cintah

No comment 472 views
cintah,5 / 5 ( 1votes )

>>>.Cerita dimulai dari sekitar tahun 2006, saat sy nerbitin buku pertama sy disebuah penerbit Islami. Sy kenalan dgn seseorang.

>>>Seseorang ini yg slanjutnya jadi editor buku sy itu. Surprais skali sy waktu itu,pasalnya orang ini, salah satu penulis terkenal

>>>Yg senang menikmati novel Islami periode akhir 90an,sepertinya kenal dengan penulis ini. Seangkatan mbak @asmanadia dkk.

>>>Namanya mas We. Orangnya baiiiiik banget. Lembut, ramah, sopan sekali. Meski beliau adalah penulis senior,tak ada kesombongan.

>>> Entah gimana cerita awalnya, nampaknya beliau sudah percaya bgt ke sy. Beliau cerita kisah rumah tangganya..

>>>Beliau cerita, bahwa dia sudah bercerai dgn istrinya beberapa tahun lalu, karena sebuah sebab yg sangat fatal..

>>>Tadinya sy menebak, sebab yg sangat fatal itu adalah orang ketiga, ekonomi atau sejenisnya. Tapi rupanya tebakan sy salah.

>>> Menurut anda, sebabnya apa?

>>> Sebabnya,adalah.. “Beberapa kali sy mendapati istri sy meninggalkan shalat wajib dgn sengaja..” <-- ini sebabnya sodara-sodara!

>>>Saat ditanya alasannya, istrinya menjawab, “sibuk mengurus anak-anak..” Alasan yg menurut mas We sangat tak bisa diterima akal.

>>>Sudah bberapa kali diingatkan, dinasihati, sampai diultimatum, tapi tak ada perubahan. Akhirnya mas We memutuskan utk CERAI !

>>> Sama sekali bukan keputusan mudah bagi mas We utk berpisah dgn istrinya. Wanita yg bertahun-tahun menemani hidupnya.

>>>Wanita yg bertahun-tahun mengisi ruang hatinya, mendidik anak-anaknya, mengurus segala keperluannya..itu sulit sekali!

>>>Tapi mas We paham benar, ia harus mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Sesulit & seberat apapun keputusan itu.

>>> Dan mas We, mengambil keputusan yg sangat jernih. Baginya, nampaknya tak ada lagi cara, selain bercerai dari istrinya.

>>> Begini..nampaknya mas We paham sekali,apa resiko saat ia mempertahankan wanita itu menjadi istrinya. Sama sekali tak sederhana

>>>Jika mas We tetap bersama. Maka,selama istrinya terus meninggalkan shalat, selama itu pula mas We ikut menanggung dosanya!

>>>Dan mas We tak mau itu terjadi. Konyol sekali,ia harus menanggung dosa dari maksiat yg tak pernah ia lakukan.

>>>Bagi mas We, meninggalkan shalat dgn sengaja, adalah maksiat yg sungguh besar & tak bisa mendapat toleransi apapun!

>>>Mungkin ada sebuah pernyataan, “sepertinya mas We sudah tak mencintai istrinya, jd mudah sekali ia menceraikan istrinya!”

>>>Salah besar! Bukan keputusan mudah bagi mas We menceraikan istrinya. Beliau telah menunggu lama agar istrinya mau berubah..

>>>Dari mas We sy belajar banyak. Sekarang, sy baru paham apa itu #cintah sebenarnya. Cinta sejati itu memang tak memiliki!

>>>Karena saat seseorang merasa memiliki sesuatu, saat sesuatu itu hilang, maka ia pasti mengalami penderitaan yg panjang. #cintah

>>> Sungguh, #cintah itu selayaknyalah menggunakan #LogicalDecision. Bukan #EmotionalDecision. Cinta itu pakai logika sodara-sodara!

>>>Logikanya : 1.bahwa kita tak memiliki apapun di dunia ini. Semua hanya titipan. Jadi,tak perlu patah hati bila ada yg hilang. #cintah

>>> Logikanya : 2. Bahwa,tidak ada kecintaan pada makhluq yg menyamai apalagi melebihi kecintaan pada sang Khaliq. #cintah

>>>Mas We nampaknya benar-benar menghayati kisah Abdullah bin Abu Bakar yg sering kita bahas. Serupa, tapi tak sama kasusnya. #cintah

>>> Begitu kan kasusnya? Abdullah sangat mencintai istrinya. Karena ayahnya khawatir dgn sikap Abdullah yg berlebih mencintai ini.. #cintah

>>>…maka ayahnya menyuruh Abdullah utk menceraikan istrinya. Mudah bagi Abdullah? Jelas tidak. Tapi dia paham punya prioritas. #cintah

>>> Abdullah sadar, ayahnya menyuruhnya menceraikan istrinya utk mencegahnya agar tak kebablasan mencintai istrinya. #cintah

>>>Abdullah sadar, ia punya prioritas cinta. Kecintaannya pada Tuhannya,tentu diatas segalanya. Dan itu tak mungkin diganggu gugat. #cintah

>>>Begitupun nampaknya mas We. Ia sadar ulah istrinya ini bisa mengganggu prioritas kecintaannya. Maka,ia tak mau ambil resiko. #cintah

>>>.Yah..begitulah orang-orang beriman itu memaknai kisah #cintah nya. Mereka membingkainya dgn sangat cantik. Bingkai ketaatan pada Rabbnya.

>>> So, gimana kisah #cintah mu? Ingin memaknainya seperti apa? Ingin membingkainya dengan bingkai apa?

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply