CRACKING SALES

No comment 593 views

Jadi, ceritanya suatu hari saya sedang mengobrol di pinggir jalan raya dengan teman saya. Biasa obrolan tukang kaos.

Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba sebuah mobil jalan menepi mendekati tempat saya berdiri.

Setelah mendekat, si pengemudi membuka kaca jendela.

Rupanya pengemudinya seorang ibu berusia sekitar 45-50 tahun-an. Katakanlah namanya bu Dina.

 

” Dik..kenal pak Anto (bukan nama sebenarnya) yang tukang bikin kaos?”

” Wah, nggak kenal bu. Alamatnya dimana bu? ”  tanya saya

” Alamatnya katanya di sekitar sini. Duh, ini orang nggak bisa dihubungi lagi. Di telpon nggak bisa terus. (Sambil sibuk utak-atik hape)”

” Ibu cari tukang kaos? ”

” Iya, ini harus segera dikerjakan pesanan kaos saya ini. Waktunya sudah mepet..bla..bla..

(beliau heboh sendiri bicara tentang orderan kaosnya yang harus segera dikerjakan. Masih sibuk utak-atik hape. Nampak bingung)

 

” Ini tukang kaos bu!” kata saya sambil menunjuk teman saya.

” Oya? gimana, bisa ngerjain kaos ini? aduh gimana ya? ini…bla..bla..bla..tunggu sebentar saya pinggirin mobil dulu atuh ya..”

Setelah bu Dina meminggirkan mobilnya, beliau turun membawa kertas-kertas dari mobil.

Kertas itu berisi gambar desain kaos yang akan dikerjakan.

Tadinya kami duduk di tembok pagar rumah orang. Tapi karena kurang nyaman, akhirnya saya usulkan pindah ke kantor seorang teman yang ada di dekat sana.

Kejadiannya terjadi sangat cepat. Kurang dari 5 menit.

 

Dan obrolan pun berlanjut. Orderan kaos sekitar 200 pcs berhasil diambil alih…

Di akhir obrolan, bu Dina berkali-kali mengucapkan terima kasih & meminta kami bersilaturahim ke rumahnya.

 

Beliau nampak bahagia karena satu masalahnya bisa terselesaikan.

***

Penjualan yang sangat singkat diatas, saya sebut dengan cracking sales.

 

Apa sebenarnya cracking sales itu?

Sederhananya, cracking sales adalah sebuah proses penjualan, dimana sang penjual memanfaatkan kondisi emosional tertentu dari calon pembeli dari yang tadinya nggak berpikir membeli, hingga jadi membeli dari kita.

 

Apa yang sebenarnya saya lakukan pada kejadian diatas?

Ini beberapa poin yang jadi syarat penting untuk melakukan cracking sales. 

 

* Emotional effect

Dalam aksi cracking sales  itu, saya mengamati kondisi emosional bu Dina. Sejak awal, bahkan sebelum bu Dina menghentikan mobilnya dan menyapa saya, nampaknya intensitas emosi bu Dina memang sudah meningkat. Bingung. Dan mungkin ditambah sedikit panik karena orderan kaosnya harus segera diselesaikan. Sementara orang yang mau dihubunginya tak jelas dimana keberadaannya.

 

Dalam kondisi intensitas emosi yang meningkat itu, kita tahu bahwa kondisi ini adalah kondisi dimana area kriitis pikiran manusia tak terlalu aktif. Sehingga, dalam kondisi ini, seseorang bisa dengan mudah menerima saran dari orang di sekitarnya. Dan itu yang sebenarnya saya lakukan.

Pertanyaannya, darimana saya tau bahwa intensitas emosional bu Dina sudah meningkat?

Ya, benar! Dari ekspresi wajah & bahasa tubuh bu Dina.

 

*One Shoot Offering

Karena saya sudah mengamati kondisi emosionalnya, maka saya tinggal menawarkan sesuatu yang mungkin bisa membantunya. Tapi ada satu hal yang penting pada penawaran ini. Kebanyakan penawaran kan biasanya bersifat pilihan. Dalam kasus diatas, mungkin contohnya :

” Ibu mau tetap bikin kaos disana atau mau bikin kaos pada teman saya? “

Tapi yang saya lakukan adalah sebuah tembakan dengan pola bahasa embedded command(perintah tersembunyi), “Ini tukang kaos bu!”

Kalimat saya ini sebenarnya bukan penawaran. Karena biasanya sebuah kalimat penawaran berakhir dengan tanda tanya. Tapi kalimat saya berakhir dengan tanda seru. Artinya, secara implisit saya sesungguhnya sedang memerintah pada bu Dina untuk memesan kaos pada teman saya. Dalam Neuro Linguistic Programming yang saya ajarkan di kelas privat Mind Technology Mastery, kalimat saya ini adalah sebuah bentuk hypnotic language pattern. Pola bahasa yang punya efek hipnotik. Uniknya, orang yang mendengar kalimat ini sama sekali tak akan merasa diperintah. Kenapa? Karena sekilas hanya terdengar sebagai pemberitahuan.

Kalimat ini mengandung ambiguitas yang tinggi. Artinya, tak ada jaminan sama sekali bahwa calon pembeli akan membeli pada kita. Keputusan yang diambil oleh calon pembeli sangat tergantung dari pemaknaannya atas kalimat itu. Hanya saja, dalam kasus diatas, karena intensitas emosional bu Dina sudah meningkat, kalimat diatas besar sekali kemungkinannya dimaknai sebagai perintah bahwa dia harus memesan kaos pada orang yang saya tunjuk.

 

*UnConscious Competence

Satu hal yang perlu diketahui, kejadian cracking sales diatas sama sekali tidak disengaja.Artinya, saya sebenarnya tak menyadari apa yang saya lakukan. Saya tak dengan sengaja mengamati ekspresi wajah, bahasa tubuh hingga menebak kondisi emosional bu Dina. Saya juga tak dengan sengaja menyusun kalimat berpola embedded command lalu dengan sengaja mengucapkannyaSemuanya mengalir begitu saja. Saya juga baru menyadari melakukancracking sales setelah saya menceritakan kejadian ini pada teman saya yang lain.

 

Bahkan istilah cracking sales pun sebenarnya adalah karangan saya saja hehe.. Kalau anda cari di google, lalu bertemu dengan kalimat yang ada kata “cracking” & “sales” nya, dipastikan bermakna beda dengan cerita saya ini.

 

Jadi, poin pentingnya adalah, teknik cracking sales hanya bisa dilakukan oleh seseorang, jika seseorang sudah sangat terbiasa menjual. Karena teknik ini sangat mengandalkan kompetensi yang tak disadari lagi (unconscious competence). Artinya, kompetensi ini akan berjalan secara otomatis. Tanpa dipikirkan dengan sadar. Makanya saya bilang, dia mengalir begitu saja.Unconscious competence adalah sebuah kompetensi yang tak disadari lagi, karena kompetensi ini akan dilakukan secara otomatis oleh pikiran bawah sadar manusia. Persis seperti anda membaca tulisan ini. Anda tentu sama sekali tak menyadari lagi bahwa anda bisa membaca kan?

 

Itu beberapa syarat yang bisa saya ceritakan tentang teknik cracking sales.

Beberapa syarat lain agak sulit dijelaskan disini karena membutuhkan simulasi. Teman-teman alumni kelas privat MTM mungkin sudah bisa membayangkan apa saja syarat lainnya. Yang belum pernah ikut, mudah-mudahan kita bisa bertemu di kelas privat Mind Technology Mastery  untuk mendiskusikan apa saja syarat lain yang memungkinkan terjadinya cracking sales. 

 

So, siap melakukan cracking sales?

 

Salam crack!

@JendralGagah

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply