanku dari Singapura ingin berkenalan.”

” Oke, siap. Insya Allah aku bisa. Dimana?”

” Di cafe biasa ya, jam 17.00. Ngobrol dulu sebelum berbuka.”

” Oke.”

” Assalamualaikum”

” Waalaikumsalam.”

klik!

 

Sebelum jam 17.00 Udin sudah ada di cafe menunggu Kasrun, sahabatnya itu. Sekitar 5 menit kemudian. Terlihat dua orang anak muda datang, yang satu berpakaian santai, yang satu lagi berpakaian rapi khas eksekutif muda. Yang satu lengannya digulung dengan dasi masih menempel di leher. Itu Kasrun. Seorang lagi berkaus kerah semi formal dengan celana jeans dan sepatu semi boot. Ini mungkin temannya Kasrun yang ingin dikenalkan pada Udin.

“Assalamualaikum.. udah lama Din?”

” Waalaikumsalam. Baru kok. Ayo duduk.”

” Din, ini kenalkan temanku yang kuceritakan tadi. Namanya Fikri. Fik, ini temanku yang pengusaha sepatu itu.” Keduanya bersalaman, saling menyebutkan nama.

 

Obrolan mulai mengalir, tentang pekerjaan, keluarga dan lain sebagainya. Fikri orang Indonesia yang sudah lama di Singapura. Ia punya semacam outlet distro fashion di Singapura. Rupanya dia sedang mencari informasi tentang sepatu. Saat ia bertanya pada Kasrun, langsung keluarlah nama Udin. Fikri punya jaringan pengusaha distro di Singapura. Dan sekarang, permintaan pasar untuk sepatu sedang sangat tinggi. Sedangkan di Singapura mereka kesulitan mencari produsen sepatu. Kalaupun ada, harganya luar biasa mahal. Jadi Fikri berpikir untuk mengambil sepatu dari Indonesia.

” Insya Allah saya siap..”

” Oke, kalau begitu. Oya, ada contoh sepatu yang mas Udin bikin?”

” Wah saya nggak bawa. Ada juga ini nih!” Udin mencopot sepatu boot yang dipakainya. Fikri mengambil dan melihat-lihatnya.

” Keren ini ! Kalau disana, sepatu begini bisa mencapai 2juta kalau dirupiahkan. Oke deh, insyaAllah untuk awal kita garap 500 pasang sepatu dulu.”

” Harganya bagaimana? ”

” Harga tak ada masalah. Saya yakin mas Udin sudah ngasi harga paling cantik untuk saya. Katalog saya kirimkan sekarang ke email. Nanti malam saya transfer DP..”

” Wah, udah deal nih..pesen minum untuk buka puasa juga belum..” komentar Kasrun. Mereka tertawa.

Keesokan harinya, Udin langsung mengeksekusi pesanan dari Singapura. Ia minta waktu 1,5 bulan untuk menyelesaikan 500 pasang sepatu. Karena dirasa kurang tenaga pekerja, akhirnya ia mengerahkan pengrajin tambahan untuk membantu membereskan pesanan agar tepat waktunya.

***

4 Bulan kemudian.

Hari ini Udin akan bertemu lagi dengan Ustadz Ahmad dan Maya, menjelaskan kelanjutan proses menuju pernikahan mereka. Udin duduk di posisi biasa ia duduk.

” Bagaimana Din? ”  Ustadz Ahmad membuka pembicaraan. Langsung ke inti pembicaraan.

” Saya sudah berusaha sekuat tenaga ustadz. Saya juga sudah mencoba segala macam cara. Tapi..” Udin mencoba menjelaskan. Suaranya berat dan perlahan sekali ia mengucapkannya. Wajahnya datar sambil tetap menunduk. Maya tampak tak sabar, ia mengamati ekspresi wajah Udin.

“Tapi apa? ” Maya menyambar. Lalu ia tampak salah tingkah setelah bertanya itu.

” Tapi saya belum tau, apakah minggu depan orangtua Maya ada di rumah atau tidak?”

” Maksudnya? ”

” Saya dan orangtua saya, mau datang melamar..” jawab Udin datar.

” Alhamdulillaaahh..” sahut ustadz Ahmad dan Maya serempak.

” Ah..kamu Din. Bikin jantungan saja! Sekarang juga saya bilang ke orangtua Maya agar bersiap-siap untuk tamu istimewa yang mau datang minggu depan..” Ujar ustadz Ahmad. Maya mencoba menahan ekspresi bahagianya. Mata mereka bertemu. Maya tersenyum. Manis sekali.

***

intention

 

Epilog 

Sore hari di sebuah cafe di sudut kota. Udin menyeruput kopinya. Kasrun di depannya tak sabar menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Udin.

” Jadi, ternyata benar janji Allah, bahwa tak mungkin Allah menelantarkan hambaNya yang ingin menyempurnakan agamanya dengan menikah. Tugas kita memang hanya berusaha bertaqwa kepada Allah, lalu biarkan Allah yang mengatur skenario dan memberikan takdir kehidupan terbaik. Biarkan Allah mengatur dari arah mana Allah akan memberikan rezekiNya.

 

” Secara sunnatullah, aku percaya konsep “Your intention creates your attention” dalam keilmuan mind technology, bahwa niat kita akan membuat panca indera kita menjadi sangat sensitif untuk mendeteksi peluang-peluang yang ada. Niat kita akan mengarahkan tindakan kita menuju sesuatu yang kita niatkan. Aku benar-benar seperti orang kesetanan kerja waktu itu. Satu saja yang ada di kepalaku saat itu; Aku ingin menikah. Benar ternyata pepatah “where there’s a will, there’s a way” itu. ”

” Sejak bertemu dengan Fikri kemarin dan membereskan pesanannya, peluang lainnya tiba-tiba bermunculan di depan mata. Aku menemukan strategi untuk mengoptimalkan para reseller di berbagai kota, sehingga pesanan mereka jadi membanjir. Saat ini aku punya 30 orang reseller. Rata-rata penjualan mereka bisa mencapai 50 pasang sepatu per bulan. Jadi aku produksi 1500 pasang sepatu setiap bulan.” Jelas Udin.

” Harga sepatumu 300 ribuan kan? 1500 pasang x 300ribu berarti 450 juta dong? Edan kamu Din!”

” Hehe..Alhamdulillah.”

Sang mentari beranjak meninggalkan mereka, memenuhi tugasnya menyinari belahan bumi Allah lainnya. Kumandang Azan maghrib yang bersahut-sahutan menyudahi obrolan dua anak muda shalih itu. Mereka bergegas memenuhi panggilan Rabbnya….

-The end-

Selamat menyambut Ramadhan, mencatat target-target ibadah di dalamnya, dan mengukir kemenangan setelahnya.

Bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita. Mohon maaf atas segala kesalahan.

Untuk teman-teman Pasukan OAS, kelas Get Married, kelas BYOB, dan Kampoeng Kata-Kata, tulisan ini untuk kalian.

Selamat menjemput takdir kehidupan terbaik!

Salam hangat

Jendral

Sila berbincang dengan saya juga di twitter @JendralGagah

 

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.