Choice 2

1 comment 681 views
Choice 2,5 / 5 ( 1votes )

>>>Namanya Danu. Tahun 2002 dia menikah dengan seorang wanita yg dikenalnya selama 2tahun.

>>> Istrinya adalah seorang wanita karir. Berpendidikan tinggi. Cantik. Cerdas. Usianya 3 tahun lebih muda dari Danu.

>>>Awal menikah, kehidupannya sempurna. Danu menjadi lelaki paling bahagia di dunia. Karir melejit, keluarga harmonis..

>>>Hebatnya, meski wanita yg berkarir di perkantoran, istrinya selalu melayani Danu sepenuh hati. Terutama masak.

>>>Istri Danu tak mengizinkan pembantunya memasak utk Danu. Harus dia yg memasak utk suaminya.

>>>Danu bahagia sekali mendapat pelayanan luar biasa dari sang istri. Tak seperti teman-teman kantornya.

>>> Teman-teman di kantornya juga beristri wanita karir, tapi mereka hidup dari masakan pembantu.

>>> Ini yg membuncahkan kebahagiaan Danu. Dia merasa menang dari teman-teman di kantornya.

>>> Kebahagiaannya bertambah-tambah saat istrinya hamil. Senang sekali dia.

>>>Namun beberapa bulan kemudian, ada perubahan sikap pada istrinya. Istrinya terasa dingin saat berkomunikasi dengannya.

>>>Saat itu ia berpikir, mungkin karena sedang hamil,jadi hormonnya tdk stabil. Dia tak ambil pusing

>>> Menjelang kelahiran anak pertamanya, dia merasa istrinya semakin aneh. Semakin jarang ia mendengar istrinya tertawa.
>>>Istrinya mulai sering marah-marah. Istilahnya, from small thing to big thing. Urusan kecil selalu jadi urusan besar.

>>>Semua urusan bisa menjadi pemicu kemarahan bagi istrinya. Danu sering ingatkan kehamilannya. Istrinya tak peduli.

>>> “Kamu sedang hamil..jangan sering marah2..nanti janinnya stres kalo kamu marah-marah begitu..” Kata Danu.

>>>Tak sedikitpun istrinya menggubrisnya. Setiap urusan masih jadi pemicu kemarahannya.

>>>Hari persalinan pun tiba. Singkat cerita, istrinya melahirkan anak pertamanya dengan selamat. Ia senang sekali.

>>> Tapi yg membuatnya bingung, pasca melahirkan, belum ada perubahan sikap pada istrinya. Tetap dingin & emosional.

>>>Danu mulai uring-uringan melihat tingkah istrinya. Karena sikap istrinya yg tak bisa ditebak itu, ia mulai terpancing.

>>> Ia mulai meladeni kemarahan istrinya. Mereka mulai sering bertengkar. Bahkan hanya gara-gara popok. Semua di dramatisir.

>>>Puncaknya, 2 bulan setelah melahirkan, istrinya pergi. Istrinya hanya berkata mau ke salon. Danu menjaga anaknya dirumah.

>>>Tapi rupanya itulah pertemuan terakhir dengan istrinya. Sejak istrinya pamit ke salon itu, istrinya tak pernah kembali.

>>> Ya,tak pernah kembali lagi. Entah kemana. Danu tak bisa menghubungi nomornya. Istrinya bagai lenyap ditelan bumi.

>>> Berbulan-bulan Danu stres berat. Ia kebingungan. Seringkali tiba-tiba ia menangis. Lalu bicara sendiri seperti orang gila.

>>>Tapi untungnya kondisi itu tak bertahan lama. Ia mulai bangkit. Yg dibayangkannya hanya wajah anaknya.

>>>Demi anaknya ia harus tegar. Ia laki-laki, anaknya pun laki-laki. Ia tak mau mengajarkan kelemahan pada anaknya.

>>>Ia berpikir harus melanjutkan hidup utk masa depan anaknya. Ia tak boleh menyerah dgn kondisi yg menjepitnya ini.

>>>Ia pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Tapi tak mungkin ia lakukan. Ia hanya berpikir,siapa yg akan merawat anaknya?

>>> Ia berpikir,mengakhiri hidupnya justru menimbulkan masalah baru. Ia tahu itu dosa yg sungguh besar

>>>Ia sebetulnya punya banyak pilihan utk menghadapi takdirnya dengan kebodohan. Tapi ia tak memilih itu.

>>>. Ia memilih mengambil pilihan dengan kejernihan. Tetap bertahan, sesulit apapun kondisinya.

>>>Danu tentu tak pernah harapkan kondisi yg menimpanya itu.Tapi begitulah hidup. Selalu ada takdir yg tak sesuai dengan keinginan.

>>>Disanalah watak asli, kadar keimanan seseorang ditampakkan dengan sangat jelas. Saat seseorang dihadapkan dgn kenyataan pahit.

>>> Kita punya pilihan? Tentu. Kita punya banyak sekali pilihan tindakan utk hadapi kenyataan yg hadir di hadapan.

>>>Tanpa disadari Danu, sedikit/banyak ia pasti punya peran untuk menciptakan takdirnya hari ini.

>>>Bagaimana mungkin? Bukankah Danu tak pernah mengharapkan takdir ini datang kepadanya?

>>> Benar. Dan bukankah jika dulu ia menikahi wanita lain,atau tak menikahi istrinya itu, ceritanya akan berbeda?

>>>Siapa pula yg bisa menjamin, bahwa Danu tak pernah melakukan tindakan yg menstimulasi istrinya meninggalkan dirinya?

>>>Bukankah itu pula yg kita namakan takdir? Bukankah ia memang ujung dari apapun tindakan manusia?

>>>Jika si A tak pakai helm, lalu tabrakan dan kepalanya pecah,maka itulah takdirnya, meninggal dgn kepala pecah.

>>> Tapi,jika si A pakai helm, lalu tabrakan, patah tulang, lalu meninggal, maka itulah takdirnya. Meninggal dgn patah tulang

>>> Bahkan seseorang bisa “menentukan” dengan cara apa ia akan meninggal!

>>>Maka,cerdas sekali saat Danu tak terlalu peduli dengan takdir yg sedang menghampirinya.

>>>Agaknya Danu paham benar, bahwa tak semua takdir menyenangkan. Tapi semua takdir dariNYA pastilah yg terbaik.

>>> Bukankah menyenangkan/tidak itu hanya akibat dari persepsi seseorang akan sebuah kejadian?

>>> Jika Danu berpikir, “hidupku hancur, istriku meninggalkanku. Aku laki-laki yg gagal! ” Maka itu jadi sangat menyedihkan!

>>>Bagaimana jika Danu berpikir, “Ah,akhirnya aku tahu, siapa sebenarnya wanita yg telah kunikahi itu..ini jd pelajaran berharga..”

>>> Tentu akan beda perasaannya,bukan? Satu kejadian,punya kesempatan dimaknai dgn banyak makna.

>>> Lalu, bukankah tak mungkin DIA hadirkan kondisi yg tak sesuai dgn kekuatan manusia yg akan menghadapinya?

>>>”Saya tak kuat lagi menghadapi ini..” <-- apa yg membuatmu berpikir tak kuat? Kekuatan itu parameternya apa?

>>>Jika memang tak kuat, apa efek terburuk dari sebuah tekanan? Bukankah kematianlah yang paling buruk? Ada yg lebih buruk?

>>> Ya,kita punya banyak sekali pilihan utk hadapi takdir yg hadir. Termasuk berpikir bhwa apapun yg hadir adlah yg terbaik dariNYA.

>>>Pilihan tindakan itulah akan menentukan, seperti apa perasaan yg akan mendampingi kenyataan.

>>>Let’s enjoy your high quality life! -the end-

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini
  1. author

    Fa3 years ago

    Wah seperti yang saya rasakan dibulan Desember lalu, beda permasalahan tapi memang sempat membuat saya sangat down.

    Dan ya kalau kita salah memilih memang bisa terjerumus bisikan setan, tapi tak ada masalah yang tak ada hikmah nya, keyakinan dan keimanan akan ketentuan yang Allah tetapkan atas kita juga mempengaruhi bagaimana kita mengambil keputusan, bukankah begitu Jendral? 😀

    Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.