Choice 1

No comment 518 views
Choice 1,5 / 5 ( 1votes )

>>> Di suatu tempat, ada seorang ayah yg berprofesi sebagai tukang sepatu. Ia senang sekali dgn pekerjaannya ini.

>>>Anaknya pun senang sekali memperhatikan saat ayahnya membuat
sepatu. Suatu hari sang ayah mengajarkannya membuat sepatu.


>>> Saat itu anaknya baru berumur 9 tahun. Saat sedang belajar membuat sepatu, ada sebuah kecelakaan yang terjadi.

>>>Pisau yg yang dipakai untuk membuat sepatu tak sengaja menggores kornea matanya. Selaput beningnya lama kelamaan menjadi keruh.

>>>Celakanya, itu membuat infeksi dan merambat ke kedua matanya. Hingga akhirnya membuat kebutaan pada kedua mata sang anak.

>>>Ayahnya sedih sekali melihat kondisi anaknya itu. Tak mungkin lagi menyesali. Nasi sudah menjadi bubur.

>>>Waktu itu masih sangat sulit bagi seorang tuna netra untuk bisa membaca dengan nyaman.

>>> Anak tukang sepatu ini mendapatkan inspirasi dari seorang bekas perwira artileri Napoleon. Namanya Charles Barbier.

>>> Dalam pperangan Napoleon,Barbier mnciptakan tulisan sandi yg terdiri dari titik-titik & garis timbul yg dinamakan tulisan malam.

>>>Tujuannya, agar pasukannya tetap bisa membaca perintah yg ditulis dalam kegelapan malam, tanpa menggunakan penerangan.

>>>Anak tukang sepatu yg buta ini mempelajari bagaimana Barbier membuat tulisan malam itu. Ia mulai mencoba membuatnya.

>>> Pada tahun 1834, di awal usia 20tahun, anak tukang sepatu itu berhasil menyempurnakan ciptaannya.

>>>Sistem tulisan yg diciptakan anak tukang sepatu ini terdiri dari titik-titik timbul. Ia menggunakan enam titik domino

>>>Enam titik domino itu yg menjadi kerangka sistem tulisannya. Satu atau beberapa dari 6 titik itu divariasikan letaknya…

>>> Hingga membentuk sebanyak 63 macam kombinasi yg cukup utk menggambarkan abjad, angka, tanda-tanda baca, musik dll

>>>Siapakah gerangan anak tukang sepatu yg jenius itu?

>>> Ya, benar. Dia adalah Louis Braile. Seorang tuna netra yg menciptakan “huruf braile”

>>>Kawan..kita punya takdir hidup yang berbeda. Setiap takdir menuntut pilihan sikap.

>>>Takdir yang ada, punya 2 kemungkinan. Disukai atau tak disukai. tapi keduanya tetap akan hadir.

>>> Pilihannya,pun agaknya cuma 2, merutuki atau menikmati. Keduanya pilihan yg wajib diambil.

>>>Bahkan, tanpa dipilih pun, pilihan itu tetap akan terpilih dengan sendirinya.

>>>Braile, tentu tak menginginkan menjadi seorang tuna netra. Jika boleh, ia akan memilih untuk kejadian dulu tak pernah terjadi.

>>>Tapi karena sudah terjadi, ia perlu mengambil sikap. Akan mencaci maki takdir hidup itu & mengatakan bahwa Tuhan tak adil ..

>>> Atau menikmati kondisinya, dan tetap membuat prestasi dalam hidup.

>>> Dan Braile memilih yg kedua. Menikmati hidup & membuat prestasi untuk sejarah kehidupannya.

>>>Percayalah, tak pernah ada takdir hidup yang tak baik yg diberikanNYA pada kita.

>>> Kita mungkin tak menyukai takdir hidup yg hadir itu, karena kita memang tak mengerti apa manfaatnya bagi kita.

>>> Andai Braile tak pernah mengalami kecelakaan pada matanya, akankah dunia mengenal namanya? Ah, belum tentu.

>>>Takdir yang hadir itu, adalah yg terbaik untuk kita dariNYA. Nikmatilah !





Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply